Cerita di Balik Banjir….

Sudah seminggu berlalu, tapi masih menimbulkan trauma tersendiri. Banjir yang biasanya aku lihat di TV kini menimpahku. Sungguhbencana itu datangnya tidak pernah di duga, bisa pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Bahkan di tempat paling amanpun, jika ALLAH sudah menghendaki pasti akan terjadi. Sungguh Maha Besar ALLAH.

Hari itu, Sabtu sepulang kerja, setelah mandi aku dan seorang teman (anak bu kost) yang sudah menjadi soulmate ku semenjak di Bali berencana jalan-jalan, biasalah dia senang shopping dan aku biasanya selalu menjadi konsultant belanja dia :D

Setelah mandi, kami beardua dengan memakai motor menyusuri jalanan kawasan butik dan toko-toko baju, jika ada yang menarikkami berhenti dan melihat-lihat. Wah, dasar perempuan kalaulihat baju bagus..he he Berhubung aku lagi gak ada budgetm ya udah aku hanya melihat-lihat saja, sesekali mencoba (he he he) hu hu bener2 bikin sakit kepala jika menginginkan sesuatu dan tidak kesampaian :D

Kami melakukan window shopping, karena pada akhirnya hanya mendapatkan 1 jam tangan dan 1 potong baju kami meluncur pulang, sampai di rumah kira2 jam 10 an lebih, kami lanjutkan dengan ngerumpiin barang-barang yang tadinya kami lihat. Sungguh cuaca di luar masih sangat cerah, gemerlap bintangmasih menghiasi langit yang nampak biru.

Jam 12 an aku kembali ke kamar, karena kekasihku menelpon, kami mengobrol tidak begitu lama meski sebenarnya ingin, alasan dia sudah terlampau larut, ingin aku cepat istirahat, aku sey ngotot bilang gak apa, toh besuk hari minggu, aku bisa bangun siang.

Sekitar Jam 2 an kekasihku sms, kalau tidak salah aku yang sms dia duluan karena tiba-tiba hujan turun sangat lebat, aku takut. Hujan sebenarnya udah bulai jam 1 an tadi, tapi hanya rintik2 lalu berhenti. Kekasihku sempat sms bilang perasaannya tidak enak dan dia bertanya apa aku baik2 saja, aku bilang baik2 saja….(lupa kronologisnya).

Masih terasa baru terlelap, tiba-tiba kamarku di gedor oleh temanku(anak bu kost, teman jalanku).

” Mbak Banjir…” ucapnya sambil sibuk menaikkan barang-barang ke tempat yang tinggi, dengan sigap dan nyawa masih ngumpul setengah aku juga melakukan hal yang sama terhadap barang2ku. Setelah itu aku juga mulai menyelamatkan barang2 teman se kostku yang juga satu kantor sama aku, berusaha menghubunginya agar cepat pulang karena motornya juga sudah terendam air, tapi nomer dia sulit sekali di hubungi, di sms tidak membalas, di telp tdk bisa.

Aku hanya menatapi air yang terus turun dari langit itu, begitu deras. Hatiini sudah tiak karuan, aku mencoba menelpon dan meng-sms orang yang aku anggap bisa memberiku ketenangan, tp dia tdk mengangkat, mungkin dia masih tidur. Aku berusaha menenangkan diri sambil bercanda, bahkan update status FB (gila, yah?) :D

aku melihat jam, sudah jam 6 pagi, ah hari masih gelap dan air terus naik ke teras rumah yang kira-kira 50 cm lbh tinggi dari jalan. Air semakin naik, sampai jam 8an airnya mencapai 1,5 meter. Aku hanya menatap nanar genangan air berwarna kecoklatan itu dari atas motor(satu-satunya tempat tertinggi).

Di saat 2 anak ibu kost itu mulai ketakutan dengan senyum aku menenangkan mereka. Aku bilang:

” tidak usah takut, sebentar lagi hujan berhenti. Paling2 beberapa jam kemudian air akan surut kok…”

Ya, ALLAH padahal aku sendiri sedang dalam ketakutan. Aku terus berdzikir dalam hati, alhamdulillah hujan meredah beberapa saat hingga air menyurut kira-kira 20 cm, lalu aku sempat berjalan mengecek keadaan sekitar, semua orang panik dan yang aku herankan yang mereka panikkan bukan keselamatan mereka tapi harta benda mereka, moor dan mobil mereka yg terendam dan tidak bias jalan. Sepertinya keselamatan motor dan mobilnya lebih penting dari dirinya sendiri, lucu :)

Mendung kembali menyelimuti langit, hujan deras turun lagi dan air naik lagi. Aku menangis dan terus berdzikir dalam hati, dan alhamdulillah hujan berhenti lagi, terlihat ada titik cahaya mentari di balikmendung dan aku bersyukur dan yakin sekali kalau hujan bakalan berhenti dan artinya kami selamat.

Setelah hujan redah dan air menyurut, HP ku berbunyi dari temanku yang dari tadi aku coba sms dan telp. Aku memang sempat meng-sms nya lagi untuk membelikan kami makanan, karena jujur kami kelaparan. Dia menelpon langsung nyercocos, menanyakan barang-barangnya, aku jawab sebisanya, kalau aku sudah berusaha semampuku, kalaupun ternyata motornya tidak bisa jalan, baju2 nya basah karena air naik sebegitu tinggi di luar dugaan kami. Sempat menitikkan air mata saat temanku menyalahkanku, dia bilang kenapa aku memilih kost di tempat itu, kenapa tidak di tempat lain saja, dan membuat orang repot saja.

Ah, sempat terpikir, adakah orang di kantor kami yang peduli dia mau tinggal di mana saat pertama kali dia pindah ke kota ini selain aku adakah yang mencarikan dia kost selain aku? Tidak, aku tidak butuh terimakasih, cuma jangan salahkan aku. Karena ini musibah, semua juga kenah bukan cuma dia, bukan?

Sesampai di kost temanku membawa makanan, dia mencari-cari barangnya, aku melihat raut muka kecewa di wajahnya karena semua baju2nya basah kecuali yang di gantung dan dia mengomel saat melihat bajuku kering karena berada di tempat yang lebih tinggi. Sumpah, aku tidak ada keinginan untuk melakukan itu, aku tidak tahu dengan apa yang sudah aku lakukan, yang aku tahu berusaha menaikkan semua barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Ada penghuni kost lain yang nyeletuk mendengar itu :

” ya, sudah untung Mbak barang-barang Mbak nggak kita biarkan mengambang. Mbak sendiri asyik dugem gak pulang tidak bisa dihubungi lagi, coba kalau Mbak pulang pasti Mbak bisa nylametin barang2 Mbak lebih baik…jangan dah nyalahkan teman”

temanku berusaha berargument

” saya tidak menyalahkan, cuma. Saya besuk kerja pakai baju apa”

” pakai aja bajuku, ada beberapa baju yang belum pernah aku pakai, pasti orang2 kantor gak notice itu bajuku” sahutku sambil tidak melihat ke arahnya karena kecewa.

Dia tidak menyahut.

Aku hanya diam dengan mata berkaca-kaca. Aku letih dan kecewa.

Setelah air menyurut, gelak canda di lingkungan kostku kembali terdengar, apalagi saat ada yg selalu menirukan kata-kataku saat menenagkan orang-orang.

” kita berdoa saja, belik. Semua pasti ada hikmanya “

:) Kami bergotong royong membersihakn lingkungan kost, Bapak dan ibu kost mendulukan kamarku agar aku bisa cepat istirahat. Aku baru sembuh jadi dia khawatir aku sakit lagi. Tapi, aku masih tetap membantu mereka beres2, hubungan kami bertambah akrab. Dan sampai sekarang kami lebih mirip keluarga.

Selalu ada hikma di balik peristiwa :)

About these ads

35 thoughts on “Cerita di Balik Banjir….

  1. THANKS TO GOD…ANDA TETAP SELAMAT DALAM MUSIBAH TERSEBUT. BANJIR MEMANG SANGAT MENGGANGU DAN BEGITU MENAKUTKAN. APALAGI KALAU DATANGNYA TIBA-TIBA DAN TAK TERDUGA, SAYA BISA MEMBAYANGKAN ANCAMANNYA.

    UNTUNGNYA, KAMI TINGGAL DI DAERAH YANG BISA DIKATAKAN DATARAN TINGGI, SEHINGGA KEKAWATIRAN AKAN TERJADINYA BENCANA BANJIR BESAR RELATIF TIDAK ADA. NAMUN, KARENA DAERAH KAMI RAWAN GEMPA DAN DEKAT DENGAN GUNUNG MERAPI YANG AKTIF, KEKAWATIRAN JUGA SERINGKALI MELANDA HARI-HARI KAMI…

    UNTUK ITU ADA BAIKNYA KITA SALING MENDOAKAN AGAR BENCANA SELALU MENJAUH DARI KITA SEMUA, AMIEN3X!

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s