Jam 20.05 sampai di kost, merogoh kantong depan mencari kunci kamar. Lelah rasanya, langsung mengambill HP dan sms kekasih tersayang dan bilang sudah sampai di kost agar dia tidak khawatir.
Setegah jam tidak ada balasan, mulai muncul rasa kesal dan marah!
“ Arrghhh, ini sih sudah keterlaluan! Benar-benar keterlaluan! Aku benci, benci sekali keadaan seperti ini. Sangat benci! Dia benar-benar sudah tidak ada waktu buatku”
(melihat HP, masih belum ada balasan)
“Ok, kalau memang maumu begitu, aku tidak akan lagi meng sms mu apalagi menelponmu agar kau juga bisa merasakan yang aku rasakan di sini, merasakan kerinduan yang menyiksa”
(mengambil laptop, lalu mencoba mengkoneksikan ke internet. Sial!!! Aku lupa XL tidak dapat sinyal 3G di sini sedang pulsa yang ada cuma XL. Ya sudah main game saja. Melirik jam sudah jam 20.49, semakin kesal….
“ kalau tahu akan kau cueki begini lebih baik tadi aku jalan saja sama cowok lain, lebih baik daripada aku di sini kesepian menunggumu sampai jamuran…rrgghh…tapi kamu tahu aku tidak bisa, aku tidak bisa jalan dengan cowok lain karena aku hanya menyayangimu, tapi aku benar-benar marah padamu!”
(akhirnya mencoba menenangkan diri, mengambil pembersih muka dan pergi ke kamar mandi, lalu sholat isya’ dan mengaji beberapa menit. Alhamdulillah sedikit tenang. Jam 21.21 blm juga ada balasan dari sms ku td….ukh! Setiap kali melihat HP rasanya menyesakkan)
“ Ok, daripada menunggumu yang tak jelas lebih baik aku tidur saja “
( mencoba merebahkan badan yang terasa pegal-pegal dan butuh dipijat, duh…dari bulan April yang ingin ke SPA sekedar memanjakan diri tak pernah terwujud seperti tinggal impian saja. Capek!ah, tiba-tiba ingat cerita Bunda tentang keponakan kemarin sore. “keponakanmu pinter banget, lho! Udah bisa di suruh ini dan itu, pokoknya apa-apa Mbabuk (Mba Ibuk = nenek)” lalu aku Tanya “lalu pintar apa lagi, Bun? “ dengan semangat Bunda menjawab “ya pokoknya pinter,kalau diajarin cepet inget. Tiap kesini main ama Kungnya (kung=kakek)” aku tersenyum dan rasanya kangen banget pada keponakanku yang udah kelihatan wajah bandelnya di usia 8 bulan.
“ tapi, kalau di Tanya siapa tantenya dia Cuma tahu tante Nidy” tambah Bundaku “lho, kok? Emang bunda nggak kasih tahu kalau punya tante di sini?” protesku
“ udah, tapi nggak mau “ jelas Bunda “ Awas yah, nggak aku beliin baju!” ancamku, he he ancaman klasik! “ kok gitu?” protes Bunda “ meski nggak kenal kamu wong sifat ngambekan dan keras kepalanya mirip kamu banget kok” tambah Bunda lagi
“ ha ha ha ha” aku tertawa “ baguslah kalau begitu” tiba-tiba terdengar senior managerku teriak:
“ Haaaan, babe lu telp, kok nggak bisa di transfer? Telp balik babe lu, gi!Ntar ngomel-ngomel lagi..” duh, dongkol rasanya.
“udah ya, Bun…boss lagi nyariin aku” ungkapku buru-buru “ ya udah, lain kali aja lagi…” ha ha ha, aku telp pakai telp kantor. Cerita terputus dech gara-gara bossku
)
Kalau sedang kesal aku mencoba mengingat-ingat kejadian lucu biar tak berlarut-larut dalam kesal, tapi kalau dia yang membuatku kesal telp pasti kesalku datang lagi, yang namanya kesal itu emosi jadi butuh untuk di lampiaskan, bukan?
He he he he
Jam 21.41 ada sms masuk…ha ha ha ha
Tidak, kali ini aku tidak akan marah karena aku sudah melakukan therapy, melepasakan kesalku dengan menulis ini. Aku sedang latihan memanage emosi biar gak banyak korban berjatuhan
Alhamdulillah







me..
/ July 29, 2010wah..gimana seh tuh yayangnya??
masa di cuekin gt!
iya mbak,sy dukung cuekin aj,ntar jg dia kangen..
;p
pus.. puss.. lucu amad ya..
jd pengen aku getok
hehehe
===================
Nggak usah di cuekin dia juga bakal kangen terus
'Ne
/ July 29, 2010syukurlah bisa memanage emosi ya.. menulis memang bisa menjadi terapi yang ampuh saya juga sering tuh, kalo kesel nulis aja atau ngegame dan baca2 buku