Bye Bye 2016

Alhamdulillah sudah 2017, ya? Ya, Allah..kirain masih 2007 lho..dan baru sadar kalau usia udah nggak 20-an lagi. Waktu yang bagaikan mata pisau yang bisa mengiris-iris dan membunuh kapan saja. Apa kabar beberapa tahun silam? Apa saja yang sudah saya lakukan? Beragam cerita mengisi sepanjang tahun 2016, ceritain yang inget-inget aja kali ya….bukannya gak menghargai sejarah pun memory yang telah lalu tidak berkesan hanya saja saya tak menyukai masa lalu, hehehe

Pekerjaan

Akhirnya saya berani membuat keputusan untuk resign dari tempat kerja sekarang yang sudah tak jalani selama 7 tahun. Tips buat bisa mantab resign itu pertama kita yakin rejeki Allah bisa datang dari mana saja karena Allah sudah menjaminnya kalau kita mau menjemputnya tentu saja dan kedua jangan baperan. Alasan kedua ini lho yang buat saya hampir 2 tahun maju mundur ga jadi resign karena merasa menjadi ujung tombak perusahaan, takut banyak PHK nanti dan akhirnya saya melihat ke dalam diri sendiri, kalau masalah itu bukan masalah saya pribadi.

Meninggalkan tempat kerja yang lama bukan tanpa planning, planningnya mau nganggur 1 bulan di kampung baru bangun bisnis. Tapi siapa sangka, di tengah maraknya memeriahkan kemerdekaan, di sebuah mall megah di Kuta Bali terjadi diskusi hebat sehingga lahir Dezavo. Thanks to her and my my hubby yang selalu support and knowing my potential (weks byor! Wakaakakk)

Harapan saya sih, di tahun 2017 kami bisa menebar manfaat untuk orang lain. Apalah arti hidup kalau ga memberi manfaat bagi sesama, betul demikian?

Percintaan

Perlu ya? Dah tuwir ngomongin cinta, wakakakka. Perlu banget. Cinta bukan cuma milik mereka yang masih ABG. 

Akhirnya saya sadar, suami saya adalah lelaki terbaik setelah Papa. Tetap ga bisa ngalahin Papa karena saat saya butuh pijit, Papa dengan sigap langsung mijit sedang suami kadang masih harus selesein nge-war-nya. 

Saya bersyukur suami  termasuk laki-laki yang menyadari kalau urusan mengurus anak bukan cuma tugas istri tapi juga suami. That’s I love the most from him. Tentunya setelah hobby dia yang ngajakin makan mulu wakakaka.

Semoga cinta kami selalu hangat sampai aki-nini.

Motherhood

Saya bukan Ibu yang sempurna tapi selalu berusaha menjadi Ibu yang baik buat anak.

Mengamatinya tumbuh dan berkembang sampai sekarang usianya tepat 2 tahun menjadi moment yang tak terlupakan. Apalagi dengan perkembangan emosinya yang semakin memperlihatkan sifat-sifatnya yang ternyata tak jauh beda dengan emak dan bapaknya, hehehe

Zafa sekarang juga bisa ngupil, tapi kalau ke-gap dia langsung malu dan lempar upilnya ke saya. Jorok banget ya, ini anak emang pecicilan. Padahal udah tak ajarin bersihin hidung pake tissue basah, tapi kalau susah pasti endingnya pakai jari. Ugh! 

Blogger

Dengan berbagai alasan klise dan klassik produktifitas sebagai blogger naik-turun. Pingin banget bisa konsisten, tapi ada aja yang bikin gak konsisten. Yang kerjaan banyak-lah, anak sakit, suami sakit, saya sakit, kadang kesannya emang kaya mengada-ada.

Resolusi

Resolusi naikkan beberapa ribu mega pixel agar lebih tajam dan mantab dilihat, wakakkaka

Ga biasa bikin resolusi, yang jelas saya ingin mengambil setiap kesempatan baik untuk memperbaiki diri.

2017 I am coming 😊

Writing Meditation – Salah Satu Tehnik Mindfulness

Writing Meditation – Menulis tentang meditasi memang bukan rana saya, tapi ada satu informasi yang saya dapat dan kayanya sayang banget kalau tidak di share di blog karena ini masih mengenai menulis, I meant Blog (well, maybe….).

Jadi ceritanya, selepas ikut acara Female Dev yang pembukaannya diawali dengan “MEDITASI” atau Mindfulness condition oleh Lia Gunawan seorang profesional Yoga Teacher di Bali saya jadi inget betapa besar manfaat meditasi untuk mengontrol emosi dan ini kebetulan saya ketemu dengan artikel tentang 5 tehnik mindfulness yang bisa membantu improve relationship dan juga membentuk kita menjadi better leadership. Continue reading

Ayah, Bunda, beri aku waktu untuk berbakti

Saat mulai menulis ini saya membayangkan wajah Papa dan Bunda tercinta, dan saya pun mengajak sahabat sekalian saat membaca ini melakukan hal yang sama dengan saya, membayangkan wajah Bapak dan Ibu kita apapun sebutan kita terhadap mereka.

Bersyukurlah kita yang masih memiliki Ayah dan Ibu. Mereka yang sudah tidak memilikinya, bingung bagaimana mau berbakti selain hanya mengirimkan untaian do’a yang kadang sambil berurai air mata.

Dalam kesendirian, mungkin pernah terlintas di dalam benak mereka bahwa waktu begitu cepat berlalu. Sepertinya masih kemarin, kita masih berlari-lari memeluk kaki Ibu kita, merengek minta digendong, merengek minta diijinkan bermain di jam tidur siang ataupun menyelesaikan PR. Waktu berlalu begitu cepat, karena ternyata kita, anak-anaknya sudah tumbuh menjadi dewasa dan bahkan menjadi orang tua seperti halnya mereka. Kini mereka sulit untuk memeluk dan mencium kita, sulit mengajak kita bercanda pun sekedar bercengkeramah. Ada rasa nelangsah di sana karena merasa anak-anaknya semakin jauh di samping kebanggaan atas pertumbuhan anak-anaknya.

Mungkin, yang ada memenuhi hati mereka sekarang adalah cucu-cucunya, akan tetapi tidak ada yang bisa menggantikan posisi kita sebagai anak.

Continue reading

Seorang ibu tidak boleh sakit?

Ingat kalimat seorang teman, menjadi ibu tidak boleh sakit. Saya tidak pernah menyangkalnya, kasihan anak kita jika kita sakit kata dia dan apa yang dia katakan memang ada benarnya.

Seperti malam itu, saya menggigil, seluruh badan bergetar, bahkan beberapa bagian tubuh mati rasa dan membiru, semua terjadi secara tiba-tiba. Si kecil menangis merengek minta dipeluk, bahkan minta saya lepas selimut lapis tiga yang tidak menghangatkan sama sekali. Demi dia saya lepas selimut meskipun tubuh terus bergetar, lalu saya peluk dia sampai tertidur. Sambil bercucuran air mata saya terus berdzikir karena tidak kuat dinginnya, syukurlah saya tertidur dan saat bangun suhu badan berubah menjadi panas. Continue reading

I cried, sometimes…..

I cried, sometimes….

Ya, begitulah kehidupan. Banyak orang yang melihat hidup orang lain lebih baik dari hidupnya dan mereka berpikir, betapa menyedihkan hidupnya. Saya pun, kadang, berpikir demikian. Akan tetapi, ada satu hal yang saya tahu bahwa pasti setiap orang memiliki masalah  di dalam kehidupannya. Cuma, menurut saya mereka memiliki beberapa cara dalam menyikapi permasalahan hidup mereka:

Pertama

Cara pertama mereka menyelesaikan masalah mereka adalah dengan cuek dan hidupnya hanya mengikuti arus saja sehingga hidup mereka terkesan lebih ringan tanpa beban, padahal kalau dipikir lebih dalam ada permasalahan yang harus segera diselesaikan dan harus ada plan ke depan agar tidak terjebak terlalu lama dalam permasalahan tersebut.

Beberapa orang yang memiliki cara pertama ini ada yang beneran cuek dan berpikir ya, sudahlah biarin saja tapi ada juga yang pelan-pelan berpikir bagaimana menyelesaikannya.

Tipsnya, teteplah cuek akan tetapi jangan lupa mencari jalan keluar yang baik untuk semua bukan cuma kebaikan diri sendiri. Dan permasalahan itu tidak akan bisa selesai dengan sendirinya tanpa ada upaya menyelesaikan 🙂 Continue reading