The Missing Piece (or Peace)

Ting Tong – Saya menulis ini saat sedang ingin kesunyian karena semenjak Zafa usia 2 tahun dia sangat vokal[dia sekarang 2 tahun 4 bulan], bahkan terhadap semua anak-anak pun orang tua di sekitarnya. Saya sedang belajar dan mempelajari psikologi-nya. Tapi, belum banyak yang bisa saya pelajari. Saya hanya membiarkan dia tumbuh begitu saja sambil memberikan arahan yang bisa  dibilang tak banyak meski waktu saya bersamanya sekarang jauh lebih banyak dari saat saya jadi pekerja kantoran. Mungkin alasan itu (banyak waktu) juga yang membuat saya lebih senang mengamati perkembangannya ketimbang ingin mengaturnya.

Jujur saja, mengamati setiap perkembangan dia secara berkala dengan kondisi saat ini membuat saya merasa lebih legah dan karena saya menjadi orang pertama yang tahu dia bisa melakukan satu keahlian baru, seperti berhitung dari 1 – 10 meski dia suka lompatin number 6 (dia bingung antara six dan eight), mengucapkan kosa kata baru “cucu trai” untuk kereta api. Zafa yang dianggap delay speaking ternyata mulai menguasai banyak kosa kata.

Jadi cerita tentang Zafa, padahal awalnya tentang saya yang sedang butuh waktu sunyi. Sedang merenung tentang banyaknya waktu berlalu tanpa mensyukuri karunia TUHAN.

Tapi, alhamdulillah. Mengurus usaha sendiri stressnya emang beda banget dengan saat ikut orang dulu, seemed like it unecessary to be stressed for! Soalnya dibela-belain stress juga ujung-ujungnya its not for our sake but company. Dan Company pun saat mereka genting lebih condong mikirin diri sendiri. Jadinya, kalau semua orang mikir kaya saya ga akan ada yang kerja ikut orang pun kerja loyal, wakakakaka. Saya sangat berterima kasih yang jelas pernah ada dalam posisi tersebut, karena banyak sekali hal baik yang saya dapat. TUHAN memang sudah mengatur segala sesuatunya dengan sangat tepat dan baik. Tak bisa dibantah!

Jadi missing piece di sini apa? Itu tadi, lupa mensyukuri karunia-karunia yang berupa cobaan dam kerikil-kerikil dalam perjalanan kehidupan.

Pada akhirnya, kita sebagai manusia memang harus mensyukuri setiap hal yang TUHAN sudah tetapkan, ketemu orang brengsek dan penipu pun harus berterima kasih dan bersyukur sehingga bisa lebih berdamai dengan diri. Cara berterima kasih dan bersyukurnya memang susah, tapi setidaknya kita memaksakan diri untuk mencoba agar terbiasa. Kita ingat saja dampak-dampak positive yang ditimbulkannya pasti langsung bisa bilang “beruntung sekali aku….” ada guyonan kan yang mengatakan orang Indonesia itu selalu beruntung. Maka dari itu sudah seharusnya orang-orang di Indonesia harus bahagia.

Tapi, kenyataannya banyak sekali orang-orang Indonesia yang sekarang ini tidak bahagia. Mereka stress dan banyak mencaci, berlaku anarkis. Mereka lupa dengan keberuntungan-keberuntungan yang sudah TUHAN karuniakan terhadap dirinya sebagai bangsa Indonesia. Mereka lupa untuk berterima kasih karena sudah diberikan negara yang aman tanpa perang juga gemah ripah loh jinawi, mereka lupa bersyukur dengan kehadiran technology itu bisa lebih di manfaatkan untuk mempererat silaturahmi bahkan mencari rizky. Pokoknya mereka lupa saja! Bahkan yang mengaku paling bersyukur dan alim pun mengingatkannya sambil mulai mencaci juga melakukan jugdment, lho?

Tapi, ini tadi tentang saya bukan tentang bangsa Indonesia. Karena dalam bayangan saya orang Indonesia itu penuh kasih, toleransi, rukun, punya empathy tinggi dan tidak egois. Jadi, saya berterima kasih pada TUHAN atas karunia itu. 

And… I have no other missing piece at the moment. Terima kasih TUHAN karena saya punya waktu menuliskan ini.

Karena hidup tidak bisa tawar menawar dengan Tuhan

Pernah mengutuk hidup sendiri? “Kenapa aku memiliki hidup seperti ini, penuh derita?” saya pernah melakukannya. 

Menatap langit cerah, penuh bintang, di setiap sepertiga malam seusai sholat malam sambil berurai air mata mencoba merutuk diri dan melemparkan banyan pertanyaan “complaining”. Bodoh sekali saya, habis beribadah seperti itu seharusnya hati itu tenang setidaknya lepas dari rasa galau. Tapi entahlah ibadah macam apa yang saya lakukan saat itu. 

Tapi, saya sadar saat itu saya jadi rajin beribadah juga karena kesedihan tersebut. Kesedihan yang orang tidak bisa tangkap bahkan orang terdekat saya, orang tua. Atau mereka tahu cuma tidak bisa berbuat lebih lagi, lagi pula pantang bagi saya untuk menuntut ini dan itu pada orang tua. Sahabat berbagi rasa saya memang hanya Tuhan. 

Masih ingat dahulu, semasa SD kelas 4 atau 5 kalau ga salah di sekolah akan ada pesantren kilat, semua menyambut dengan gembira yang artinya di luar jam sekolah kami bisa kumpul bareng teman-teman. Tak terkecuali saya yang memang tidak bisa keluar rumah seenaknya, main pun ada jam-nya. Kata Bunda sih “biar kau ga jadi anak liar” kasar sekali kalimatnya, tapi begitu memang gaya bahasanya karena beliau tidak tamat SD. Meski demikian beliau adalah wanita cerdas dan memiliki hati seluas samudera. Wanita yang tulus, apa adanya dam tidak munafik.

Ya, saat itu harusnya saya bahagia sekali ada acara pesantren kilat tapi menjadi sedih karena saya tidak punya baju muslimah yang bagus seperti teman-teman. Baju saya ya itu-itu saja, bahkan banyak yanga hanya baju sisa dari saudara kami yang di Jakarta meskipun kondisinya masih bagus-bagus bahkan lebih bagus dari baju-baju anak di kampung. Tapi, namanya anak kecil..saya pun mencoba meminta ke Bunda dengan bahasa yang lugu dan dengan jujur Bunda bilang “dari mana ada uang? Apalagi acaranya satu minggu lagi” saya tidak berani meminta lagi, masuk kamar dan menangis terisak. Saya pun meminta sama Tuhan sampai tertidur karena kecapekan menangis.

Besoknya, Bunda menunjukkan sebuah bungkusan yaitu bahan baju dengan warnah magenta yang cantik. Katanya itu untuk bikin baju muslimah saya, nanti sore Papa yang anterin ke penjahit langganan. Saya pun sangat bahagia. Dari mana Bunda mendapatkan uang? Bunda tak pernah cerita, tapi hal itu membuka pikiran saya untuk bisa menghasilkan uang.

Sungguh gambaran kehidupan yang membuat saya jauh dari impian setinggi langit. Impian saya itu dulu cuma satu yaitu mengangkat derajat dan martabat orang tua, melepaskan mereka dari jerat kesusahan karena menjadi orang susah kerap dihina dan dikata-katain. Gak jarang kok saya pulang-pulang menangis, bukan karena dibully. Siapa yang berani nge-bully saya, bahkan anak-anak dengan badan besar pun akan saya lawan! Tapi menangis karena mendengar omongan keluarga besar yang ngata-ngatain Bunda. Sungguh jauh dari bahagia.

Tapi, tumbuh dalam kondisi seperti itu membuat saya banyak belajar. Belajar menyemangati diri sendiri, belajar ihklas, belajar bersyukur, belajar dan belajar sampai saya menemukan bahwa bahagia ternyata bukan tentang apa yang saya tuntut atau minta ke Tuhan terkabul atau tidak, tapi saat saya bisa menyadari bahwa kehidupan yang diberikan Tuhan kepada saya itu merupakan berkah luar biasa. BERSYUKUR DIBERIKAN HIDUP sehingga bisa menyicipi banyak rasa.

Karena sudah dibekali hidup, janganlah kita tawar menawar dengan Tuhan. Mencoba mengisi dengan sebaik-baiknya dan menjalani hidup tersebut dengan syukur. Bahkan di saat musibah datang ataupun saya didzolimi orang saya sekarang terbiasa untuk bercermin dan ihklas karena barang kali musibah tersebut adalah kunci untuk membuka pintu keberhasilan yang sedang ingin saya capai yaitu menjadi manusia sukses mulia. Dengan begini saya pun tidak lagi melihat masalah sebagai masalah sehingga orang melihat saya tidak pernah ada masalah, alhamdulillah. 

Inilah hidup kita, tidak bisa ditawar-tawar. Mau bahagia atau tidak itu pilihan.

Pekerjaan v.s Kosekuensi

Biarin lha ya, sekarang nulisnya pakai versus-versusan meski ga ada maksud mengadu mereka, apalagi adu domba. Domba sih bagus diambil woll-nya dan dibuat baju hangat ngapain juga diadu.

Pekerjaan v.s Kosekuensi. Jadi, memang benar semua pekerjaan itu ada kosekuensinya. Bahkan pengangguran pun ada kosekuensinya, karena kamu nganggur ya kosekuensinya ga punya duit, he he he. Kecuali nganggurnya memiliki investasi di mana-mana (ini sih gak nganggur, tapi tetep kerja) atau kalian memiliki warisan banyak, tapi kosekuensinya lama-lama habis juga kalau kita gak kerja untuk melakukan pengelolaan dengan baik.

ALERT : Anda akan banyak bertemu kata KOSEKUENSI dalam postingan ini 😀 Continue reading

Antara Passion & Wacana doang

Hari gini kita ngomongin passion, telat kali ya? Tapi ga diomongin juga entar bisa jadi ganjalan di kepala, pundak dan perut, entahlah rasanya bagaimana.

Setiap orang memiliki passionnya sendiri-sendiri, nah kalau ditanya passion saya apa sih? Selain yang menyangkut pekerjaan deh, yang berkaitan dengan rekreasi, hobby dan saudara saudarinya. Passion saya itu MENULIS. Gak cuma sekali lho saya mengatakan ini kepada dunia dan anehnya dunia tidak meredpon seolah apa yang saya bicarakan hanya bualan belaka, and its trues saudara-saudara.

Menjadi Penulis

Kalau-lah memang menulis menjadi passion saya harusnya saya rajin nulis, paling tidak di blog! Buktinya? Gak ada bukti tulisan apa-apa berbulan-bulan.

Pernah bercita-cita menjadi penulis tapi gagal total. Banyak banget alasannya dan begitulah semua cenderung mencari-cari alasan

Menulis Buku Dongeng

Saat itu saya masih remaja, remaja menjelang dewasa, remaja dewasa dan dewasa bercita-cita menjadi penulis buku dongeng dan karena susah dapat feelnya sempat mikir entar kali ya, kalau udah ada anak baru punya feel disitu.

Dan, saat sudah punya anak tetap saja begitu ga dapat feelnya dan bingung mau mulai di mana. Mau dapet feel dari mana pula wong baru buka laptop dan mau memulai anak sudah datang mengglandut di punggung, ahay! Tentu saja ini hanya alasan! Hehehe

Menulis Novel Cinta

Yang ini lebih epic lagi, beugh benernya apanya yang epic sih yang iya, lebih memalukan hehehe

Ada sih feel-nya, bisa banget bikin cerita cinta tapi bukan NOVEL. Ya wassalam deh, males banget nulis cinta-cintaan lagi karena berasa udah mendapatkan cinta (uhuk!uhuk!).

Jadi cerita cinta itu lebih dapat feel-nya kalau kita lagi mencari cinta, itu buat saya lho.

Menulis Buku “Tentang Sales”

Karena lebih dewasa dan lebih matang juga memiliki pengalaman kerja yang nota bene di bidang sales, akhirnya mulai menulis bab demi bab. Nah setelah dapat beberapa bab(tepatnya 5 bab) masalah mulai timbul, ya Allah kapan masalah ga datang dan menghalangi cita-cita saya menjadi penulis, ya?

Masalah Pertama, saya merasa ternyata ilmu saya di bidang sales itu masih teramat sangat cetek dan gak pantas menuliskannya ke dalam buku karena masih banyak yang jauh lebih hebat dan mereka ga pamerin di buku. Tapi beberapa rangkuman bab ber-ending di blog (untunglah).

Masalah Kedua, datanya hilang karena laptop dicuri maling! Wakakkaaka. Maling pun tahu kalau saya tak pantas menerbitkan buku.Ya, sudah maling membantu menghilangkan semua materi wakakakakka

Masalah Ketiga, saya menyerah dan focus megumpulkan pengalaman di bidang sales yang saya jalani 😁

Menulis Novel Misteri

Mengada-ada banget, ya? Mana ada sih penakut nulis novel misteri wong dulu nulis cerita pendek misteri aja ga berani baca ulang padahal tulisan sendiri.

Jangan komplain dulu, saya mengajak suami berkolaborasi karena merasa dia lebih banyak pengalaman di bidang ini tapi setelah berbicara dengan suami, sungguh menulis itu butuh ilmu saudara-saudara kita tidak bisa asal menulis yang ada di kepala kita apalagi tentang masalah yang tidak kita ketahui dengan sebenarnya karena menulis novel misteri bukanlah cerita kisah mistis di malam Jum’at di antara teman-teman kost yang setelahnya akan kita ketawain.

Dari cerita saya ini, saya bisa menarik kesimpulan kalau saya tidak bisa menjadi penulis buku karena saya kurang ilmu. 

Bye Bye 2016

Alhamdulillah sudah 2017, ya? Ya, Allah..kirain masih 2007 lho..dan baru sadar kalau usia udah nggak 20-an lagi. Waktu yang bagaikan mata pisau yang bisa mengiris-iris dan membunuh kapan saja. Apa kabar beberapa tahun silam? Apa saja yang sudah saya lakukan? Beragam cerita mengisi sepanjang tahun 2016, ceritain yang inget-inget aja kali ya….bukannya gak menghargai sejarah pun memory yang telah lalu tidak berkesan hanya saja saya tak menyukai masa lalu, hehehe

Pekerjaan

Akhirnya saya berani membuat keputusan untuk resign dari tempat kerja sekarang yang sudah tak jalani selama 7 tahun. Tips buat bisa mantab resign itu pertama kita yakin rejeki Allah bisa datang dari mana saja karena Allah sudah menjaminnya kalau kita mau menjemputnya tentu saja dan kedua jangan baperan. Alasan kedua ini lho yang buat saya hampir 2 tahun maju mundur ga jadi resign karena merasa menjadi ujung tombak perusahaan, takut banyak PHK nanti dan akhirnya saya melihat ke dalam diri sendiri, kalau masalah itu bukan masalah saya pribadi.

Meninggalkan tempat kerja yang lama bukan tanpa planning, planningnya mau nganggur 1 bulan di kampung baru bangun bisnis. Tapi siapa sangka, di tengah maraknya memeriahkan kemerdekaan, di sebuah mall megah di Kuta Bali terjadi diskusi hebat sehingga lahir Dezavo. Thanks to her and my my hubby yang selalu support and knowing my potential (weks byor! Wakaakakk)

Harapan saya sih, di tahun 2017 kami bisa menebar manfaat untuk orang lain. Apalah arti hidup kalau ga memberi manfaat bagi sesama, betul demikian?

Percintaan

Perlu ya? Dah tuwir ngomongin cinta, wakakakka. Perlu banget. Cinta bukan cuma milik mereka yang masih ABG. 

Akhirnya saya sadar, suami saya adalah lelaki terbaik setelah Papa. Tetap ga bisa ngalahin Papa karena saat saya butuh pijit, Papa dengan sigap langsung mijit sedang suami kadang masih harus selesein nge-war-nya. 

Saya bersyukur suami  termasuk laki-laki yang menyadari kalau urusan mengurus anak bukan cuma tugas istri tapi juga suami. That’s I love the most from him. Tentunya setelah hobby dia yang ngajakin makan mulu wakakaka.

Semoga cinta kami selalu hangat sampai aki-nini.

Motherhood

Saya bukan Ibu yang sempurna tapi selalu berusaha menjadi Ibu yang baik buat anak.

Mengamatinya tumbuh dan berkembang sampai sekarang usianya tepat 2 tahun menjadi moment yang tak terlupakan. Apalagi dengan perkembangan emosinya yang semakin memperlihatkan sifat-sifatnya yang ternyata tak jauh beda dengan emak dan bapaknya, hehehe

Zafa sekarang juga bisa ngupil, tapi kalau ke-gap dia langsung malu dan lempar upilnya ke saya. Jorok banget ya, ini anak emang pecicilan. Padahal udah tak ajarin bersihin hidung pake tissue basah, tapi kalau susah pasti endingnya pakai jari. Ugh! 

Blogger

Dengan berbagai alasan klise dan klassik produktifitas sebagai blogger naik-turun. Pingin banget bisa konsisten, tapi ada aja yang bikin gak konsisten. Yang kerjaan banyak-lah, anak sakit, suami sakit, saya sakit, kadang kesannya emang kaya mengada-ada.

Resolusi

Resolusi naikkan beberapa ribu mega pixel agar lebih tajam dan mantab dilihat, wakakkaka

Ga biasa bikin resolusi, yang jelas saya ingin mengambil setiap kesempatan baik untuk memperbaiki diri.

2017 I am coming 😊