Pekerjaan v.s Kosekuensi

Biarin lha ya, sekarang nulisnya pakai versus-versusan meski ga ada maksud mengadu mereka, apalagi adu domba. Domba sih bagus diambil woll-nya dan dibuat baju hangat ngapain juga diadu.

Pekerjaan v.s Kosekuensi. Jadi, memang benar semua pekerjaan itu ada kosekuensinya. Bahkan pengangguran pun ada kosekuensinya, karena kamu nganggur ya kosekuensinya ga punya duit, he he he. Kecuali nganggurnya memiliki investasi di mana-mana (ini sih gak nganggur, tapi tetep kerja) atau kalian memiliki warisan banyak, tapi kosekuensinya lama-lama habis juga kalau kita gak kerja untuk melakukan pengelolaan dengan baik.

ALERT : Anda akan banyak bertemu kata KOSEKUENSI dalam postingan ini 😀 Continue reading

Antara Passion & Wacana doang

Hari gini kita ngomongin passion, telat kali ya? Tapi ga diomongin juga entar bisa jadi ganjalan di kepala, pundak dan perut, entahlah rasanya bagaimana.

Setiap orang memiliki passionnya sendiri-sendiri, nah kalau ditanya passion saya apa sih? Selain yang menyangkut pekerjaan deh, yang berkaitan dengan rekreasi, hobby dan saudara saudarinya. Passion saya itu MENULIS. Gak cuma sekali lho saya mengatakan ini kepada dunia dan anehnya dunia tidak meredpon seolah apa yang saya bicarakan hanya bualan belaka, and its trues saudara-saudara.

Menjadi Penulis

Kalau-lah memang menulis menjadi passion saya harusnya saya rajin nulis, paling tidak di blog! Buktinya? Gak ada bukti tulisan apa-apa berbulan-bulan.

Pernah bercita-cita menjadi penulis tapi gagal total. Banyak banget alasannya dan begitulah semua cenderung mencari-cari alasan

Menulis Buku Dongeng

Saat itu saya masih remaja, remaja menjelang dewasa, remaja dewasa dan dewasa bercita-cita menjadi penulis buku dongeng dan karena susah dapat feelnya sempat mikir entar kali ya, kalau udah ada anak baru punya feel disitu.

Dan, saat sudah punya anak tetap saja begitu ga dapat feelnya dan bingung mau mulai di mana. Mau dapet feel dari mana pula wong baru buka laptop dan mau memulai anak sudah datang mengglandut di punggung, ahay! Tentu saja ini hanya alasan! Hehehe

Menulis Novel Cinta

Yang ini lebih epic lagi, beugh benernya apanya yang epic sih yang iya, lebih memalukan hehehe

Ada sih feel-nya, bisa banget bikin cerita cinta tapi bukan NOVEL. Ya wassalam deh, males banget nulis cinta-cintaan lagi karena berasa udah mendapatkan cinta (uhuk!uhuk!).

Jadi cerita cinta itu lebih dapat feel-nya kalau kita lagi mencari cinta, itu buat saya lho.

Menulis Buku “Tentang Sales”

Karena lebih dewasa dan lebih matang juga memiliki pengalaman kerja yang nota bene di bidang sales, akhirnya mulai menulis bab demi bab. Nah setelah dapat beberapa bab(tepatnya 5 bab) masalah mulai timbul, ya Allah kapan masalah ga datang dan menghalangi cita-cita saya menjadi penulis, ya?

Masalah Pertama, saya merasa ternyata ilmu saya di bidang sales itu masih teramat sangat cetek dan gak pantas menuliskannya ke dalam buku karena masih banyak yang jauh lebih hebat dan mereka ga pamerin di buku. Tapi beberapa rangkuman bab ber-ending di blog (untunglah).

Masalah Kedua, datanya hilang karena laptop dicuri maling! Wakakkaaka. Maling pun tahu kalau saya tak pantas menerbitkan buku.Ya, sudah maling membantu menghilangkan semua materi wakakakakka

Masalah Ketiga, saya menyerah dan focus megumpulkan pengalaman di bidang sales yang saya jalani 😁

Menulis Novel Misteri

Mengada-ada banget, ya? Mana ada sih penakut nulis novel misteri wong dulu nulis cerita pendek misteri aja ga berani baca ulang padahal tulisan sendiri.

Jangan komplain dulu, saya mengajak suami berkolaborasi karena merasa dia lebih banyak pengalaman di bidang ini tapi setelah berbicara dengan suami, sungguh menulis itu butuh ilmu saudara-saudara kita tidak bisa asal menulis yang ada di kepala kita apalagi tentang masalah yang tidak kita ketahui dengan sebenarnya karena menulis novel misteri bukanlah cerita kisah mistis di malam Jum’at di antara teman-teman kost yang setelahnya akan kita ketawain.

Dari cerita saya ini, saya bisa menarik kesimpulan kalau saya tidak bisa menjadi penulis buku karena saya kurang ilmu. 

Bye Bye 2016

Alhamdulillah sudah 2017, ya? Ya, Allah..kirain masih 2007 lho..dan baru sadar kalau usia udah nggak 20-an lagi. Waktu yang bagaikan mata pisau yang bisa mengiris-iris dan membunuh kapan saja. Apa kabar beberapa tahun silam? Apa saja yang sudah saya lakukan? Beragam cerita mengisi sepanjang tahun 2016, ceritain yang inget-inget aja kali ya….bukannya gak menghargai sejarah pun memory yang telah lalu tidak berkesan hanya saja saya tak menyukai masa lalu, hehehe

Pekerjaan

Akhirnya saya berani membuat keputusan untuk resign dari tempat kerja sekarang yang sudah tak jalani selama 7 tahun. Tips buat bisa mantab resign itu pertama kita yakin rejeki Allah bisa datang dari mana saja karena Allah sudah menjaminnya kalau kita mau menjemputnya tentu saja dan kedua jangan baperan. Alasan kedua ini lho yang buat saya hampir 2 tahun maju mundur ga jadi resign karena merasa menjadi ujung tombak perusahaan, takut banyak PHK nanti dan akhirnya saya melihat ke dalam diri sendiri, kalau masalah itu bukan masalah saya pribadi.

Meninggalkan tempat kerja yang lama bukan tanpa planning, planningnya mau nganggur 1 bulan di kampung baru bangun bisnis. Tapi siapa sangka, di tengah maraknya memeriahkan kemerdekaan, di sebuah mall megah di Kuta Bali terjadi diskusi hebat sehingga lahir Dezavo. Thanks to her and my my hubby yang selalu support and knowing my potential (weks byor! Wakaakakk)

Harapan saya sih, di tahun 2017 kami bisa menebar manfaat untuk orang lain. Apalah arti hidup kalau ga memberi manfaat bagi sesama, betul demikian?

Percintaan

Perlu ya? Dah tuwir ngomongin cinta, wakakakka. Perlu banget. Cinta bukan cuma milik mereka yang masih ABG. 

Akhirnya saya sadar, suami saya adalah lelaki terbaik setelah Papa. Tetap ga bisa ngalahin Papa karena saat saya butuh pijit, Papa dengan sigap langsung mijit sedang suami kadang masih harus selesein nge-war-nya. 

Saya bersyukur suami  termasuk laki-laki yang menyadari kalau urusan mengurus anak bukan cuma tugas istri tapi juga suami. That’s I love the most from him. Tentunya setelah hobby dia yang ngajakin makan mulu wakakaka.

Semoga cinta kami selalu hangat sampai aki-nini.

Motherhood

Saya bukan Ibu yang sempurna tapi selalu berusaha menjadi Ibu yang baik buat anak.

Mengamatinya tumbuh dan berkembang sampai sekarang usianya tepat 2 tahun menjadi moment yang tak terlupakan. Apalagi dengan perkembangan emosinya yang semakin memperlihatkan sifat-sifatnya yang ternyata tak jauh beda dengan emak dan bapaknya, hehehe

Zafa sekarang juga bisa ngupil, tapi kalau ke-gap dia langsung malu dan lempar upilnya ke saya. Jorok banget ya, ini anak emang pecicilan. Padahal udah tak ajarin bersihin hidung pake tissue basah, tapi kalau susah pasti endingnya pakai jari. Ugh! 

Blogger

Dengan berbagai alasan klise dan klassik produktifitas sebagai blogger naik-turun. Pingin banget bisa konsisten, tapi ada aja yang bikin gak konsisten. Yang kerjaan banyak-lah, anak sakit, suami sakit, saya sakit, kadang kesannya emang kaya mengada-ada.

Resolusi

Resolusi naikkan beberapa ribu mega pixel agar lebih tajam dan mantab dilihat, wakakkaka

Ga biasa bikin resolusi, yang jelas saya ingin mengambil setiap kesempatan baik untuk memperbaiki diri.

2017 I am coming 😊

Writing Meditation – Salah Satu Tehnik Mindfulness

Writing Meditation – Menulis tentang meditasi memang bukan rana saya, tapi ada satu informasi yang saya dapat dan kayanya sayang banget kalau tidak di share di blog karena ini masih mengenai menulis, I meant Blog (well, maybe….).

Jadi ceritanya, selepas ikut acara Female Dev yang pembukaannya diawali dengan “MEDITASI” atau Mindfulness condition oleh Lia Gunawan seorang profesional Yoga Teacher di Bali saya jadi inget betapa besar manfaat meditasi untuk mengontrol emosi dan ini kebetulan saya ketemu dengan artikel tentang 5 tehnik mindfulness yang bisa membantu improve relationship dan juga membentuk kita menjadi better leadership. Continue reading

Ayah, Bunda, beri aku waktu untuk berbakti

Saat mulai menulis ini saya membayangkan wajah Papa dan Bunda tercinta, dan saya pun mengajak sahabat sekalian saat membaca ini melakukan hal yang sama dengan saya, membayangkan wajah Bapak dan Ibu kita apapun sebutan kita terhadap mereka.

Bersyukurlah kita yang masih memiliki Ayah dan Ibu. Mereka yang sudah tidak memilikinya, bingung bagaimana mau berbakti selain hanya mengirimkan untaian do’a yang kadang sambil berurai air mata.

Dalam kesendirian, mungkin pernah terlintas di dalam benak mereka bahwa waktu begitu cepat berlalu. Sepertinya masih kemarin, kita masih berlari-lari memeluk kaki Ibu kita, merengek minta digendong, merengek minta diijinkan bermain di jam tidur siang ataupun menyelesaikan PR. Waktu berlalu begitu cepat, karena ternyata kita, anak-anaknya sudah tumbuh menjadi dewasa dan bahkan menjadi orang tua seperti halnya mereka. Kini mereka sulit untuk memeluk dan mencium kita, sulit mengajak kita bercanda pun sekedar bercengkeramah. Ada rasa nelangsah di sana karena merasa anak-anaknya semakin jauh di samping kebanggaan atas pertumbuhan anak-anaknya.

Mungkin, yang ada memenuhi hati mereka sekarang adalah cucu-cucunya, akan tetapi tidak ada yang bisa menggantikan posisi kita sebagai anak.

Continue reading