Mencoba 5 Menu Baru di HokBen

Hoka-Hoka Bento atau yang sekarang lebih dikenal dengan HokBen tidaklah asing di telinga saya, apalagi saya penyuka sejenis masakan-masakan Jepang yang rasanya tidak penuh rempah. Jadi mencoba makan di Hokben bukanlah pertama kali. Bahkan saat saya tinggal di Denpasar, saya … Continue reading

​Bullying & Pertahanan Diri

Sedikit cerita tentang bullying yang terjadi di jaman saya dulu. Jaman saya juga sudah banyak bullying. Cuman ga ada media sosial jadi tidak pernah jadi perbincangan khalayak umum.

Dulu saat pertama kali masuk SD, saya pernah jadi korban bullying kakak-kakak kelas dan mereka main keroyokan. Tapi, konon saya denger memang mbak-mbak and the geng yang bullying saya ini emang dari keluarganya suka reseh ama tetangga ga khayal generasi mereka pun seperti itu. Kebetulan saat itu kami memang penduduk baru di lingkungan tersebut.
Suatu hari saya pulang dengan menangis karena dibully mereka, Bunda tanya kenapa dan saya cerita. Bunda langsung bicara tegas, kata beliau anak beliau itu ga cengeng kalau hanya hal seperti itu saya harus lawan. Tapi, bagaimana caranya saya cuma anak kelas 1 SD? Bunda kasih saya stick kayu suruh balik dan tantangin mereka semua kalau berani bully saya lagi akan saya pukul, tentu dengan ragu saya lakukan tapi dengan motivasi dari Bunda saya bisa. Mereka bungkam namun bukan berarti besok mereka berhenti, besoknya mereka ngebully saya lagi tapi kali ini saya lebih berani, begitu seterusnya tidak sampai hari ke-4 mereka diam tidak berani deketin saya dan kehidupan saya normal.
Tapi, sialnya di kelas 4  saya yang jadi tukang bully! Saya sering dijewer Pak Guru gara-gara melorotin rok teman sekelas (saya ga pernah ngebully adik kelas) bahkan teman cewek pernah ada yang menangis karena perbuatan saya. Saya pikir saat itu saya hanya iseng dan bercanda saja jadi ga ada konsep bullying di otak meski melakukannya berulang.
Nah, pada suatu hari perbuatan saya ketahuan Bunda di rumah. Saya melakukan bullying ke anak tetangga (saya melakukannya ke dia karena semua orang tidak cuma anak-anak melakukannya). Bunda menghukum saya tidak boleh bermain di luar, hanya di lingkungan rumah. Dan sambil memberi pengertian kalau saya harus menyayangi teman-teman saya apalagi yang berkebutuhan khusus seperti anak tetangga tersebut. Saat itu saya hanya menunduk dan Bunda menambahkan hukuman dengan hanya memperbolehkan saya main dengan anak tetangga yang saya bully.

Di situ Bunda terus-terusan menemani saya bermain, mencekoki saya arti dari pertemanan dan mulai saat itu memang saya tidak pernah diperbolehkan bergaul dengan bebas layaknya teman-teman lain.
Bunda selalu ingin kenal semua teman-teman saya, meski tidak menjudge kalau ada anak-anak yang sopan santunnya kurang Bunda akan mengatakan kepada saya bahwa yang dilakukan anak itu tidak benar dan saya jangan melakukan. Dan akhirnya saya benar-benar belajar untuk menyayangi teman saya yang nota bene kata orang-orang bodoh dan tulalit ini. Akhirnya saya juga bergaul dengan teman-teman yang membuat saya termotivasi buat belajar, kebetulan saya suka kompetisi, saya berkompetisi menjadi paling baik dengan 2 sahabat saya yang semuanya cowok. Kami bermain dan belajar bersama bahkan kadang makan pun bersama di rumah saya.
Mendidik cara ini mungkin tidak akan berhasil di masa sekarang, hanya saja mungkin yang bisa saya ambil dari pengalaman saya adalah membentengi anak dengan kemampuan membela diri, menjadikan anak sebagai sahabat, mengenal teman-teman anak kita dan mengenalkan konsep saling menyayangi baik secara norma ataupun agama penting buat pembentukan karakter anak agar tidak menjadi korban bullying pun pelaku bullying. Semoga saya bisa belajar terus karena anak saya masih balita dan kayanya mewarisi watak preman saya, hehehehe
Okay…challenging 😎😎

The Missing Piece (or Peace)

Ting Tong – Saya menulis ini saat sedang ingin kesunyian karena semenjak Zafa usia 2 tahun dia sangat vokal[dia sekarang 2 tahun 4 bulan], bahkan terhadap semua anak-anak pun orang tua di sekitarnya. Saya sedang belajar dan mempelajari psikologi-nya. Tapi, belum banyak yang bisa saya pelajari. Saya hanya membiarkan dia tumbuh begitu saja sambil memberikan arahan yang bisa  dibilang tak banyak meski waktu saya bersamanya sekarang jauh lebih banyak dari saat saya jadi pekerja kantoran. Mungkin alasan itu (banyak waktu) juga yang membuat saya lebih senang mengamati perkembangannya ketimbang ingin mengaturnya.

Jujur saja, mengamati setiap perkembangan dia secara berkala dengan kondisi saat ini membuat saya merasa lebih legah dan karena saya menjadi orang pertama yang tahu dia bisa melakukan satu keahlian baru, seperti berhitung dari 1 – 10 meski dia suka lompatin number 6 (dia bingung antara six dan eight), mengucapkan kosa kata baru “cucu trai” untuk kereta api. Zafa yang dianggap delay speaking ternyata mulai menguasai banyak kosa kata.

Jadi cerita tentang Zafa, padahal awalnya tentang saya yang sedang butuh waktu sunyi. Sedang merenung tentang banyaknya waktu berlalu tanpa mensyukuri karunia TUHAN.

Tapi, alhamdulillah. Mengurus usaha sendiri stressnya emang beda banget dengan saat ikut orang dulu, seemed like it unecessary to be stressed for! Soalnya dibela-belain stress juga ujung-ujungnya its not for our sake but company. Dan Company pun saat mereka genting lebih condong mikirin diri sendiri. Jadinya, kalau semua orang mikir kaya saya ga akan ada yang kerja ikut orang pun kerja loyal, wakakakaka. Saya sangat berterima kasih yang jelas pernah ada dalam posisi tersebut, karena banyak sekali hal baik yang saya dapat. TUHAN memang sudah mengatur segala sesuatunya dengan sangat tepat dan baik. Tak bisa dibantah!

Jadi missing piece di sini apa? Itu tadi, lupa mensyukuri karunia-karunia yang berupa cobaan dam kerikil-kerikil dalam perjalanan kehidupan.

Pada akhirnya, kita sebagai manusia memang harus mensyukuri setiap hal yang TUHAN sudah tetapkan, ketemu orang brengsek dan penipu pun harus berterima kasih dan bersyukur sehingga bisa lebih berdamai dengan diri. Cara berterima kasih dan bersyukurnya memang susah, tapi setidaknya kita memaksakan diri untuk mencoba agar terbiasa. Kita ingat saja dampak-dampak positive yang ditimbulkannya pasti langsung bisa bilang “beruntung sekali aku….” ada guyonan kan yang mengatakan orang Indonesia itu selalu beruntung. Maka dari itu sudah seharusnya orang-orang di Indonesia harus bahagia.

Tapi, kenyataannya banyak sekali orang-orang Indonesia yang sekarang ini tidak bahagia. Mereka stress dan banyak mencaci, berlaku anarkis. Mereka lupa dengan keberuntungan-keberuntungan yang sudah TUHAN karuniakan terhadap dirinya sebagai bangsa Indonesia. Mereka lupa untuk berterima kasih karena sudah diberikan negara yang aman tanpa perang juga gemah ripah loh jinawi, mereka lupa bersyukur dengan kehadiran technology itu bisa lebih di manfaatkan untuk mempererat silaturahmi bahkan mencari rizky. Pokoknya mereka lupa saja! Bahkan yang mengaku paling bersyukur dan alim pun mengingatkannya sambil mulai mencaci juga melakukan jugdment, lho?

Tapi, ini tadi tentang saya bukan tentang bangsa Indonesia. Karena dalam bayangan saya orang Indonesia itu penuh kasih, toleransi, rukun, punya empathy tinggi dan tidak egois. Jadi, saya berterima kasih pada TUHAN atas karunia itu. 

And… I have no other missing piece at the moment. Terima kasih TUHAN karena saya punya waktu menuliskan ini.

Karena hidup tidak bisa tawar menawar dengan Tuhan

Pernah mengutuk hidup sendiri? “Kenapa aku memiliki hidup seperti ini, penuh derita?” saya pernah melakukannya. 

Menatap langit cerah, penuh bintang, di setiap sepertiga malam seusai sholat malam sambil berurai air mata mencoba merutuk diri dan melemparkan banyan pertanyaan “complaining”. Bodoh sekali saya, habis beribadah seperti itu seharusnya hati itu tenang setidaknya lepas dari rasa galau. Tapi entahlah ibadah macam apa yang saya lakukan saat itu. 

Tapi, saya sadar saat itu saya jadi rajin beribadah juga karena kesedihan tersebut. Kesedihan yang orang tidak bisa tangkap bahkan orang terdekat saya, orang tua. Atau mereka tahu cuma tidak bisa berbuat lebih lagi, lagi pula pantang bagi saya untuk menuntut ini dan itu pada orang tua. Sahabat berbagi rasa saya memang hanya Tuhan. 

Masih ingat dahulu, semasa SD kelas 4 atau 5 kalau ga salah di sekolah akan ada pesantren kilat, semua menyambut dengan gembira yang artinya di luar jam sekolah kami bisa kumpul bareng teman-teman. Tak terkecuali saya yang memang tidak bisa keluar rumah seenaknya, main pun ada jam-nya. Kata Bunda sih “biar kau ga jadi anak liar” kasar sekali kalimatnya, tapi begitu memang gaya bahasanya karena beliau tidak tamat SD. Meski demikian beliau adalah wanita cerdas dan memiliki hati seluas samudera. Wanita yang tulus, apa adanya dam tidak munafik.

Ya, saat itu harusnya saya bahagia sekali ada acara pesantren kilat tapi menjadi sedih karena saya tidak punya baju muslimah yang bagus seperti teman-teman. Baju saya ya itu-itu saja, bahkan banyak yanga hanya baju sisa dari saudara kami yang di Jakarta meskipun kondisinya masih bagus-bagus bahkan lebih bagus dari baju-baju anak di kampung. Tapi, namanya anak kecil..saya pun mencoba meminta ke Bunda dengan bahasa yang lugu dan dengan jujur Bunda bilang “dari mana ada uang? Apalagi acaranya satu minggu lagi” saya tidak berani meminta lagi, masuk kamar dan menangis terisak. Saya pun meminta sama Tuhan sampai tertidur karena kecapekan menangis.

Besoknya, Bunda menunjukkan sebuah bungkusan yaitu bahan baju dengan warnah magenta yang cantik. Katanya itu untuk bikin baju muslimah saya, nanti sore Papa yang anterin ke penjahit langganan. Saya pun sangat bahagia. Dari mana Bunda mendapatkan uang? Bunda tak pernah cerita, tapi hal itu membuka pikiran saya untuk bisa menghasilkan uang.

Sungguh gambaran kehidupan yang membuat saya jauh dari impian setinggi langit. Impian saya itu dulu cuma satu yaitu mengangkat derajat dan martabat orang tua, melepaskan mereka dari jerat kesusahan karena menjadi orang susah kerap dihina dan dikata-katain. Gak jarang kok saya pulang-pulang menangis, bukan karena dibully. Siapa yang berani nge-bully saya, bahkan anak-anak dengan badan besar pun akan saya lawan! Tapi menangis karena mendengar omongan keluarga besar yang ngata-ngatain Bunda. Sungguh jauh dari bahagia.

Tapi, tumbuh dalam kondisi seperti itu membuat saya banyak belajar. Belajar menyemangati diri sendiri, belajar ihklas, belajar bersyukur, belajar dan belajar sampai saya menemukan bahwa bahagia ternyata bukan tentang apa yang saya tuntut atau minta ke Tuhan terkabul atau tidak, tapi saat saya bisa menyadari bahwa kehidupan yang diberikan Tuhan kepada saya itu merupakan berkah luar biasa. BERSYUKUR DIBERIKAN HIDUP sehingga bisa menyicipi banyak rasa.

Karena sudah dibekali hidup, janganlah kita tawar menawar dengan Tuhan. Mencoba mengisi dengan sebaik-baiknya dan menjalani hidup tersebut dengan syukur. Bahkan di saat musibah datang ataupun saya didzolimi orang saya sekarang terbiasa untuk bercermin dan ihklas karena barang kali musibah tersebut adalah kunci untuk membuka pintu keberhasilan yang sedang ingin saya capai yaitu menjadi manusia sukses mulia. Dengan begini saya pun tidak lagi melihat masalah sebagai masalah sehingga orang melihat saya tidak pernah ada masalah, alhamdulillah. 

Inilah hidup kita, tidak bisa ditawar-tawar. Mau bahagia atau tidak itu pilihan.

Pekerjaan v.s Kosekuensi

Biarin lha ya, sekarang nulisnya pakai versus-versusan meski ga ada maksud mengadu mereka, apalagi adu domba. Domba sih bagus diambil woll-nya dan dibuat baju hangat ngapain juga diadu.

Pekerjaan v.s Kosekuensi. Jadi, memang benar semua pekerjaan itu ada kosekuensinya. Bahkan pengangguran pun ada kosekuensinya, karena kamu nganggur ya kosekuensinya ga punya duit, he he he. Kecuali nganggurnya memiliki investasi di mana-mana (ini sih gak nganggur, tapi tetep kerja) atau kalian memiliki warisan banyak, tapi kosekuensinya lama-lama habis juga kalau kita gak kerja untuk melakukan pengelolaan dengan baik.

ALERT : Anda akan banyak bertemu kata KOSEKUENSI dalam postingan ini 😀 Continue reading