Darah & Bait-Bait Kerinduan

If sacrifice can be a prove of love

Cerita ini adalah sebuah dongeng sebuah pembelajaran yang mungkin pernah kita dengar entah di mana, atau malah ini adalah dongeng  ke dua yang berakhir tragis setelah “Scarlet “. Ini hanya sebuah dongeng yang mungkin bisa kita temukan di pojok-pojok rak perpustakaan dengan sampul yang sudah sangat usang atau beruntunglah kalau ini kali pertama ceita ini di tulis dan dibaca karena belum pernah ada sebelumnya 🙂

Ini dongeng tentang seorang sepasang kekasih, seorang Panglima Perang gagah berani yang banyak di kagumi wanita di negerinya dengan seorang gadis sederhana di salah satu sudut kampung kecil yang asri dan indah. Mereka berdua saling mencinta, bahkan kisa cinta mereka banyak menjadi kiasan sajak-sajak para pujangga di negeri itu.

Pada suatu hari, sang Panglima harus pergi berperang. Dengan berat hati dan cucuran air mata sang Gadis melepas sang pangeran, namun demi mengemban tanggung jawab tugas Negara sang Gadis melepaskan juga sang kekasih ke medan perang. Setiap malam sang Gadi sberdoa dengan cucuran air mata agar sang kekasih selamat, karena perang kali ini benar-benar peperangan yang luar biasa.

Setelah 3 bulan berlalu, perang usai. Sang Panglima pulang membawa khabar gembira dengan jumlah prajurit yang tersisah. Mereka pulangmembawa kemenangan, dan tentu saja berita kemenangan itu membawa Panglima semakin di puja-puja dan memiliki tempat istimewa di Istana maupun hati para rakyat di Negara itu, tak terkecuali sang Gadis sederhana  yang masih tetap dengan setia menanti kepulangan sang Panglima.

7 hari telah berlalu, sang Panglima yang sudah pulang dari perang tak kunjung berkunjung untuk bersua sang kekasih, hanya dua kali mengirim seorang prajurit menyampaikan sebuah surat bahwa dirinya sedang capek dan sakit. Dengan sepenuh hati sang Gadis memasakkan makanan kesukaan Panglima, mengirim  makanan itu ke istana, namun sang Gadis tak pernah bisa menemui sang Panglima.

Sang Gadis selalu kembali ke rumahnya dengan hati kecewa karena tak pernah mampu bersua dengan sang kekasih, setiap saat dia berdo’a agar sang kekasih cepat membaik dan mereka dapat melewati hari-hari lagi, berkuda berdua menyusuri bukit seperti biasanya. Dalam suatu malam dengan rindu yang sudah tak tertahan sang Gadis menuliskan sebuah surat dengan darahnya, menunjukkan betapa rindunya dia pada sang pujaan hati.

Dengan telunjuknya dia mengirimkan sebaik sayair kerinduan untuk sang pujaan hati dan mengirimnya ke istana, namun sayang tak ada tanggapan, hari kedua dia mencoba membuat bait-bait kerinduan yang lain dengan darahnya, dan masih tak ada jawaban, berlanjut ke hari ketiga, keempat, kelima, keenam dan sampai bait-bait kerinduan ketuju si Gadis sudah dalam keadaan lemah karena kerinduannya membuat dia tidak enak makan sedangkan dia terus mengeluarkan darah untuk menuliskan bait-bait kerinduan itu pada sang pujaan hati.

Tapi, sepertinya sang Panglima belum sadar juga kalau ada seseorangyang begitu khawatir dan merindukannya. Hingga pada suatu senja, dari jendela Istana dia menatap hamparan bukit di seberang dia baru tersadar dengan tumpukan-tumpukan bait puisi kerinduan sang kekasih hati yang selama ini hanya dia baca tanpa dia pedulikan. Dia baru sadar kalau selama ini dia sudah mengabaikan orang yang disayangi dan menyayanginya.

Dengan langkah tergesa Panglima langsung naik ke punggung kuda putih yang selalu menemaninya berperang, melajunya dengan kencang ke rumah gadis pujaannya. Tapi, sayang saat dia tiba di sana dia tidak menemukan senyum manis dan sambutan ceria sang kekasih yang ada hanya tubuh terbujur kaku di atas tempat tidur dengan selembar kertas dan darah yang sudah mengering di salah satu jarinya, dia sedang menulis bait-bait krinduan yang ke delapan. Tapi bait kerinduan itu terputus hanya ada empat kata dengan tulisan sulit dibaca “ Aku sayang kamu, Panglimaku “. Dengan air mata sang Panglima menciumi wajah dingin sang Gadis yang sudah terbujur kaku itu, lalu mengengkat tubuh kaku itu menaikkannya ke kuda dan membawanya menelusuri bukit ke tempat yang ia janjikan dulu saat sebelum berangkat perang yaitu membawa sang kekasih menatap senja dari atas bukit.

Advertisements

33 thoughts on “Darah & Bait-Bait Kerinduan

  1. Pingback: Aku ingin… « Pendar Bintang

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s