Ungkapan Kecemasan

Pengalaman tak selalu menjadi guru yang terbaik...

Air tergenang mulai mengering, udara dingin yang menyisah membuat bulu kuduk sedikit merinding. Ada banyak yang tersisah dari hujan semalam. Keegoisan, ketamakan, ketidak pedulian dan dari sisi saya sendiri kemarahan dan prasangkah yang kurang baik.

Inginnya menangkal dengan rasa welas asih dan pemahaman, tapi terlalu naïf karena kenyataannya demikian. Sekilas terdengar berita banjir di mana-mana yang menyisahkan keluhan, sumpah serapa terhadap alam dan ketidak adilan Tuhan. Kemana saja kalian? Kenapa untuk belajar bijaksana harus dibayar mahal dengan cucuran air mata dan penyesalan kemudian?

Saya tidak ingin sok tua atau sok bijak, hanya ingin mengungkapkan kecemasan saya. Seorang sahabat memang telah memberi tahu saya kalau kepedulian itu lahir dari diri sendiri, tapi dengan melihat kejadian seperti ini kan seharusnya bisa belajar.

Jadi ingat nasehat Ayahku suatu ketika, ada tiga jalan menuju bijaksana katanya, pertama dengan perenungan yang murni dari kearifan diri sendiri, kedua mencontoh sikap bijaksana orang lain, dan ini sebenarnya yang paling mudah dan yang terakhir dengan pengalaman sendiri dan ini adalah hal yang menyedihkan sebenarnya karena akan menyakitkan walaupun akhrinya akan menjadi bijak.

Pengalaman tak selalu menjadi guru terbaik, karena harus ngerasain dulu baru belajar dan tidak jarang biaya pembelajarannya sangat mahal.

Semoga kita semakin hari semakin bijak dan arif dalam meniti hidup ini.

Advertisements

39 thoughts on “Ungkapan Kecemasan

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s