Untuk kalian, Ibunda..


Aku, sekali lagi aku sangat beruntung memiliki hidup yang luar biasa di dunia ini. Bukan karena aku dilahirkan sebagai anak orang kaya yang ingin apa saja serba ada, bukan justru sebaliknya karena aku terlahir di keluarga yang sederhana tapi penuh kasih.

Terlahir dari seorang Ibu yang berpikiran sederhana dan selalu mengajariku untuk mengasihi orang yang menyakitiku, menjaga orang yang menyayangiku, yang tak pernah berhenti mengajariku tentang kasih sayang, yang mengajariku sebagai gadis sederhana yang tegar walau kadang memang tak setegar yang beliau harapkan, karena bagaimanapun juga, putrinya ini tetap seorang gadis kecil yang butuh menangis dipelukannya, membutuhkan pangkuannya saat sedang lelah, dan menginginkan belaiannya saat lemah.

Kasih bunda membuatku sangat menyanjung seorang Ibu, bahkan aku menilai seseorang dari bagaimana dia memperlakukan ibunya. Jika seseorang tidak dapat memperlakukan ibunya dengan baik, sudah pasti dia bukanlah orang yang baik. Tidak benar, yah? Entahlah itu hanya pendapatku….

Secara darah aku memiliki satu Ibu, yaitu Bundaku. Namun, aku sesungguhnya memiliki ibu-ibu yang lain, yang tersimpan nyaman di hatiku, yang benar-benar aku sayangi sebagai ibu, bahkan aku tak pernah membedakannya, dan untuk itu bahkan aku meminta pengertian Bundaku untuk aku membagi waktu untuk ibu-ibuku yang lain. Dan Bundaku dengan tangan terbuka bahkan mendukungku untuk berbagi kasih dengan mereka. Ah…semakin sayang dengan Bundaku tercinta 🙂

Aku memiliki Bu Chris, Ibuku ini tinggal di Darwin, Australia. Beliau sangat menyayangiku seperti putrinya sendiri, entah kenapa mungkin karena dia tak memiliki seorang putri. 3 Orang anaknya lelaki semua. Awalnya, beberapa tahun yang lalu melalui adiknya dia mengenalku, lalu menjodohkan aku dengan anak pertamanya, namun kami tidak berjodoh, anaknya mengalami kecelakaan saat berlibur ke Bali dan meninggal. Semenjak itu kami malah semakin dekat.

Setiap berlibur ke Indonesia disempatkannya berjalan-jalan denganku, bercerita, menangis dan memelukku sudah menjadi kebiasaannya atau kami benar-benar melakukan waktu berdua di kamar, di balik selimut sambil tiduran kami bercerita.

Sebulan yang lalu, dia sms dan bilang sedang sakit. Sempat menitikkan air mata saat dia bilang “sayang, tidak ingin menjenguk ibu? Ibu rindu, ingin kamu di sini” Ah, apa dayaku…

Yang kedua, Mama Ky. Aku biasa memanggilnya Mama, dia ibunda dari kekasihku. Kami kenal juga belum lama, mungkin kurang lebih satu tahun, tapi entah kenapa, seperti pada ibu-ibu yang lain aku cepat dekat begitu pula dengan beliau. Dengan beliau aku banyak berbagi cerita, bahkan pernah suatu hari aku menangis mendengar salah satu ceritanya, sayang aku sedang tidak di sana, ingin rasanya memeluknya.

Jangan berpikir aku mendekatinya hanya karena ingin mengambil hatinya, ALLAH maha tahu itu, beliau bukan anak kecil pasti juga bisa membedakan mana perasaan sayang yang sebenarnya dan mana yang bukan. Aku hanya menyayanginya, seperti aku menyayangi Bunda, karena aku sakit saat tahu dia sakit dan menangis saat dia sedang sedih. Sore ini ingin sekali memeluknya, seperti aku ingin memeluk Bunda, tapi sayang jarak yang jauh tak memungkinkan.

Hari ini adalah hari Ibu, hari ulang tahun untuk Bunda juga Mama seandainya aku ada di dekat mereka pasti aku bisa melakukan banyak hal yang lebih berharga, tak hanya do’a dan tulisan. Malam ini, aku berdo’a terkusus buat kalian berdua “Semoga usia kalian menjadi waktu yang penuh rahmat, penuh berkah dan diridhoi ALLAH. Dan semoga diusia kalian aku dapat memberikan kebahagiaan meski sedikit. I love you”

Aku ingin memeluk kalian dan meciumi pipi kalian yang mulai mengendur sebagai bukti perjuangan kalian membesarkan anak-anak kalian yang belum berbakti dan mampu membuat kalian bahagia.

Untuk Bu Chris, Hani hanya bisa mengirim do’a semoga ibu dikarunia kesehatan dan semoga hani nanti bisa jalan-jalan ke Darwin menengok Ibu agar tak hanya Ibu yang menengok Hani. Ingin merasakan pelukan Ibu, yang ibu bilang sekarang lebih hangat karena berat badan ibu naik.

Dalam kesempatan ini, aku juga ingin mengucapkan special thanks buat Bunda Lily yang secara tidak langsung telah mensupport meski hanya lewat comment dan artikelnya. Bunda juga Ibuku meski kita tak pernah bertemu, peluk sayang selalu.

42 thoughts on “Untuk kalian, Ibunda..

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s