Scarlet dan Sahabatnya

Ilustrasi Scarlet

Scarlet gadis kecil lincah cantik berambut panjang dan bersenyum manis, siapapun yang melihatnya pasti akan gemas dan ingin mencubit pipi cubbynya. Keluguhannya, keceriaannya sangat menggemaskan dan memancarkan keindahan, sungguh bagaikan malaikat kecil yang dengan ceria melompat kesana kemari.

Scarlet mempunyai sahabat, seekor burung berbulu indah dengan sayap-sayap indah dan kuat, yang akan melindungi diri dari dingin di saat musim dingin kedalam gua.

Suatu hari Scarlet pulang dan menangis, ditemuinyalah sang sahabat si burung berbulu indah.
“ ada apa gadis manis? “ Tanya sang sahabat, sambil mengepakkan sayapnya. Scarlet terisak.
“ teman-temanku pergi ke taman bermain di pulau dan aku tidak diajaknya” isak Scarlet, matanya sembab.
“ Kenapa kamu tidak diajaknya? Bukannya kalian selalu bermain bersama-sama “ Tanya si burung sabar dan selalu sabar menjadi teman Scarlet.
“perahu yang mengankut kami tidak muat, sebenarnya aku bisa saja memaksa ikut tp akan ada satu temanku yang tidak ikut jika aku ikut, aku tidak bisa karena temanku tidak pernah pergi kesana sekalipun” cerita Scarlet. Ah, si kecil Scarlet rela dirinya yang tidak ikut demi seorang temannya. Tapi Scarlet tetaplah anak kecil yang akan sedih jika tidak bisa bermain dengan teman-temannya.
“ Andai saja aku punya sayap, aku pasti akan terbang kesana menyusul mereka “ tambahnya. Sang burung menatap sayapnya yang dia lebarkan salah satu. Sayap kuat kebanggaannya, sayap indah yang membuat semua bangsa burung iri padanya.
“ aku akan berikan sayapku padamu, sahabatku “ ujar sang burung sambil tersenyum. Mata bulat Scarlet langsung berbinar.
“ Benarkah?terimakasih sahabatku “ Ujar Scarlet seketika bersemangat dan memeluk Sang Burung. Sang Burung tersenyum dan bahagia melihat sahabat yang disayanginya bahagia meski sebenarnya dirinya terluka, satu-satunya kebanggaannya harus dia serahkan pada sahabatnya. Tak apa asal sahabatnya bisa tersenyum, begitu pikirnya.

Akhirnya sayap itu menempel indah di antara punggung Scarlet dan sangat cantik. Tentu saja gadis itu sangat bahagia, dia belajar mengepakkan sayapnya sedikit demi sedikit lalu terbang tinggi. Sang sahabat menyaksikan dengan bahagia dan membiarkan Scarlet terbang kemanapun yang dia inginkan.

Tiba pada musim dingin, Sang Burung berdialog dengan Scarlet menyampaikan keinginannya.
“ Gadis manis, musim dingin sudah tiba, kamu tahu aku tidak bisa bertahan kalau tidak berlindung ke dalam gua, maukah engkau pergi mengantar dan menemaniku, sahabatku? “ pinta Sang Burung, Scarlet mengerutkan dahi.
“ tapi aku tidak bisa, karena aku mau pergi dengan teman-temanku. Kami akan tinggal di sebuah istana hangat selama musim dingin “ jawab Scarlet. Sang burung menitikkan air mata, menatap sayap indahnya yang kini menempel di antara bahu Scarlet. Ah, tanpa itu mana mungkin juga aku bisa bertahan pikirnya, dan bagaimana aku pergi ke gua. Tak ingin memaksa dan meminta yang ke dua kalinya, Sang Burung pamit dan berlalu berharap dapat sampai di gua sebelum musim dingin.

Musim dingin berlalu, Scarlet yang selama musim dingin merasa sangat merindukan Sang Burung itu segera pergi ke tempat mereka biasanya bertemu, namun sial bagi Scarlet karena sang sahabat tidak ada di sana. Hampir setiap hari Scarlet datang dan sang Burung tak kunjung datang, hingga sampai hampir tiba musim dingin lagi, akhirnya Scarlet memutuskan mencari sang Sahabat ke Gua tempat sang Sahabat biasa berlindung dari dingin.

Sesampai di sana, semua teman-teman sang Burung memandang Scarlet dengan mata berkaca-kaca, menatap sayap indah di selah punggung Scarlet.
“ di mana sahabatku? “ Tanya Scarlet, tak ada yang menjawab hingga Scarlet mengulangi pertanyaannya lagi.
“ di mana sahabatku?aku sangat merindukan dia? “
“ musim dingin lalu dia sampai di mulut Gua tanpa sayap dan dalam keadaan sekarat, dan ini adalah musim dingin ke dua kami tanpa dia. Dia meninggal “ jawab salah satu kawanan burung.

Scarlet langsung jatuh tersimpuh, dia menyesal karena sudah tidak pergi menemani sang sahabat, kini yang tersisah hanya sayap indah yang menempel di antara bahunya dan rasa penyesalan. Dia baru sadar ternyata dia tidak butuh sayap-sayap itu, yang dia butuhkan adalah sang Sahabat. Tapi, ini membuat dia belajar untuk menghargai sebuah pengorbanan.

P.S. Repost artikel Bulan Agustus untuk mengingatkan saya tentang arti pengorbanan 🙂

20 thoughts on “Scarlet dan Sahabatnya

  1. soree say..
    hiks..hiks.. sedih..
    sahabat memang segalanya meski butuh pengorbanan..

    Sore Mbak…..iya pengorbanan yang kadang tidak dilakukan oleh orang yang kita harapkan 😦

  2. Utk mdptkan sesuatu memang kadang2 perlu ada yg dikorbankan ya, mbak…
    Meskipun itu hrs menyisakan penyesalan yg mendalam…
    Selalu ada harga yg hrs dibayar..hehehe

    Bener sekali ini, Mbak.
    Harus ada yang dikorbankan 🙂

  3. Pingback: Aku ingin… « Pendar Bintang

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s