Putri Ana Jelita & Lelaki tua


Tersebutlah seorang putri cantik dan jelita di negeri Hanasuki, sebuah negeri nan indah dan asri dengan taman bunga di mana-mana. Sang Putri bernama Ana Jelita suka sekali bermain di taman, menghabiskan waktu dengan mengamati bunga-bunga yang sedang tertipu angin, atau sedang dihisap madunya. Pemandangan seperti itu membuatnya tersenyum dan belajar bahwa hidup memang harus saling mengisi dan mengasihi.

Di samping suka mengamati bunga, Putri Ana Jelita juga suka membeli segala bibit bunga di salah satu kota yang tak jauh dari ibu kota, tempat tinggalnya. Bibit-bibit bunga yang dibelinya pun tak jarang sangat mahal, namun karena itu adalah hobby dan kesukaan Putri Ana Jelita tak pernah peduli menghamburkan uang untuk itu, sehingga di taman istananya banyak sekali bunga-bunga indah dan berharga mahal.

Pada suatu hari, Putri Ana Jelita berbelanja tanpa di kawal pengawalnya karena Putri Ana Jelita juga termasuk seorang putri yang sederhana, dia tak ingin menarik begitu banyak perhatian, dia juga putri yang sangat mandiri tak sama sseperti putri-putri pada umumnya yang manja.

Dalam perjalanan pulang dari membeli bibit-bibit itu Putri Ana Jelita bertemu dengan seorang lelaki tua yang mendekatinya.

” Nona, bantulah saya. Saya butuh sedikit saja uang untuk makan saya seharian ini belum makan sedangkan saya juga harus bekerja mencarikan makan 3 anak saya di rumah ”

Kata lelaki tua dengan pakaian usang itu lirih, Putri Ana Jelita mengerutkan dahi, sedikit tak yakin dengan apa yang dikatakan lelaki tua itu meski sebenarnya hati nuraninya tergugah untuk menolong.

” Tolonglah saya Nona…. ”

Lelaki tua itu sedikit memohon. Putri Ana Jelita masih berpikir dan menimbang-nimbang, karena akhir-akhir ini banyak sekali penipuan, dan modusnya sama dengan yang dilakukan lelaki tua ini. Setidaknya itulah yang didengarnya dari Perdana Menteri beberapa hari yang lalu saat melapor ka ayahandanya. Tapi, Putri Ana Jelita tak mau mengabaikan hati nuraninya, lalu dia memberikan beberapa keping uang yang cukup untuk sepiring nasi dengan lauk sepotong ayam ke lelaki tua itu.

Tanpa di duganya lelaki tua itu berucap terimakasih sambil mencium kaki Putri ANa Jelita, tentu saja Putri Ana Jelita mencegahnya dan lalu membiarkan lelaki itu berlalu dengan muka ceria.
Tertegun Putri Ana Jelita menatap kepergian lelaki tua itu, dia menyesal kenapa hanya memeberikan beberpa keping uang kepada lelaki tua itu? bagaimana kalau ternyata di rumahnya lelaki tua itu benar-benar memiliki anak yang kelaparan? Kenapa dirinya tak memberi uang lebih banyak lagi, padahal dia memiliki uang itu? padahal untukmembeli bibit-bibit bunga itu dia rela mengeluarkan bahkan 100 kali lipat banyaknya dari uang yang diberikan ke lelaki tua itu.

Putri Ana Jelita menitikkan air mata, dia tersadar terkadang untuk satu kebaikan kecil saja dia terlalu banyak pertimbangan padahal untuk kesenangannya sendiri dia rela menghabiskan uang yang banyak.



Semoga dongeng singkat ini menjadi pengingat saya agar untuk melakukan satu kebaikan kecil saja saya nggak banyak pertimbangan.

65 thoughts on “Putri Ana Jelita & Lelaki tua

  1. hehe…. menohok sekali neh ceritanya. saya juga sering tanpa pikir membeli sesuatu yang saya senangi, apalagi saya ini pada dasarnya adalah orang yang boros. maka, sejak tahun kemaren pun saya berjanji pada diri sendiri untuk menyisihkan uang tiap bulan demi membantu sesama… hehe kebaikan karena perasaan bersalah.^^
    Bagus ceritanya Han, lanjutkan! 😉

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s