Cinta tak bersyarat


Iwan Fals – Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….


Hari ini cuaca sedang tak baik, sepanjang hari hujan lebat disertai angin kencang. Cuaca yang seperti ini yang membuat Nadine merasa bertambah tak nyaman berada di rumah mungil ini. Dia menatap Ibunya yang terlihat khusyu menonton TV, sebuah acara gossip murahan buat Nadine.

“Shit!” umpat Nadine saat tiba-tiba muncul iklan dan Ibunya memindah channel, karena meski tak suka Nadine sedang menikmati tontonan gossip tak jelas itu. Benci sekali dengan tingkah Ibunya yang memindah-mindah channel layaknya anak kecil.

“Bu, jangan dipindah-pindah kenapa,sih?” hardik Nadine keras Ibunya sampai kaget

“Memangnya sayang sedang nonton, yah?” tanya Ibunya lembut, Nadine sudah bersungut-sungut

“ Mau nonton kek, nggak kek, kalau nglihat Ibu yang kayak anak kecil mindah-mindahin channel gitu pusing tahu! Pusing!”
geram Nadine, lalu dia langsung beranjak ke dalam kamar. Saat masuk ke dalam kamar kekesalannya bertambah lagi karena dia melihat ada mukenah di lantai yang belum di rapikan.

“Buu…..” teriak Nadine panjang sambil memungut mukena itu, melempar ke dalam keranjang baju kotor di belakang pintu. Ibu Nadine yang mendengar teriakan anak semata wayangnya itu langsung lari, khawatir ada apa-apa.

“Ada apa, Nak?” tanya sang Ibu menatap anaknya yang sedang berang dengan mata merah berkaca-kaca, tangannya masih memegang remot…

“Astaugfirullahaladizim….”gumam Ibunya saat melihat mukenanya yang memang sengaja tak dia bereskan karena waktu Magrib sudah dekat sudah berpindah ke keranjang baju kotor. Perempuan tua yang sudah ringkih itu hanya mengurut dada, di ambilnya mukenahnya lalu masih mencoba tersenyum menahan sakit hati.

“ Ya sudah, kamu istirahat ya, Nak,….biar besuk saat suamimu menjemput kamu nampak segar” gumamnya lembut, lalu keluar dari kamarnya sendiri yang sengaja di tempati Nadine untuk sementara waktu saat Nadine berada di sini karena suaminya sedang di luar kota. Wanita tua itu menutup pintu kamar berlahan, dengan mukenah di pelukannya, dia melangkah gontai menuju kursi panjang di depan TV, meletakkan mukenahnya di atas kursi itu. Matanya yang tak lagi tajam menerawang hujan….

Dulu, sebelum Nadine diperistri seorang pengusaha muda sukses seperti sekarang ini dia amatlah manis dan sangat menyukai hidup yang sederhana. Tidak pernah dia mengkomplain mukenah yang tergeletak di lantai, tak pernah menonton TV pun dia tak protes ..jangankan menonton TV mendengarkan radio saja dia tak bisa terlalu sering karena dia tak ingin mengganggu waktu istirahat ibunya yang setiap pagi bangun pagi demi berjualan di pasar, untuk apa? Apalagi kalau bukan untuk dirinya…

Berjalan kurang lebih 2 kilo setiap pagi dan siang hari menjinjing sekeranjang jajanan untuk dijual dipasar, sorenya masih di lanjut membuat jajanan lagi untuk di jual keliling, semua itu untuk Nadine, untuk biaya sekolahnya agar Nadine mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari dirinya.

Menjadi orang tua tunggal bukanlah perkara mudah, tapi keberadaan Nadine benar-benar membuatnya kuat dan terus berjuang melewati hidup. Dan kini dia bisa membuktikan kepada dunia, bahwa sepeninggal suaminya dia dapat membesarkan Nadine, memberikan Nadine pakaian yang layak, menyekolahkan Nadine di sekolah terbaik dan sampai akhirnya Nadine mendapatkan suami yang baik juga, seorang pengusaha muda sukses yang membuat kehidupan Nadine menjadi jauh lebih baik. Kehidupan Nadine bukan dirinya, karena kehidupannya serasa hampa, dia tak lagi merasakan kasih sayang anak semata wayangnya.

Anaknya kini telah berubah, kehidupan yang lebih baik telah melupakan perjuangan ibunya. Nadine telah berubah menjadi seorang yang merasa selalu benar dan lebih pintar, terutama pada Ibunya.

Bunyi telpon di meja dekat TV membuyarkan lamunan Ibunda Nadine. Dengan langakah yang pelan walau sudah dipercepat dia mengangkat horn telephone.

“Hallo, assalamualaikum” sapanya pelan

“Waalaikum salam, selamat malam Ibu, bisa saya bicara dengan Ibu Nadine” suara di seberang tampak tergesa-gesah.

“Iya, saya Ibundanya Nadine, ada apa ya? Nadine sedang tidur….” Jawab Ibunda Nadine terdengar khawatir, karena jujur saja entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidal enak.

“Ibu, saya ingin memberitakan kalau……” Ibunda Nadine hanya mendengar sampai di situ, karena horn telephone sudah berpindah ke tangan Nadine. Anak itu merampasnya dengan paksa dari tangan sang Ibu. Tak lama, beberapa detik kemudian, horn telephone terjatuh ke lantai, lutut Nadine lemas, lunglai dan matanya berkaca-kaca…dia hampir jatuh tersungkur, namun ibunya segera menangkapnya ke dalam pelukan…..

Apakah berita yang di dengar Nadine sehingga reaksinya demikian? Dan bagaimana kelanjutan nasib Nadine dan Ibunya? Kita tanyakan kepada Mbak Lely, kakak kita di www.jumialely.com

Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com

Advertisements

76 thoughts on “Cinta tak bersyarat

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s