Saat saya bilang “cukup”

Saat itu saya berjalan menelusuri sebuah lorong gelap yang panjang, lorong itu sangat sepi dan menakutkan tapi anehnya saya tak punya perasaan apa-apa selain ingin melewatinya dan ingin tahu apa yang ada diujung sana karena saya dengar di sana ada sebuah taman indah dengan bunga-bunga yang wanginya semerbak dan yang membuat saya sangat antusias adalah di tengah-tengah taman itu ada air mancur yang indah dengan lampu warna-warni saat malam hari.

Saya berjalan dan berjalan menelusurinya, tak jarang saya tersandung karena ini lorong gelap jadi wajar kalau saya hanya mengandalkan “keinginan atau kemauan kuat menuju tujuan; taman indah itu” dengan keinginan atau kemauan kuat itu saya mampu melewati lorong itu hingga beberapa meter panjangnya, ah lelah juga berjalan di sini ingin sekali menyerah, tapi menyerah bukanlah saya. maka saya teruskan perjalanan yang memang sudah saya putuskan sendiri.

Dalam kegelapan itu tak jarang saya menemukan beberapa alternatif bagaimana agar perjalanan saya lebih lancar, dan iya…lebih lancar dan saya menikmati perjalanan saya di lorong panjang ini. Sampai pada beberapa lama saya berjalan, saya menemukan setitik cahaya terang, mata saya berbinar bahagia karena ujung lorong ini sudah nampak dan lorong ini tak segelap tadi sehingga saya berlari, dan sampailah saya di ujung lorong itu……

Menatap apa yang ada di depan saya, saya kecewa, menahan senyum bahagia saya karena taman indah itu tak saya dapati, hanya hutan belantara. Akhirnya saya harus belajar menerima hasil dari apa yang sudah saya upayakan, saya tidak mau menyalahkan diri saya yang telah mengambil keputusan melewati lorong ini karena saya juga telah menemukan banyak hal di perjalanan saya. Saya sudah berusaha menuju taman indah itu.

Dan saya tak menghentikan langkah saya hanya sebatas belantara itu, saya berjalan lagi dan menemukan sebuah lorong gelap lagi yang harus saya lewati, tetap dengan semangat dan keyakinan akan melihat taman indah itu saya akan menelusuri lorong gelap itu.

“Cukup, meremehkan saya! Cukup menakuti saya! Karena saya bukanlah si plin-plan yang akan segera berbelok arah mencari jalan lain saat mengetahui perjalanan saya akan banyak batu kerikil. Saya bilang cukup dan jangan berkata apa-apa lagi, karena saya akan memegang kata-kata saya dan mempertanggung jawabkan apa yang sudah saya putuskan!”

Advertisements

5 thoughts on “Saat saya bilang “cukup”

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s