Puisi cinta siapa?


Aku duduk bersimpuh di depan kardus besar berbau apek di mana aku menyimpan buku-buku lama dan berbagai kertas-kertas usang. Mengeluarkan setiap isinya satu persatu, membukanya, membacanya takut kalau masih penting sebelum aku membuangnya.

Tiba pada giliran pada sebuah buku notes kecil, ada sebuah amplop jatuh dari notes kecil yang berisi tentang jadwal dan catatan-catatan singkat tentang ungkapan amarah-amarah, ah….ini buku tentang luapan amarahku, tapi terlalu bagus jika disebut diary, karena ini hanya sebuah notes kecil.

Dan lagi, aku memungut amplop yang terjatuh dari notes yang terjatuh tadi. Amplop hijau yang belum pernah dibuka, pelan dan hati-hati aku membuka dan sedikit terkejut mendapati isinya secarik kertas putih polos berisi puisi. Continue reading