Puisi cinta siapa?


Aku duduk bersimpuh di depan kardus besar berbau apek di mana aku menyimpan buku-buku lama dan berbagai kertas-kertas usang. Mengeluarkan setiap isinya satu persatu, membukanya, membacanya takut kalau masih penting sebelum aku membuangnya.

Tiba pada giliran pada sebuah buku notes kecil, ada sebuah amplop jatuh dari notes kecil yang berisi tentang jadwal dan catatan-catatan singkat tentang ungkapan amarah-amarah, ah….ini buku tentang luapan amarahku, tapi terlalu bagus jika disebut diary, karena ini hanya sebuah notes kecil.

Dan lagi, aku memungut amplop yang terjatuh dari notes yang terjatuh tadi. Amplop hijau yang belum pernah dibuka, pelan dan hati-hati aku membuka dan sedikit terkejut mendapati isinya secarik kertas putih polos berisi puisi.

Hatiku,
aku tahu kau tidak sedang tertidur, tapi sedang merasakan getar-getarnya
mencoba menterjemahkan setiap katanya,
mencoba arungi waktu bersamanya,
mencoba mempercayainya

Hatiku,
apakah aku terlalu angkuh dan tak mau mengerti cintaku?
Kenapa kau memilih memeluk cintaku dan abaikan dirimu?
kau tahu siapa yang aku rindu?
Bukan tatanan hati yang bertahtah atau berjiwa besar,
tapi cinta yang memberi kasihnya dengan tulus seperti halnya dirimu.

Hatiku,
Aku tak ingin mengingkarimu
tak ingin pula menyakitimu
Engkau telah bersemayam indah dalam raga ini
peluklah cintaku, dekaplah aku
antarkan aku dalam damai kasih bersama cintaku

Hatiku,
ini adalah rintihan manis dari jiwa tak berarti jika tanpamu
ini adalah dirimu, yang menuntunku untuk mengasihi,
dan mencicipi manisnya kasih, menelan pahitnya kasih
dan membuatku belajar tentang keindahannya.
Dirimu yang mengantarku agar terus tegap berjalan,
memeluk cinta dengan sayap-sayap kecil ini,
menerangi gulita malam walau hanya sebagai lilin-lilin kecil.
Inilah aku untuk hatiku.

Tak ada nama siapa penulisnya, hanya tertulis hari dan tanggal; Jum’at, 30 Mei 2009.

Puisi ini milik siapa? dan kenapa ada di sini? apa maksudnya?

“Sayang….” sebuah suara muncul dari belakangku, dia mengambil secarik kertas ditanganku, dia membaca bait-bait puisi di situ lalu pandangannya beralih ke arahku. Lama kami saling pandang, aku tak berani menebak apa isi hati suamiku yang tepat menikahiku semenjak dua tahun lalu, 30 Mei 2009!

30 Mei 2009, tanggal puisi itu, tanggal pernikahan kami….ah, puisi siapa ini? kenapa ada di sini bersama buku-bukuku? jelas ini ditujukan padaku karena di sampul aplop tertulis namaku.

Suamiku mengembalikan kertas itu, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan aku.

Aku percaya jika ini memang dari seseorang yang dulu sangat berarti untukku pastilah sudah menjadi kenangan, kenangan ini tak akan menjadi apa-apa buatku. Tapi suamiku terlihat cemburu, apa dia juga sepertiku yang sering cemburu melihat sisah-sisah cerita kenangan indah yang dimiliki suamiku bersama mantan kekasihnya dulu.

Advertisements

34 thoughts on “Puisi cinta siapa?

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s