Ujung Penantian

Langit jingga terpampang ribuan kilo meter di kejauhan sana, aku hanya mampu menikmatinya dari kursi ini, sendiri.

Aku menatapnya lekat, hingga akhirnya warna jingga itu menjadi warna pekat dan yang ada tinggalah gelap.

Malam kian merangkak, dan aku masih duduk di sini menikmati kesendirianku, menunggu pagi berharap dia berlari agar penantian ini segera berakhir.

17 kuntum mawar merah di atas meja ini masih segar karena engkau mengirimnya setiap minggu sekali melalui florist yang sudah engkau kenal, tahukah engkau saat orang dari florist membawa seikat mawar itu datang aku berharap orang itu adalah kamu…

Merah merona dengan semerbak wangi alami mengantarkan rasamu bertemu rasaku, hingga akhirnya hati kita menyatu…

Besuk adalah hari pernikahan kita, tapi kenapa waktu ini seakan tak mau tahu kalau aku di sini ingin segera kita bersatu?

Kasihku, saat bunga-bunga itu berdatangan padaku saat itu yakin bahwa engkau adalah pangeran yang dikirim untuk mengisi hari-hariku. Bersyukurlah kita pada-Nya yang telah mempertemukan kita bukan pada suatu kebetulan, melainkan rencana indah-Nya untuk kita.

Inilah ujung penantian kita, sayang…

Advertisements

23 thoughts on “Ujung Penantian

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s