Ujung Penantian

Langit jingga terpampang ribuan kilo meter di kejauhan sana, aku hanya mampu menikmatinya dari kursi ini, sendiri.

Aku menatapnya lekat, hingga akhirnya warna jingga itu menjadi warna pekat dan yang ada tinggalah gelap.

Malam kian merangkak, dan aku masih duduk di sini menikmati kesendirianku, menunggu pagi berharap dia berlari agar penantian ini segera berakhir.

17 kuntum mawar merah di atas meja ini masih segar karena engkau mengirimnya setiap minggu sekali melalui florist yang sudah engkau kenal, tahukah engkau saat orang dari florist membawa seikat mawar itu datang aku berharap orang itu adalah kamu…

Merah merona dengan semerbak wangi alami mengantarkan rasamu bertemu rasaku, hingga akhirnya hati kita menyatu…

Besuk adalah hari pernikahan kita, tapi kenapa waktu ini seakan tak mau tahu kalau aku di sini ingin segera kita bersatu?

Kasihku, saat bunga-bunga itu berdatangan padaku saat itu yakin bahwa engkau adalah pangeran yang dikirim untuk mengisi hari-hariku. Bersyukurlah kita pada-Nya yang telah mempertemukan kita bukan pada suatu kebetulan, melainkan rencana indah-Nya untuk kita.

Inilah ujung penantian kita, sayang…

Akuilah kesalahanmu…

Salah bukan berarti kita itu bodoh dan kita tak baik, bahkan nabi Muhammad pun berkata (seingat saya pas saya ngaji dulu) orang baik bukannya orang yang tak pernah melakukan kesalahan, melainkan yang mau belajar dari kesalahannya.

Namun, sejati kita sebagai manusia memang suka jaga gengsi untuk mengakui kesalahan apalagi minta maaf. Namun, tahu nggak sih kalau hal itu sangat menjengkelkan dan merugikan orang lain? Karena gengsi kita orang bisa sebel sama kita, ya..pada akhirnya ngefek ke kita juga.
Continue reading

Sepotong Luka Cinta



“Bruk” ah, ini ketidak hati-hatianku berjalan sambil melamun di jalanan seramai ini. Tak seharusnya. Seseorang dengan tinggi kira-kira 1.90m melihat ke arahku yg masih saja diam memaku padahal sudah menubruknya.

Aku mmencoba tersenyum, tapi sungguh sulit karena tak singkron dengan hati ini. Tapi, aku tahu ini tak benar.

“Couldn’t you see here?” Tanyanya, aku masih dengan senyum kaku mencoba mengeluarkan suara.
“Sorry, I wasn’t here…” Jawabku lirih dan sekenanya. Cowok tinggi berambut pirang itu terlihat tak suka…
“You….” Dia mencoba bicara mengacungkan buku di tangannya yang aku yakin dia sedang belajar bahasa indonesia.
“Maaf…” Ucapku lagi
“you kidding me, silly!” Umpat cowok tinggi pirang itu.
Continue reading