Hai, dengarkan teriakanku!


Hai, aku meneriakimu menjajal nyaliku untuk tak memikirkanmu!
dan…hai, kau tahu semakin aku mencoba semakin aku merindukanmu…

Hai! Siapa kau yang memenuhi ruang hatiku?
Kenapa kau hadir di setiap malam-malamku?
dan…hai, tak bisakah kau malam ini mencumbuhku walau hanya dalam mimpimu?

Hai, malam yang sunyi biarkan aku berkasih dengan ribuan bintang malam ini
Biarkan, hatiku terlelap bahagia mendengkurkan kasihku
dan…hai, jikakah engkau tahu kusumpahi dirimu agar menggilaiku!

Jujur tidak sih?


Dear Sahabat, saya ingin bertanya apakah artikel yang sahabat tulis itu jujur?

Jujur kacang hijau apa jujur ayam? ich….makan mulu dech pikirannya 😀 ini lho jujur dengan yang sebenarnya.

Kalau saya jujur nie, ya…blog saya adalah tempat therapy saya jadi saya membuatnya “setelah saya membaca artikel saya, saya akan merasa lebih baik” jadi terkadang serupa nasehat yang sesungguhnya saya tujukan pada diri saya sendiri dan kadang serupa motivasi. Syukur-syukur saja kalau ada teman yang baca jadi termotivasi juga 🙂 Dan tak jarang isinya curhatan yang tak jelas penuh kata-kata sok puitis, he he he he

(Masalahnya kalu lagi mellow saya emang suka jadi sok puitis)

Karena begini teman, terkadang saya menemui sebuah blog dengan tulisan artikel-artikel indah yang memperlihatkan betapa si empunya blog adalah seorang yang bijaksana tapi kenyataannya tidak seprti itu, kok saya tahu? karena saya kenal orangnya. Haduh, saya tidak ingin membuat penilaian, saya ini hanya ingin bertanya apakah memang ada yang seperti ini?

Kalau emang ada ya sudah, he he he. Kan artinya yang saya rasakan tak salah. Lagian saya cuma bertanya kok :mrgreen:

Sebuah Tragedi percobaan melarikan diri


Sehabis cerita hantu nenek buyut ada lagi hal yang bikin aku malu kalau Bunda mengungkitnya.

Dulu, saat aku kecil aku tidak pernah di kasih main ke luar rumah, pulang sekolah langsung dilanjut makan, lalu mandi dan bubu siang. Namun, satu hal yang aku tidak suka adalah bubu siang!

Jadi bisa ditebak setiap waktunya bubu siang aku selalu mencari cara bagaimana agar bisa kabur dan bermain seperti anak-anak kampung lainnya yang bisa keliaran di mana-mana pada jam-jam itu.

Suatu hari, seperti biasanya Bunda selalu memaksaku untuk cepat masuk kamar setelah dia memandikan aku dan membedaki wajahku dengan bedak talk (serasa bayi aja, padahal udah kelas 1 SD, tapi harumnya bikin yg deket pingin langsung nyium kata Bunda….pipinya ngegemesin, he he he). Setelah masuk kamar Bunda langsung Bunda menutup pintu kamar dan menguncinya tapi Bunda lupa mengambil kuncinya dan bisa ditebak saat aku yakin Bunda sudah terlelap aku langsung pelan-pelan buka pintu kamar lalu keluar dan mengambil mainan dan kadang menonton anak-anak tetangga bermain dari balik kaca rumah.

Bagaimana memastikan Bunda udah lelap atau belum? cukup melambaikan tangan di depan matanya kalau ga ada respond berarti Bunda udah lelap 😀

Hari berikutnya, Bunda mulai sedikit gak mau kalah beliau meletakkan kunci kamar di atas pintu, letakknya emang lumayan tinggi dan susah menjangkaunya tapi aku kan nggak bodoh, seperti biasa saat yakin Bunda lelap aku berjalan pelan dan hati-hati sambil pegangan di tembok, lalu naik ke sandaran ranjang yang lumayan tinggi and….I got the key in my hand 😉

Besuknya? Bunda sedikit jengkel karena sudah dua hari aku kabur mulu akhirnya beliau mengunci kamar dan menaruh kuncinya di bawah bantal tapi….tidak usah aku beri tahu bagaimana caranya karena kenyataannya aku masih bisa kabur 😀 (lihatlah betapa pintarnya aku).

Tapi, besuknya aku kurang beruntung. Seperti kemarin Bunda meletakkan kunci di bawah bantalnya..dan seperti biasa pula saat Bunda mendekapku aku pura-pura merem aja biar disangkahnya udah tidur, he he he kan kalau aku udah merem Bunda pasti juga akan melepaskan dekapannya.

Seperti yang aku duga Bunda melepaskan dekapannya, membelakangiku dan aku yakin Bunda juga udah lelap karena sudah agak lama juga (aku yang pura-pura tidur aja udah capek) lalu aku perlahan bangun, ooops, Bunda membalikkan badannya tapi tak membuka mata…syukurlah….lalu aku cek seperti biasanya, aku lambai-lambaikan tanganku di depan Bunda tak ada reaksi namun entah mengapa saat itu aku merasa tidak yakin saja karena setiap aku mulai menelusupkan tanganku ke bawah bantal Bunda langsung bergerak lalu dengan berani aku mencoba mengeceknya dengan cara lain yaitu dengan (bodohnya) aku mencoba membuka mata Bunda dengan jari-jariku perlahan, dan….Bunda langsung membuka matanya lebar…

“Lhaaaaaa…..mau kabur, ya???” pekiknya, kontan aku langsung kaget, marah-marah (karena malu) dan menangis…..sementara itu Bunda tertawa (penuh kemenangan) terpingkal-pingkal.

Huuuu…..semenjak itu aku gak pernah berusaha kabur lagi dn selalu rutin bubu siang.

Kebohonganku


Saya punya kebohongan besar yang ingin saya bongkar karena kalau ingat ini saya merasa berdosa sekali. Kenapa merasa berdosa? iya, merasa berdosa karena mereka mempercayai kebohongan saya ini sampai bertahun-tahun lamanya.

Awalnya kebohongan saya ini terbongkar pas kami dalam perjalanan darat jalan-jalan menuju Jogja, di dalam mobil untuk menghilangkan rasa kantuk dan bosan kami saling tukar cerita. Lupa memberi tahu, di dalam mobil Innova ini isinya saya sendiri, adik saya, sepupu dan suaminya yang merupakan satu-satunya lelaki di dalam mobil. Yang kami ceritakan bermacam-macam dan sampai pada akhirnya pada cerita masa kecil kami.

Tiba-tiba saja di tengah gelak tawa kami menceritakan masa kecil, si Mbak (sepupu) melontarkan kalimat:

” Iya, jadi ingat ya…dulu kamu melihat hantu nenk buyut di atas pohon Belimbing di belakang rumah Mbah setelah itu kita selama satu minggu tidak berani main di pohon itu ”

Aku yang masih tertawa dengan kelucuan cerita sebelum-sebelumnya langsung diam dan melotot, langsung maju dan menepuk-nepuk bahu si Mbak yang duduk di samping suaminya yang sedang mengemudikan mobil.

” Mbak, kamu masih ingat ya? jadi kamu percaya dengan cerita hantu itu?” Tanyaku sedikit kikuk. Isi mobil sedikit tenang kecuali musik dangdut yang sengaja kami pilih biar bisa jadi bahan celetukan.

” Lha emang kan saat itu kamu melihat hantu nenek buyut? “ tanya si Mbak mengulangi. Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal dan balik bersandar sambil mesem-mesem aku membuat pengakuan.

” Sebenarnya, aku boong lho…biar kalian gak ambil tempatku aja. Habisnya kalian selalu nakal, tempatku selalu kalian ambil “ akuku akhirnya, muka si Mbak langsung gak enak, tapi dengan cerdas aku kemukakan alasanku kenapa bohong dan akhirnya kami tertawa lagi.

Ingin tahu kenapa aku bohong? begini ceritanya….

Saat itu kalautidak salah usiaku 5 tahun, memiliki beberapa sepupu yang seumuran (sepupuku yang di mobil ini) dan juga sisanya ini sedikit jauh di atas kami. Namun, orang tua kami membiasakan kami untuk akrab dan bermain bersama dan kami saat kumpul main bersama hal yang paling kami sukai adalah memanjat pohon belimbing di belakang rumah nenek yang buahnya selalu lebat. Nah, di pohon ini kami memilik spot-spot favorit sendiri, seperti aku yang kebetulan beruntung sekali mendapatkan spot yang strategis, batang cabang yang besar dan bisa dibuat tiduran dan asyiknya di cabang itu adalah bagian yang lebat.

Penemuan spot ini kita tentukan sebelum naik! Nah, karena sepupuku ini ada yang sirik dan selalu mengambil tempatku karena kami kan manjatnya balapan jadi siapa yang menang jadi dia merasa bisa mengambil tempat seenaknya, khususnya tempatku. Ya…karena saat itu aku memang anaknya jarang gerak tak memiliki fisik yang gesit seperti mereka aku kalah dan harus relah terkadang nangkring di bagian batang paling bawah yang tak ada buahnya. Mungkin aku kegendutan saat itu, he he he

Tak ingin diakalin, fisik boleh kalah akhirnya aku pakai akal dan muncullah ide hantu nenek buyut yang manjat pohon Belimbing, ha ha ha ha

Cerita itu benar-benar manjur, karena setelah itu selama seminggu tdk ada yg berani main di sana dan tentu saja orang tua kami senang. Namun, karena aku nggak tahan ingin main panjat-panjatan aku bujuk mereka untuk main, tapi dengan tetap aku takut-takuti agar mereka tak mengambil tempatku. I got my favorite spot! Karena aku bilang ke mereka hantu nenek buyut berdiri di tempatku itu, ha ha ha

Benar-benar tidak menyangka kalau ternyata semua orang percaya cerita bohongku itu, padahal kalau dipikir masa iya sih nenek-nenek naik pohon belimbing?Ha ha ha

Everybody loves you!


Seorang teman menuliskan sebuah status seperti ini “kenapa semua orang membenciku, kenapa menjauhiku dan apa salahku?” kalau menurut saya kesalahan terbesar dia adalah menanyakannya pada kami, teman FB dia yang nyata-nyata tidak membenci pun menjauhi dia. Bagaimana kalau bertanya pada mereka yang membenci atau menjauhi dia?

Sempat memberikan komentar yang intinya jangan mempunyai perasaan seperti itu, tapi dia menjawabnya tetap keukeh kalau memang begitulah kenyataannya dan dia merasa sedih. Lalu saya membagi nasehat Papa saya “sayangi orang yang membenci kamu atau menjahati kamu” dia menjawab lagi “Bicara itu mudah! tapi melakukannya susah! begitu itu perlu ikhlas” Hm…iya, benar banget itu..bicara itu emang mudah tapi akan lebih mudah kalau kita mulai belajar saja melakukannya dan iya memang perlu ikhlas dan untuk ikhlas itu memang tidak mudah tapi mana bisa kita bilang tidak bisa melakukannya kalau kita tidak berusaha mencoba?

Sebenarnya kalau ada orang yang tidak suka atau menjauhi kita itu akar permasalahannya di mana, sih? Saya bukannya kurang kerjaan mencoba menganalisis sesuatu yang bukan masalah saya tapi hanya ingin belajar. Kalau menurut saya, semua akarnya dari kita sendiri dan kalau kita tidak tahu apa yang salah sama diri kita ada baiknya dong kita bertanya pada mereka yang bersangkutan. Atau, jangan-jangan itu hanya perasaan kita saja merasa semua orang tidak ada yang suka sama kita. Take it easy, yang penting kita berusaha selalu bersikap baik, rendah hati (bukan merendahkan) dan mau bergaul dengan siapa saja pastinya akan banyak yang sayang sama kita, setuju tidak?

Tapi, mungkin teman saya ini memang sedang “sensitif” aja (bukan positive, lho! he he he) sehingga timbul perasaan demikian.But, thanks for her status tonight, he he he

Bersua kembali dalam Do’a


Dini hari ini, aku melakukan hal lama yang sudah lama aku tinggalkan bersentuhan dengan sajadahku di sepertiga malam-Mu…

Dan, dini hari ini aku merasa telah banyak melewatkan banyak moment bercengkeramah dengan sahabat-sahabatku bintang yang berpendar ceria menghiasi birunya langit, menemani indahnya sang rembulan….

Dini hari ini aku bersua kembali dengan ketenangan hati seperti saat-saat aku memaduh kasih dengan-Mu….

Keyakinan demi keyakinan yang mulai terbangun dan do’a demi do’a yang mulai terjamah, subhanallah semua atas kehendak-Mu.

Atas kehendak-Mu pula biarkan aku menjadi berguna, atas kehendak-Mu pula berilah orang-orang terkasihku ketenangan hati seperti halnya yang aku miliki dan atas kehendak-Mu biarkan keselarasan mimpi-mimpi kami bersua dalam tajuk “Do’a”.

Serba “Terlalu”


Saya tidak akan bicara tentang terlalu cinta, terlalu sayang, terlalu benci, terlalu menyukai, terlalu jelek atau terlalu ganteng. Tapi ini tentang terlalu banyak, bukan terlalu banyak uang, terlalu banyak pekerjaan melainkan terlalu banyak bicara.

Terlalu banyak bicara membuat tidak focus, membuat ada beberapa hal yang bakal “missed” and you know if you asked me the same question, I will say “go to hell!”.

Maaf saya bicara kasar, saya sedang memendam amarah dan saya sedang butuh tempat menumpahkannya sehingga tidak merembet kemana-mana. In this case, tolong terima blog ini benar-benar sebagai media therapy, he he he he…..nah saya sudah bisa tersenyum, kan?

Makanya, siapapun kita, mau kita ini boss, kek, kita ini karyawan, kita ini anak atau kita ini orang tua, sebaiknya jangan banyak bicara karena banyak bicara hanya akanmembuat orang menutup telinga dan lagi kita sendiri jadi tidak dapat focus karena kejadiannya kan jadi sibuk nyari-nyari kesalahan orang saja.

🙂 Akhirnya saya bisa tersenyum kembali, terima kasih…….

Life is too beautiful buat marah-marah, cukup 5 menit dech, he he he he

Wajah di cermin


Aku tertegun menatap raut wajah di cermin, dia tersenyum “ada apa?” tanyaku

Hatinya menjawab riang, dia sedang memikirkan pangeran hatinya…

Aku masih mencoba mencari-cari apa arti senyum di cermin itu…

Dia bilang “sst…anganku sedang bersama pangeran hatiku”

Semua orag memandang takjub dan ingin tahu, siapa pangeran wajah di cermin itu…

“Hm…kalau kau ingin tahu, belahlah dadaku dan di sana kau akan menemukan satu nama”

Satu nama, di setiap sisi dan sudut dinding hatiku….

Untuk pangeran dari pemilik wajah di cermin, semogakah engkau di sana senantiasa diberi kesehatan.

Wahai sang pemilik cinta, Engkau yang menganugerahi kami cinta, jaga dan lindungilah pangeranku di sana…
Limpahilah dia dengan kasih-Mu, penuhi harinya dengan tawa ceria dan kebahagiaan.

Sajak malam


Kamu manis sekali dalam setiap waktu aku memikirkanmu,

Segar aromamu masih bisa kurasakan melalui hembusan angin yang mencumbuku..

Kau indah sekali, seperti malam ini saat aku memikirkanmu…

Kau seperti obat yang dikirim-Nya untuk setiap lemahku…hanya dengan mengingat senyummu

Sungguh indah mencintaimu wahai pangeran hatiku….

Kidung malam


Malam ini terasa panjang dan tak berujung dan haripun serasa lambat merayap tak mau beranjak, tanpa deruh dan detak irama jantung yang melantunkan cinta….

Aku merangkak, merayap menerbangkan jiwaku bersama angin malam menabur kasih berharap kemegahan surya menyambut harimu dan kau dapat tersenyum riang wahai pujaan hatiku….

Cintaku karena Allah, maka dia tak bisa mengering tak dapat layu dan akan senantiasa tumbuh indah melambai mengucap “aku cinta padamu”