Menuntut pertanggung jawaban


“Kamu baik-baik saja?”
“sangat baik” jawab saya

“How are you?”
“I am great” jawab saya

“Maaf saya udah bikin kamu gak nyaman”
“Tak apa, udah biasa kok” jawab saya dengan senyum

“Kamu jangan mau dunk digituin” (saya tak bisa mengatakannya secara komplit di sini)
“Tak apa, saya percaya apapun yang saya lakukan tak ada yang sia-sia” jawab saya masih dengan senyum

“Say, kamu udah diperlakukan tidak adil begini kok mau sih”
Sebelumnya pasti saya sudah melakukan beberapa hal, seperti menangis, menulis(therapy saya), mengeluh (curhat pada Tuhan) tapi setelah semua rasa itu ternetralisir, jawaban yang keluar adalah:
“Nggak apa, ini menguatkanku Mbak. Ada Tuhan yang maha adil, apa yang aku khawatirkan?”

“Jangan terlalu capek ya sayang….”
“Iya, Ma..untuk sebuah target kan emang harus sedikit extra keras”jawab saya masih dengan senyum.

“Jeng, kamu baik-baik saja? Maaf, ya…”
“Tak apa…santai aja, saya tetep bahagia kok… ” jawab saya dengan senyum, karena sudah mulai terbiasa 🙂

Semoga percakapan di atas tak sekedar terucap dari bibir saya, namun menggerutu setelahnya…karena jujur kalaulah itu saya yang dulu pasti saya akan banyak menghabiskan waktu menggerutu dan meratapi diri. But, saya percaya manusia pada fitrahnya terlahir sempurnah (dari mahluk lain) jadi kita ini terlahir dengan segala kesempurnaan, termasuk terlahir bahagia (sukses, dsb), hanya pilihan kita mau menjemput kebahagiaan itu atau tidak.

Saya merasa tak ada alasan untuk meratapi diri, merasa akan membuang waktu jika hanya pergi menyendiri, mengasihani diri sendiri. Saya sudah pernah ada di posisi ini dan hanya membuahkan penyesalan dikemudian hari karena telah membuang waktu yang sangat berharga untuk orang-orang yang mengasihi saya.

Can’t be only say then miss away…saya emang harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah saya katakan pada orang-orang di sekeliling saya.

Have a nice weekend, wish you have a lovely weekend 😉