Si Manis

Si Manis itu, biasa begitu aku memanggilnya selalu dingin dan kaku di setiap kesempatan, namun aku yang ada di dekatnya tahu bahwasannya dia selalu manis dan humoris.

Si Manis sering juga berkata pedas dan menakutkan jika marah, tapi dia buat aku itu hal yang biasa karena aku sering melihatnya walau itu tak ditujukan padaku. Bagiku mudah saja, kalau seumpama dia berkata kasar atau marah padaku maka aku akan berhenti berteman dengannya. Aku gak mau berlaku kasar oleh karena itu tak mau juga diperlakukan kasar.

Si Manis ini selalu menakjubkan buat keluarganya, dia selalu berusaha menghabiskan waktu dengan siapa yang di sayanginya. Selalu saja banyak cara buat dia untuk menghabiskan waktu bersama, bercengkeramah, sangat manis, kan? Aku belajar dari si Manis dalam hal ini, tak ingin menyia-nyiakan waktu hingga terlewatkan begitu saja dan menjadi sia-sia karena waktu memang harta yang paling berharga yang tak mungkin bisa diputar kembali. Bahkan penyesalan paling mendalam tak dapat mengembalikannya.

Inspirasi dari si Manis, kucing liar yang suka main di depan kamar kost.