Belahan Jiwa


Selembar kertas putih, bertuliskan tinta biru melambai-lambai ditangannya karena tertiup angin.

“Jadi ini bukan chemistry saat aku tahu kamu bisa membaca pikiranku.

Kupikir dulu, saat kamu mengatakan apa yang masih terlintas atau yang ada dalam otakku adalah…wow, we have chemistry, we got the same feeling.

Yaaa, aku kecewa tapi…rasa ini benar-benar sudah terlanjur tumbuh.

Aku jatuh cinta saat itu dan sampai saat ini. Kalau kau bisa membaca pikiranku, apakah kau juga bisa mengerti isi hatiku?

Dariku Gadis yang merindukanmu”

Bayang-bayang gadis barambut panjang yang beberapa bulan terakhir ini mengisi hari-harinya kian jelas. Rambut panjangnya yang melambai tertiup angin tapi hanya tampak dari belakang seakan tak sudi menatapnya kembali. Ah, menyesalpun tak ada gunanya karena dia telah memilih gadis lain untuk menjadi pendamping hidupnya dan membiarkan sang belahan jiwanya pergi….

“Kemana belahan jiwaku itu pergi? Kenapa saat itu aku tak mempercayai perasaanku, malah aku pikir itu hanyalah emosiku belaka, emosi seorang lelaki terhadap perempuan baik yang selalu menyemangati dan membuat hidupnya lebih berarti”

Dia melangkah gontai dan masih memegang erat kertas putih bertitahkan tinta biru itu.

Ah…akhirnya bisa nulis fiksi lagi setelah sekian lama imajinasi kelelahan, hehehhehehe