Perempuan Pembunuh

Dian mengayunkan pisau itu ke uluh hati Pramono berulang-ulang sampai Pramono tak sanggup lagi menahan udara yg ada di rongga dadanya agar bertahan di dalam ronggah paruhnya agar dia tetap hidup dan menyimpan oksigen untuk bernafas, namun Dian yang kesetanan tak memberinya ampun, hanya kemarahan yang nampak dari mata teduh dan biasanya penuh belas kasih itu. Pramono juga tak menyangkah perempuan selembut Dian mampu melakukan ini padanya…

“Dian saya minta tolong nanti antarkan makan siang buat Bu Lyan, ya?” Ungkap Pramono pada karyawan terbaik sekaligus sudah menjadi sahabat baginya.

Biasanya, walau dengan berat hati Dian akan menyanggupi permintaan Pramono. Tapi, entah kenapa pagi ini Dian merasakan sesak dalam hatinya sudah tak tertahankan, tak merasakah Pramono selama ini perhatiannya selama ini melebihi seorang bawahan ataupun sahabat? Sebodoh itu kah Promono menangkap sinyal-sinyal cemburu Dian setiap kali pembicaraan mengarah ke Lyan rekanan bisnis mereka. Ah….pagi ini benar-benar lain…ada kobaran amarah yang ingin keluar dari dadanya….

“Dian….” Ulang Promono karena dia hanya mendapatkan kebisuan Dian.

“Maaf, gak bisa” jawab Dian…

“Kok begitu? Katamu mau bantu aku dekatin Bu Lyan” ungkap Pramono ringan, Dian menahan sesak di dadanya….

“Iya, saya terpaksa…” Jawab Dian terputus..

“Dian….” Pramono setengah bergumam, menatap Dian tak mengerti.

“Bodoh, kalau sekali lagi kamu menyuruhku untuk mengantarkan makan siang untuk perempuan itu aku akan membunuhmu” jawab Dian dengan nada tinggi.

“Tapi, Dian….aku nggak ngerti…kamu, kamu kenapa??” Pramono tak mengerti….

“Aku mencintaimu, bodoh!” Tegas Dian.

“Nggak bisa begitu Dian….” Dan akhirnya mereka terlibat aduh mulut hebat sampai akhirnya Dian menghunuskan pisau ke uluh hati Promono karena penolakan Promono yang tak dapat diterimanya.

“Dian…” Promono menepuk bahu Dian pelan karena dia hanya mendapati kebisuan.

Dian mengangkat wajahnya, lalu tersungging senyum di sana.

“Baiklah Pram, tapi ini terakhir ya…” Jawabnya menahan sesak di dadanya.

“Kok begitu? Katanya…”

“Maaf, Pram…aku nggak bisa. Mulai hari ini aku resign” Dian memotong kalimat Pram lalu beranjak menahan air mata yang sudah menggenang dan tak mampu ditahannya dari tadi…

Sejatinya perempuan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa untuk menyembunyikan luka hatinya, dia mampu membunuh jika mau namun kelembutan hati yang dianggap kelemahan itu yang menjadi kekuatan untuk menutupi luka hatinya…

Perempuan yang dianggap lemah itu mampu membunuh…

 
#Saya bikin fiksi mini lagi!

Advertisements

9 thoughts on “Perempuan Pembunuh

  1. Dan sebagian besar …
    kekuatan untuk melakukan hal yang luar biasa ini …
    muaranya hanya satu …

    yaitu … chyntccaahh …

    🙂

    Salam saya Hani

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s