Verona

Tanpa suara Verona duduk di atas kursi malas yang berada hanya 3 meter di belakang sang pujaan hati yang sedang melukis, memperhatikan tangan-tangan kekar yang dulu pernah dicumbuhnya itu dari kejauhan sambil terus mencoba menerkah apa makna lukisan yang belum sempurnah itu, walau dia tetap tak mampu karena dia tak memahami seni. Pernah dia memaksa belajar seni agar bisa mendekati pria yang dipujanya itu namun dia semakin hopeless dan semakin gila karena tak mampu memahami lukisan juga kecintaannya terhadap lelaki yang sebenarnya sudah tak mudah lagi itu semakin bertambah. Ya, lelaki yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahnya.

Verona, saat itu berusia 22 tahun dan tergila-gila pada pria berusia 40 tahun! Apapun dilakukan Verona untuk mendapatkan perhatiannya, namun tak membuat pria itu seperti menganggapnya patung. Bahkan Verona pernah telanjang di depannya, berharap pria itu mau menjadikannya object lukisannya tapi sayang pria itu terlalu dingin! Verona putus asah, selama ini semua lelaki berebut ingin menidurinya. Siapa yang tidak tertarik dengan Verona, gadis blesteran Italy dan Jawa yang sangat eksotis dan cantik itu, dia memiliki badan yang bagus dan banyak didambahkan oleh banyak wanita. Dadanya yang membusung seakan menantang para mata lelaki jelalatan untuk meneguk kenikmatan bercinta semalaman bersamanya. Tapi bermimpilah jika kau hanya laki-laki yang bermodal tampang karena Verona menyukai wajah lelaki punya wibawa. Kalau bertemu dengan lelaki dewasa penuh wibawa, darahnya langsung berdesir dan libidonya langsung naik, tapi Verona tak mau ini disebut kelainan karena menurutnya jika ingin merasakan kenikmatan hidup maka bercinta adalah satu cara untuk mendapatkannya! Tapi Verona selalu mengatakan bahwa apa yang dia lakukan tak selalu berdasarkan nafsu, dia melakukannya dengan cinta sehingga memulainya dengan sangat lembut sehingga puncak kenikmatan itu terasa sangat dahsyat.

Hembusan angin terus meniup jilbab yang dipakai Verona, sesekali dia membenarkan jilbabnya karena menutupi seluruh wajah ayunya, tatapan Verona jatuh pada beberapa helai rambut putih di kepala pria pujaannya itu. Warna putih itu memperingatkan Verona bahwa lelaki yang dipujanya bukanlah seorang pemudah tampan yang banyak dipuja-puja gadis, melainkan seorang yang sudah berumur mungkin dia bukan pilihan baik untuk dijadikan pendamping. Tapi, apakah usia menjadi masalah jika seseorang ingin melakukan ibadah? Ataukah masa lalu Verona mebuatnya tidak punya hak lagi untuk memiliki kehidupan yang labih baik? Verona tak pernah disibukkan dengan pikiran itu, dan itu bukan karena Verona tahu bahwa lelaki yang dipujanya itu dulu juga memiliki masa lalu yang hampir sama dengannya yaitu akan meniduri semua perempuan cantik yang ditemui dan memuja-muja ketampanannya tapi lebih karena Verona merasa bahwa nasiblah yang membawanya kesini, mengenal pria ini.

Bersambung ke Verona Part. 3

Advertisements

12 thoughts on “Verona

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s