Verona

“Kau percaya takdir?” tanya Verona pada sahabat yang selama ini membantunya untuk memperbaiki hidupnya kemarin sebelum ke rumah ber cat putih yang jauh dari kesan mewah seperti halnya rumahnya di pulau Dewata yang ditinggalkannya. Citra tersenyum sambil mengangguk pasti.

” Seperti itulah yanga ku rasakan, Cit! Aku merasa takdir yang membuat kami bertemu” papar Verona sambil terus melanjutkan tangan-tangannya bergerak melipat baju dan memasukkan satu demi satu ke dalam koper. Citra hanya melihatnya, tanpa membantu karena berharap sahabatnya berubah pikiran, hanya rasa khawatir yang terbesit di benaknya. Khawatir kalau Verona akan kehilangan akal sehatnya dan melupakan rencananya untuk memiliki hidup lebih baik dan menuruti norma-norma yang kini dianutnya.

“Dengar Citra, kamu percaya padaku?” tanya Verona meyakinkan sahabatnya, karena dia hafal betul dengan tatapan khawatir sahabatnya, dengan berat Citra mengangguk.

“Tapi, Ve..masalahnya…bukankah kamu juga pernah merasakan hal yang sama dulu pada Willy. Saat itu, kamu juga bilang bahwa perasaanmu bilang bahwa dia adalah takdirmu dan kenyataannya…”

Citra masih belum bisa menyimpan kekhawatirannya. Saat nama Will disebutnya, pikiran Verona langsung melayang ke peristiwa 8 tahun yang lalu saat dia baru pertama kali mengenal cinta dan pria yang dicintainya adalah Willy. Seorang pria muda yang usianya hanya terpaut dua tahun di atasnya, pria yang membuatnya lemah dan tak bertenaga karena dia yang pertama kali mengajarinya tentang berciuman bahkan yang mengajaknya bercinta untuk pertama kalinya sampai akhirnya dia ketagihan dan jika di awal Willy yang merayu kini Verona-lah yang meminta duluan. Sungguh memalukan jika diingat, tentu bukan saja merasa seperti pelacur namun,…..kini Verona tahu bahwa perilaku itu disebut zina karena hubungan mereka belum dikukuhkan. Willy bukan siapa suaminya!

“Ve…maaf, kalau…” Citra membangunkan Verona dari lamunannya. Verona tersenyum lalu menggeleng, mendekati sahabatnya dan memeluknya erat.

“Trima kasih, Citra you are my best friend ever!” bisiknya, lalu mereka pun berpelukan erat, mereka berdua menangis.

Saat itu akan ada banyak cinta yang kita percaya adalah takdir kita, namun ada satu cinta yang mendorong kita untuk menjadi baik dan baik tanpa dia meminta dan itulah yang harus kita yakini sebagai takdir kita. Ya, tentu saja ini berlaku hanya pada Verona karena terlalu banyak lelaki yang masuk ke dalam kehidupannya, ada yang hanya ingin merasakan keliarannya di atas ranjang, ada yang dengan sengaja mengajaknya menjadi gadis yang hidupnya tak hanya diburu nafsu tapi hanya satu yang membuatnya berpikir bahwa sebenarnya yang dia cari selama ini adalah kenikmatan dan kenikmatan itu ternyata bisa didapat dengan mensyukuri setiap titik anugerah Tuhan, kenikmatan itu bisa dirasakan saat mampu berguna untuk sesama. Kenikmatan itu tak hanya bisa di dapat dari kegiatan ranjang yang senantiasa membuatnya penasaran.

Tatapan Verona berpindah lagi ke dalam lukisan yang terlihat tidak pernah jadi di mata Verona, hanya goresan-goresan warna tak jelas namun jujur terkadang membuat Verona terpaku dan menemukan suatu cerita yang membuat Verona sendiri hampir tak dapat dipercayainya, hanya sebuah goresan cat tapi memiliki cerita! Apakah itu yang disebut seni? Verona tersenyum dan kini mencoba membaca goresan-goresan warna di kanvas putih itu. Hingga kelelahan dan matanya sulit dibuka, perlahan punggungnya menyandar mata indahnya terpejam, barisan alisnya yang rapih terlukis cantik di atas mata indahnya.

Bersambung ke Verona Part. 4

Advertisements

12 thoughts on “Verona

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s