Verona

Beberapa jam Indra mencoba menyelesaikan lukisannya, namun tak nampak ada guratan-guratan menuju titik tertinggi di mana karya itu disebut selesai dan siap dinikmati. Pikirannya sedang jatuh pada gadis berjilbab yang sedang tertidur di kursi malas yang sengaja ia taruh di situ agar setiap selesai melukis dia bisa menghilangkan rasa penat di sana.

Gadis itu telah berubah, entah apa yang telah merubahnya. Kecantikannya semakin terpancar saat angin membuai wajahnya dan saat jilbabnya menutup sebagian wajahnya karena tertiup angin, hanya mata indah itu yang mampu dilihatnya membuat tangan Indra bergerak dan menghasilkan sebuah lukisan abstract “mata indah” yang sedang terkatup sangat indah seperti kelopak bunga, dan sangat damai.

Perempuan cantik yang yang dulu hampir membuatnya kambuh lagi, Bukankah sebelum bertemu dengan Verona Indra hanyalah lelaki penikmat keindahan, bukan Cuma lukisan tapi juga tubuh indah wanita, namun sebuah peristiwa di mana di saat dia mulai menemukan seseorang yang sangat dicintai dan ingin dinikahinya padahal selama ini dia tak pernah terbesit untuk menikah meninggalkannya untuk lelaki lain yang menurutnya lebih baik karena yang dibutuhkannya adalah seorang imam bukan pemuas nafsu semata. Suami ternyata juga harus multi tasking.

Verona, perempuan muda yang hampir membuatnya lupa dengan akal sehatnya, lupa akan Tuhannya! Perempuan itu memang setan yang paling jahat! Keindahannya mampu menyeretmu ke dalam neraka jika kau tak pandai menjaga sikap.
Lihat saja sekarang, kehadiran bidadari ini telah mampu mengaduk-aduk pikirannya bukan Cuma cantik tapi perubahannya. Sungguh Indra merasa melihat dirinya sendiri di masa lalu, di saat dia memulai perubahan ke dalam kehidupan yang lebih terarah dan memiliki Tuhan hidup di hatinya. Pastilah sulit buat Verona memulai semuanya, dia bagaikan bidadari dengan kemolekan tubuh yang sangat sayang jika tak di expose dan kini harus memulai dengan berpakain seperti ini, ah tentu saja Indra juga belum tahu apakah perubahan ini hanya sebatas penampilan atau juga sikapnya.

Matahari masih tinggi, angin September juga masih setia membelai-belai wajah Verona yang ayu dan sungguh membuat irih saja kalau saja angin itu berwujud pastilah Indra akan memukulinya karena buatnya itu tidaklah sopan! Tak mau semakin kalut Indra melangkahkan kakinya ke dalam, mengambil selembar selimut bulu tipis berwarna putih dan menyelimutkannya ke tubuh Verona. Dia memberanikan diri memandangi Verona sebentar walaupun hanya terlihat mata indahnya. Sangat tenang dan damai. Hanya sebentar kemudian dia berlalu, mencari kanvas putih lain untuk lukisan baru; tentang gadis berkerudung yang sedang tidur dengan separuh wajahnya tertutup jilbab sehingga hanya terlihat matanya saja.

Bersambung ke Verona Part.5

Advertisements

17 thoughts on “Verona

  1. 🙂 terkadang cinta itu datang menjadi hidayah yang terbesar… seorang penjudi kakap bisa mengenal Tuhannya, seorang preman bisa berubah 180 derajat menjadi tukang sapu masjid.. ya satu hal ‘karena hidayah’ dan sungguh hidayah itu terkadang berantarakan wanita-weanita soleha.

    em,,, bidadari dari surga kali ya yang menitis kebumi 🙂

    salam kenal sobat “pendar nbintang”

  2. Pingback: Pemilik tulang rusuk itu… (Part 3) >> Ukhti Shalihah

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s