Verona

Hidup ini memang egois, terkadang kita harus lupa dengan apa yang dirasakan oleh orang lain demi tujuan kita. Bukan, bukan melupakan tapi mengabaikan begitu lebih to the point. Nah, bahkan untuk mengatakan sesuatu yang kurang mengenakkan pun kita memilih kata-kata indah yang terkadang orang itu malah tidak mengerti dengan maksud kita. Kalau begitu mendingan kita tutup mulut daripada nanti Verona tersinggung.

Untuk mendapatkan uang pernah seseorang berusaha memperalat Verona menjanjikan Verona segepok uang, menjadikannya seorang model hanya karena Verona cantik, seseorang itu memakai kata “menolong” Verona tidak tertarik bukan karena dia tahu laki-laki itu penipu namun terlebih karena Verona sudah memiliki uang dan segalanya, iya segalanya kecuali ketenangan batin.

Di masa ini Verona pernah merasakan saat-saat berada di titik terlemahnya justru di saat dia ingin melakukan perubahan, dan selama dalam masa itu hal yang paling menyakitkan adalah bertemu dengan orang-orang yang munafik yang berpura-pura baik di depannya tapi dibelakangnya selalu membicarakan keburukan masa lalunya. Padahal saat itu dia sudah mulai mengenal Tuhan, sempat juga saat itu dia hampir putus asah dan berpikir bahwasannya semua sudah terlanjur, tak ada yang perlu diperbaiki karena tak ada yang salah dnegan sebuah pilihan. Karena hidup juga pilihan selain egois.
Egois jika Verona tetap tak mau berubah karena hidup seperti yang sudah dijalaninya sudah menjadi pilihannya, karena kehidupan bebas tanpa ikatan peraturan itu sangatlah menyenangkan, kita bisa bebas melakukan apa saja tanpa beban tapi tanpa tujuan. Tapi 22 tahun menjalani hidup tanpa tujuan lebih melelahkan, tiba-tiba Verona berpikir tentang tujuan saat bertemu dengan lelaki tampan bernama Indra itu.

Sebelumnya dia akan sangat bergairah saat bertemu dengan seseorang yang bisa melakukan ciuman hebat karena dia berpikir orang yang cara berciumannya saja sudah membuat bergairah pastilah dapat memberikan kepuasan saat di ranjang. Hell! Itu dulu, saat Verona berpikir bahwa tujuannya adalah mendapatkan kenikmatan bercinta dari para lelaki yang dia sebut pemuja keindahan.

Sungguh indah di saat semua sentuhan diberikan batasan, jika semua ciuman diberikan aturan, jika semua rangsangan diberikan arahan karena di situ terletak exclusivitas akan sebuah harga diri dan kenikmatan yang tak liar sehingga kita lupa bagaimana dan apa kenikmatan itu sendiri.

Verona membuka mata, terbangun dari tidur damainya, tangannya bergerak-gerak pelan menurunkan selimut putih yang menutupi bagian atas tubuhnya. Dia menatap selimut putih di atas badannya, lalu pandangannya beralih ke ke sebuah lukisan yang terlihat masih basah di hadapannya. Lelaki pelukis tampan itu telah melukiskan kedamain hatinya dengan sangat sempurnah.

“ Sudah bangun, Ve?”
sapa suara berat dari dalam. Verona langsung mencari sumber suara itu. Sosok tinggi dan tampan di hadapannya tersenyum manis, Verona menatapnya dengan tatapan nanar dan matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba saja dia tak mampu mengeluarkan suara apa-apa, mulutnya bergerak-gerak tapi tak terdengar suara apa-apa, Verona sangat takut karena dia terlalu bahagia.

Bersambung ke Verona Part.7 (terakhir)

Advertisements

4 thoughts on “Verona

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s