Calon Suami


Setiap orang memiliki masa lalu, iya Amanda tahu itu. Bahkan Amanda pun memiliki masa lalu namun demikian masa lalu itu tak lagi membayangi dan membuntutinya sampai sekarang. Jika seseorang memutuskan untuk menikah, sejatinya pasangannya harus bisa memaafkan masa lalu dari pasangannya itu karena yang tepenting sekarang bukanlah masa lalu itu, karena yang akan dijalani adalah masa depan, lalu untuk apa mengkhawatirkan masa lalu?

Tapi, ini bukanlah sebuah masa lalu. Ini adalah kenyataan pahit yang sampai sekarang harus Amanda hadapi tentang calon suaminya, dia tidak tahu apakah bisa memaafkan atau tidak. Atas nama cinta, maka cinta itu sepertinya memudar, apakah yang demikian artinya bukan cinta yang sebenarnya? Cinta memang dapat memaafkan, tapi apakah kesalahan yang demikian dapat dimaafkan. Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipi Amanda kembali, hatinya terasa sangat sakit dan terkadang membuatnya berpikir untuk lari saja dari kenyataan ini, meninggalkan semua permasalahan yang dihadapinya, tapi dia tahu lari bukanlah pemecahan masalah melainkan menambahkan satu lagi masalah, tidak hanya buat dirinya melainkan orang tuanya.

Hanya beberapa bulan yang lalu Amanda merasa menjadi seorang perempuan yang paling beruntung di dunia ini, karena seorang lelaki tampan, mapan dan berpendidikan akhirnya melamarnya menjadi istri. Mimpi menjadi seorang nyonya besar segera terwujud, bukan soal mimpi namun Amanda memang mencintai pria ini. Pria yang ditemuinya dalam sebuah konferensi dan tanpa sengaja mereka terlibat dalam suatu perdebatan, siapa yang tahu lelaki itu terkesan dengan kecerdasan dan cara berpikir Amanda. Dengan berpura-pura menjadi seorang staff marketing sebuah perusahaan yang tidak lain adalah perusahaannya sendiri Satria mendekati Amanda yang jujur saat itu sedikit susah didekati. Satria selalu memegang teguh satu keyakinan bahwa dia tidak akan pernah ditolak perempuan manapun yang berusaha didekatinya, begitu juga dengan Amanda walau sedikit susah mendekatinya namun akhirnya dia dapatkan juga hati Amanda.

Menangis, menjerit-jerit dan ember kemana-mana bukanlah cara Amanda mencari penyelesaian atas sebuah masalah. Dia lebih banyak diam, bukan mendiamkan. Diam dan berpikir tentang strategy menyelematkan dirinya sendiri juga keluarganya. Lantas, bagaimana dengan keluarga Satria? Ah…sungguh melelahkan. Kalau boleh memilih, kembalikan Amanda ke masa saat pertama satria mendekatinya atau saat melamarnya agar ia bisa menolak dan tidak menempatkannya pada keadaan seperti sekarang.

Dengan kasar Amanda mencoba menghepaskan badannya ketempat tidur, meskipun dia merasa sebagai korban namun dia tetap tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Dia ingin jalan yang diambil ini nantinya adalah yang terbaik, bukan hanya buat diri dan keluarganya tapi juga Satria dan keluarganya. Mencoba mengingat-ingat, membuat daftar tentang kebaikan-kebaikan Satria agar kesalahannya kali ini dapat tertutupi namun kiranya kesalahan yang satu ini terlampau besar sehingga semua daftar kebaikan Satria tak dapat menutupi kenyataan ini.

Tik-tik, bunyi jarum jam itu terdengar sangat keras dalam keheningan Amanda. Dia menatap dirinya sendiri di depan cermin, mata indah itu nampak lelah, rambut indahnya masih terjuntai rapih, menatap bayangannya sendiri di cermin, dia merasakan satu pelukan hangat yang nyaman dari belakang oleh seorang pria yang dicintainya, rasanya damai sekali merebahkan kepala di dadanya. Amanda merasakan lengan itu melingkar di badannya, jari jemari itu ada di antara jari-jarinya dan saat itu yang terdengar hanyalah deguban jantung yang terdengar lebih keras dan berkejaran, hembusan nafas terasa hangat dan karena jarak yang sangat dekat mampu membelai anak rambut yang berkibar-kibar menjuntai di pipi Amanda. Ada kecupan hangat mendarat di pipinya mengikuti hembusan nafas yang terasa semakin dekat.

“Kau calon suamiku…….”

Sebuah ketukan dipintu membuyarkan lamunan Amanda, membawa Amanda kembali ke dalam kenyataan tentang calon suaminya.

Bersambung ke Calon Suami Part. 4

Advertisements

8 thoughts on “Calon Suami

  1. hmm, masa lalu seharusnya di jadikan cambuk bahkan mesin pendorong tuk menjalani masa depan,,soo, kalo byk berpaling ke masa laluseperti org naik motor byk lht kebalakang, ntr gak bisa lihat kedepan jdnya nabrak2..hehe met pagi

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s