Calon Suami


Ibu Amanda muncul dari balik pintu, Amanda berusaha tersenyum namun terlihat sekali senyumnya dipaksakan.

“Nak, Ibu bingung katanya kok kateringnya kamu batalkan? Kamu jangan membuat keputusan sendiri, ibu heran belakangan ini kami sangat aneh”
seloroh sang Ibu.

Amanda, menarik nafas panjang. Menarik ibunya ke tepi ranjang, mendudukkannya lalu dengan sangat manja Amanda meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu.

“Jangan kolokan begini…sebenarnya apa yang terjadi, Nak? Kamu ada masalah?” tanya sang Ibu masih dengan suara rendah
.
“Ibu…ibu tak perlu menyiapkan apa-apa. Ibu tak perlu capek-capek ya….nanti ibu sakit” gumam Amanda lirih, smabil menatap lurus ke arah mata sang Ibu. Sang Ibu terlihat terkejut.

“Jangan mempersiapkan apa-apa bagaimana? Kamu jangan yang aneh-aneh, Manda…menikah itu bukan main-main, Nak..berpikirlah serius sedikit” suara ibunya agak meninggi.

Amanda menenggelamkan wajahnya di pangkuan sang Ibu, tak terdengar isak tangis namun air matanya tak berhenti dan membasahi baju sang Ibu. Cukup lama Amanda menangis..

“Ibu,…Ibu percaya sama Manda ya? Biar Manda yang urus semuanya…” gumam Manda memberanikan diri menatap mata sang Ibu.

Sang Ibu mencoba mencari jawaban dari apa yang dikatakan anaknya, dia kenal anaknya, mungkin anak gadisnya memang tidak ingin dirinya capek-capek mengurus semua persiapan pernikahan ini. Akhirnya sang Ibu mengangguk pelan. Amanda kembali menenggelamkan kepalanya ke pangkaun sang Ibu, tapi kali ini isak tangisnya terdengar agak keras, dia menangis sesenggukan, sang Ibu mencimui rambut anak gadisnya dengan sayang, dia sadar sebentar lagi anak gadisnya akan diboyong pergi oleh sang suami. Sangat berat buat dirinya melepas anak gadis bungsu yang selama ini sangat manja dan pastilah hal yang sama juga dirasakan Amanda. Pastilah dia sangat tidak ingin berpisah dari sang Ibu.

Memiliki anak gadis memang harus siap kehilangan, karena saat sudah berusia matang, di mana dia sedang productif dan active malah akan diambil oleh orang lain tapi hal itu sangatlah membahagiakan orang tua, di saat anak gadisnya menemukan sebuah tambatan hati dan juga seseorang yang mampu memberikan perlindungan dalam melewati kerasnya hidup. Seorang yang mampu memimpin dan membimbingnya bukan sekedar materi yang berkecukupan.

Tentu ada kebahagiaan yang tak terhingga di hati Ibu Amanda, karena dia berpikir Amanda telah mendapatkan calon suami yang hampir mendekati sempurnah. Lebih dari yang pernah diharapkannya terhadap Amanda yang terlihat sangat sederhana penampilannya meski selalu fashionable jika dibandingkan kakak-kakaknya dulu saat masih gadis. Rambutnya dibiarkan terawat panjang, tak pernah tersentuh warnah-warnah kimia lain sehingga terlihat seperti bule-bule yang sering dilihatnya di TV, kulitnya memang lebih bersih dari kedua kakaknya mungkin itu juga yang membuat Amanda jarang mengunjungi salon seperti halnya kakak-kakaknya. Dia malah senang melakukan semua perawatan itu di rumah saja, namun siapa yang menyangkah di antara dua saudaranya Amanda paling beruntung dalam mendapatkan suami.

Berlanjut ke Calon Suami Part. 4

Advertisements

12 thoughts on “Calon Suami

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s