Calon Suami

Orang Jawa bilang memilih jodoh itu harus mempertimbangkan bibit, bebet dan bobotnya. Amanda tidak melakukan itu karena tanpa melakukan itu dia mendapatkannya, bibit, bebet dan bobot calon suaminya sangatlah mantab kata orang-orang. Ya, seperti yang orang kebanyakan bilang, Amanda sangat beruntung karena mendapatkan semua yang perempuan impikan. Jadi ini memang suatu keberuntungan saat seseorang mendapatkannya dengan suatu kebetulan.

Sesuatuyang lucu tapi lumrah, masyarakat memberikan standar umum  terhadap pasangan idaman seorang perempuan, padahal setiap perempuan boleh saja memiliki standard yang berbeda-beda. Tapi, tak dapat dipungkiri jika seorang perempuan mendapatkan pasangan yang berkecukupan dan bertampang tampan sedikit saja pastinya dia akan mulai sedikit sombong, bagaimana tidak sombong, wong wajahnya emang pas-pasan! Ha ha ha

Amanda tidak jelek, dia cantik hanya dia sederhana. Tak sedikit pria yang mendekatinya namun dia tidak seperti gadis-gadis seusianya pada umumnya, dia cenderung tertutup terhadap hal-hal yang berbau pacaran karena dia berprinsip hanya mau dekat dengan pria yang akan menjadi calon suaminya namun demikian bukan berarti dia tak memiliki sahabat laki-laki, banyak sekali bahkan hanya saja sahabat akan menjadi sahabat karena jika salah satu perasaan telah berubah menjadi getar-getar yang lain maka akan berubahlah hubungan itu, tak akan sehangat dulu. Ada jenis orang yang sangat baik namun hanya pantas dijadikan sahabat namun ada pula yang memang layak dijadikan sebagai kekasih.

Semenjak rencana pernikahan Amanda dan Satria mulai di rancang, bunga-bunga kebahagiaan menyelimuti rumah Amanda. Semua bibir terlukis senyum manis, sorot mata yang berpendar, menyorotkan kebahagiaan, manalah tega Amanda merusak kebahagiaan itu. Hal seperti ini yang sangat menyiksa bathinnnya, tak jarang dia menangis menyaksikan senyum-senyum itu. Sekarang Amanda lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, bersimpuh di hadapan Tuhan. Dia tidak meminta Tuhan untuk mengubah keadaan melainkan meminta Tuhan menegarkan hatinya agar dia mampu menghadapi semua ini, kalau pernikahan ini harus berlangsung setidaknya Amanda harus memiliki kelapangan hati yang luar biasa dan mungkin akan membuakan pujian dari semua orang karena mampu menerima Satria dan  kalaupun pernikahan ini tidak berlangsung Amanda berharap Ibunya mampu memaafkannya dan memahami perasaannya, berharap keluarga Satria memaafkannya karena dia tidak akan luput dari tudingan bahwa dirinya tak tulus mencintai Satria.

Amanda memiliki satu buku tebal yang berisi tulisan tangannya sendiri, yang isinya Cuma “Aku mencintai Satria” dia menuliskan itu berharap kalau bisa mensuggesti dirinya sendiri, meyakinkan dirinya sendiri bahwa dirinya memang mencintai Satria dan bisa memaafkan Satria. Namun semakin banyak dia menulis, semakin sakit hatinya dan semakin banyak air mata yang menetes. Rasanya sakit sekali mendapati orang yang kita cintai bercumbuh dengan wanita lain dan wanita itu tidak hanya satu, setiap hari berganti dan sehari bisa beberapa kali, rasa ini lebih sakit daripada saat Satria mencoba merayunya dan mencumbuhnya sehingga hampir kebablasan kalau saja saat itu Amanda tidak langsung ingat Tuhan. Karena doktrin yang menempel di otak Amanda adalah lelaki yang mencintaimu maka akan menjaga kesucianmu sampai pada pernikahan.

Amanda menatap segerombolan keluarga Satria yang datang memasuki halaman rumahnya dari kaca jendela kamar. Tampak wajah-wajah bahagia di sana, Mama dan Papa Satria yang digandeng oleh adik cewek Satria yang sangat cantik dan menyempatkan diri pulang dari Amerika untuk pernikahan sang Kakak dan Satria sendiri bersama dengan dua kakak laki-lakinya sedang berdiskusi, entah berdiskusi apa yang jelas rona bahagia yang terpancar di sana. Saat gerombolan keluarga Satria sudah tak nampak di halaman karena mereka sudah masuk ke dalam ruangan tengah yang memang sudah disiapkan untuk acara pertemuan diskusi sebelum acara akad dan resepsi dimulai. Ruangan yang tak begitu luas namun cukup untuk menampung dua puluhan anggota keluarga dari kedua belah pihak.

Amanda mengambil kerudung putih dan memakainya, tangannya mengambil sesuatu dari laci. Sebuah amplop coklat besar, lalu berjalan menuju ruang tengah. Matanya mengedar ke satu persatu yang duduk di sana kemudian matanya berhenti di antara Satria dan Mama-Papanya serta Ibu dan Ayahnya. Dia menuju arah sana, karena dia ingin duduk di sana.

Saat diskusi baru saja di mulai, Amanda menyodorkan amplop coklat ditangannya ke Satria yang duduk di samping Mama dan Papanya. Satria mengambil amplop itu lalu membukanya dengan hati-hati, Amanda sendiri mencoba mengontrol perasaannya, dia tak bersuara hanya menunduk dan tak terasa bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipinya.

Bersambung ke Calon Suami Part. 6

18 thoughts on “Calon Suami

  1. ya pilihan kita akan seseorang yg menjadi suami tentu mutlak di tangan kita, bukan di tangan orang lain. memilih tentu seorang laki2 yang menjaga kesucian juga sampai pernikahan, bukan hanya perempuan saja yg menjaga kesucian (walau pada laki2 tak ada bekas, seperti pada perempuan yaitu kehamilan)

    say, story puddingnya masih bisa sampai akhir oktober ya hani…:D

  2. Boleh saja sih memasang standar atau kriteria tertentu. Namun hasilnya terkadang tidak seperti yang diharapkan, karena tak ada manusia yang sempurna dalam hal ini. Kekurangan di satu sisi akan dilengkapi dengan kelebihan di sisi yang lain sehingga tetap seimbang.

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s