Bukan cuma Romeo dan Juliet

Saat cinta tak mampu memelukmu, mungkin kau akan kecewa dan merutuk nasib yang tak memihakmu namun mungkin di saat seperti ini kamu mulai belajar menghargai cinta yang datang padamu. Menghargainya, dengan tidak melepaskannya jika kau memang menghendakinya bukan terpaksa tapi karena kau ingin bersamanya.

Hanya sebuah kiasan, tak ubahnya rangkaian kata-kata indah yang kau permanis agar apa yang ingin kau sampaikan tak menyakiti hati seseorang namun ini bukan hanya sebuah cerita tentang kata kiasan, namun sebuah cinta sebenarnya yang entah disebut cinta tak sampai, penyesalan, jodoh, nasib atau…..entahlah semua berhak menilai ini hanya sebuah kisah yang berakhir indah untuk seseorang dan tragis untuk yang lainnya. Mungkin memang benar statement “Bahwasannya untuk sebuah kebahagiaan harus ada seorang yang berkorban” saya tak setuju tapi, begitu yang tejadi di sini….

Pada suatu ketika saya mencintai seseorang, orang yang mampu membuat saya tak bisa behenti memikirkannya saat dia tiba-tiba menghilang sehari saja walaupun kami baru saling kenal. Seorang yang sederhana lagi baik. Ah,….aku ingin sekali berhenti memikirkannya, sungguh! jadi bantulah aku untuk berhenti memikirkannya karena aku tak lagi boleh memikirkannya.

“Adik, maaf telah membuatmu menunggu, seharusnya aku mengatakannya dari dulu bukannya aku lari begitu saja menghindari perasaanku, kamu tahu kenapa? karena aku takut sekali menghadapi kenyataan kalau kamu tidak bisa menerima cintaku” ungkapnya saat itu sambil menggenggam tanganku erat. Tak usah bicara lagi, pandanganku langsung mengabur, setitik demi setitik air mataku mulai membasahi pipi, tak tahu harus bicara apa…seharusnya aku bahagia bukan karena aku rasa aku juga merasakan hal yang sama tapi aku tak tahu mampu mengungkapkan rasa bahagiaku itu karena bagiku ini sudah terlambat.

Kutatap lekat wajahnya yang tampan dengan sorot mata polos dan tulus itu, semakin sakit hatiku karena aku tahu aku bisa memiliki hatinya namun tak dapat bersamanya. Sungguh hidup itu penuh dengan pilihan. Menatapnya semakin membuatku tak ingin kehilangan dia…dia tersenyum, dengan lembut mengusap air mata dipipiku lalu mendekapku erat, tangisku pun semakin menguat, aku merasa nyaman di dada itu. Tangannya membelai rambutku lembut dan dengan sayang dia mengecup rambutku dan seketika aku tersadar aku renggangkan pelukannya, kembali kutatap lekat wajahnya yang terpancar kebahagiaan, suaraku rasanya hanya berhenti ditenggorokan yang aku rasakan saat itu hanya nyeri di dadaku tidak ada rasa lain. Pelan kukecup pipinya lalu aku berbalik melangkahkan kakiku pelan dan tak melihatnya…

” Dik…kamu kenapa?”
tanyanya mengejarku, dia bahkan menarik tanganku, menggenggam jemariku namun genggaman eratnya seketika merenggang saat menyentuh cincin di jari manisku, aku melihatnya menatap nanar cincin di jari manisku.

“Ada orang yang mendahuluiku, dik?”
tanyanya lirih, aku mengangguk pelan dan tak berani melihat wajahnya.

“Aku mengunggumu, Kak. Aku mencintaimu tapi kau tak kunjung datang, kenapa kamu begitu lama?” tanyaku dengan suara serak dan masih tidak mampu menatap wajahnya.

Dia mendekat, memelukku erat dan mengecup keningku.

“Maafkan aku, Dik..” bisiknya lirih di telingaku.

Angin malam berdesir lirih, ingin rasanya aku lari mencari hujan, berbaur dengan jarum-jarum tajam melebur segala larah di hatiku namun malam ini sangat cerah, bintang bertaburan dan sangat indah. Hidup yang sudah aku pilih harus kujalani. Bukankah Romeo akhirnya juga tidak bersatu dengan Juliet?

Advertisements

15 thoughts on “Bukan cuma Romeo dan Juliet

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s