Reuni

“Deg” rasa-rasanya ada sesuatu yg nyetrum saat melihat senyum itu, potongan rambut itu, penampilannya, gaya berjalannya, saya seperti pernah mengenali dia entah di mana dan entah siapa karena profesi saya sebagai seorang manajer project sangat memungkinkan bertemu banyak orang. Ya, karena tak mampu mengingat siapa dia akhirnya saya cuekin saja dan segera memasuki ruang meeting yg sudah disediakan oleh lembaga pemerintah ini meski saya rasa masih ada yang aneh karena saya rasa pria itu jg menatap saya dengan tatapan penasaran dan berusaha mengingat-ingat sesuatu. Tapi, masa bodoh-lah mungkin karena saya sudah menatapnya lumayan lama untuk sebuah sekedar lirikan makanya dia jadi jengah dan berusaha mengungkapkannya dengan menatap saya seperti itu, mungkin dia berpikir cewek ini gila pula menatapku kaya begitu.

Saya ayunkan langkah percaya diri saya seperti biasa, mengekor langkah boss yang juga turut serta dalam meeting kali ini. Perusahaan kami sudah biasa mengerjakan proyek pemerintah, namun untuk proyek pemerintah di daerah seperti ini dengan tempat wisata yang belum cukup ter-explore adalah pertama kalinya makanya saya yang mengajukan diri untuk presentasi karena saya takut boss saya dengan kemampuan bahasa Indonesia dengan nila D-(minus) itu malah bikin mereka gak pakai perusahaan kami, lantas kenapa boss saya ikut? Ya buat pemanis saja, hehehehe

Presentasi dimulai dengan sedikit bosa-basi dan seperti biasanya saya juga menemui satu orang yang bosa-basinya bener-bener basi dan menjurus keluar topik dan bosa-basi itu dilontarkan orang yang di luar tadi sempat saya lirikin cukup lama, saya cuma tersenyum cuek namun saat presentasi saya mulai pikiran saya sempat mampir kesebuah masa, hanya beberapa detik tapi terasa membuat saya membara dan ingin presentasi sebaik mungkin agar kami bisa bekerja sama.

“Dek, Abang minta maaf gak bisa meneruskan persahabatan kita. Kekasih Abang cemburu pada Adek dan dia mengadu ke orang tua Abang, adek kan tahu sendiri kalau keluarga Abang dan kekasih Abang sudah sangat dekat” papar Bang Andre pelan, saya tersenyum saat itu, senyum yg saya paksakan walaupun hati saya rasanya ingin menangis karena jujur saat itu sudah ada bunga-bunga cinta yang tumbuh di hati saya.

Tapi salah saya sendiri mau-maunya jadi orang ke-3, mau-maunya diperalat dia tapi itu tak membuat saya menyesal karena hati kecil saya sangat yakin kalaupun Bang Andre menikah pernikahan mereka tak akan bahagia, saya tak menyumpahi tapi saya mencoba meramalkan saja. Pacaran saja sudah tiap hari bertengkar karena sifat mereka yang sama-sama keras bagaimana kalau mereka menikah, well, again saya gak seharusnya punya pikiran seperti itu. Tapi, percayalah jika kamu ada di posisi saya saat itu meski dia tak pernah bilang ingin menjadikanmu kekasih tapi kalau dia selalu mencarimu di saat dia ada masalah, nyaman bersamamu, memperlakukanmu bukan sekedar seperti teman, sering berkata-kata memberikanmu harapan pastilah kamu akan ada rasa sakit hati. Ya…walaupun sekali lagi itu salah saya sendiri yang tidak tegas.

Meeting berlangsung kurang lebih satu jam dan saya melihat ada titik positive kalau perusahaan kami yang akan mendapatkan proyek wisata di daerah ini, karena mereka udah Ok dengan harga dan konsep yang kami tawarkan ya, walaupun saya mengakui suara Bang Andre memang cukup vokal. Seusai meeting kami kembali ke hotel tempat kami menginap, saya kembali untuk beristirahat untuk kemudia menghitung kebutuhan dari proyek yang akan kami jalankan, mengambil dokumentasi dan juga membuat laporannya, sedang boss langsung kembali ke Bali.

Kota kecil dengan pantai yang ternyata indah ini berudara sangat panas, namun kealamian alamnya masih sangat menyejukkan mata. Saya bersama sopir yang disediakan oleh institusi berjalan-jalan sambil mengambil beberapa gambar dan juga menikmati setiap jengkal pemandangan yang disuguhkan di depan mata saya. Jujur saya jatuh cinta dengan kota ini walau cinta saya sudah berlabuh pada pulau Bali.

Sedang sibuk menyekah keringat, seseorang yang saya anggap masa lalu mengulurkan sebotol ari mineral. Dia tersenyum, saya tak memberinya senyum balik tapi mengambil botol air mineral di tangannya.

“Masih seperti dulu ya, Mel? Tapi kamu sekrang terlihat semakin cantik dan menggemaskan” kelakarnya, saya cuma nyengir tanpa senyum sambil tangan saya sibuk membuka botol air mineral di tangan.

“Aku terkejut banget Mel saat melihat kamu pertama kali, awalnya tak yakin itu kamu namun setelah aku lihat di company profile kalian aku yakin itu kamu, senang banget Mel bisa bertemu kamu setelah sekian lama kita berpisah” paparnya panjang, saya tersenyum tipis dan masih tak ingin banyak bicara.

“Mel, kamu nggak ingin tahu bagaimana kabarku? Tanyain aku dunk Mel, bagaimana kabarku? Bagaimana pernikahanku” tambahnya lagi, saya terkekeh.

“Penting ya, Bang?” tanya saya ringan, kini Bang Andre yang terkekeh

“Meski kamu gak cerita aku mau cerita, Mel..” tuturnya

“Cerita aja, bang. Mumpung juga Melati ada di sini kan Melati udah biasa jadi tong sampah buat Bang Andre” seloroh saya sambil melirik dia yang tiba-tiba tampak gugup.

“ Jangan gitu dunk, Mel. Aku minta maaf kalau saat itu kurang tegas, karena aku masih bingung banget Mel, aku pikir jika menikah dengan Dara saat itu pencalonanku sebagai ketua partai juga akan mulus plus banyak proyekku yang akan lolos tanpa masalah karena aku selama ini benci sekali dengan birokrasi yang ada di pemerintahan jadi bukan cuma karena orang tua kami sudah saling kenal” cerita Bang Andre pelan, aku tersenyum tipis lalu duduk santai di sebuah bangku panjang di bawah pohon besar yang menghadap langsung ke pantai.

“Melati udah bilang sama Abang, idealisme Abang itu akan luntur begitu Abang sudah menjadi bagian dari mereka, katakan kalau Melati salah, Bang?”

“Kamu sama sekali gak salah, Mel. Semua yang kamu katakan benar, bahkan pernikahan kami sudah bubar sebelum genap satu tahun. Dan di saat itu aku hanya kepikiran kamu dan kamu terus Mel”

Tiba-tiba saja hujan turun, Bang Andre langsung bangkit sedang aku masih memandangi langit seperti tak yakin kalau sedang hujan namun dengan sigap Bang Andre langsung menyeret saya ke mobilnya yang diparkir lebih dekat dari tempat kami duduk.

Dingin AC mobilnya langsung terasa.

“Mel, sekarang siapa kekasih kamu?” tanya Bang Andre setelah beberapa detik kami terdiam. Saya tersenyum saja, tatapan saya menerawang menatap titik-titik hujan yang semakin deras.

“Berarti hidup Melati lebih beruntung dari Abang ya? Melati sering lho kepikiran bagaimana kabar Bang Andre tapi hanya kepikiran sih karena saat itu enak banget Bang Andre ngomongnya, pergi begitu saja setelah membuat Melati mulai sayang sama Abang”
papar saya datar dan saya akhiri dengan senyum.

“Mau maafin aku kan, Mel?” tanya Bang Andre berusaha mengambil tangan saya, tapi segera saya tampik.

“Bang…Melati sudah maafin Abang dari dulu kali, toh sekarang Melati juga udah mau nikah. Nih, cincinnya” ucap saya sambil saya tunjukkan cincin di jari manis. Terlihat wajah kecewa di muka bang Andre, saya hanya tersenyum.

“Bang, hidup itu pilihan. Abang sudah memilih hidup Abang kan Melati juga Bang. Dan kayanya Melati emang gak pas jadi ibu pejabat karena nanti akan banyak tanya dengan uang yang Abang dapat, he he he…jangan marah ya Bang….Melati hanya bercanda”
seloroh saya lagi, Bang Andre masih tetap menatap saya beberapa detik dan saya langsung membuang muka.

“Anterin Melati balik ke hotel, Bang. Besok pagi Melati kembali ke Bali. Abang jaga diri saja ya, Melati senang ketemu sama Abang, andai saja waktu itu Abang melupakan ambisi Abang dan lebih melek akan ketulusan Melati tapi sayang mungkin kita memang tidak berjodoh”

Bang Andre mulai menstarter mobilnya, perlahan menyusuri jalanan yang agak becek tatapannya lurus ke jalan, sampai separuh perjalanan kami tak bicara apa-apa, sampai akhirnya saat kami sudah memasuki jalanan aspal Bang Andre mengurangi kecepatan dan berbicara kembali.

“Mel, seandainya masih bisa ada kesempatan kamu kasih tahu aku ya Mel, karena pertemuan ini membuat aku berpikir bahwasannya Tuhan memang sengaja menjodohkan kita kembali, Mel. Aku butuh kamu”
tuturnya lirih, saya tak menjawab. Perjalanan seakan sangat panjang.

Benarkah reuni ini menjadi awal dari sebuah cerita untuk satu rasa yang sempat terabaikan? Benarkah cinta tak pernah terlambat?

Advertisements

9 thoughts on “Reuni

  1. nikahnya krn ada alasan biar mulus jd ketua partai dan mimpi byk proyek yg lulus:) … terus terang aku ngguyu dewe baca bagian yg ini, jujur bangt dia ya 😉

    btw, apa kbr ? lama aku ndak main ke sini ya 🙂

  2. Ini cerpen atau kenyataan sis????
    Btw senang bisa ketemu dengan admin pendar bintang setelah sekian lama hanya bertatap lewat layar monitor dan berjabat lewat senutuhan keyboard

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s