Kenapa Kita dan Orang tua sering berbeda pendapat?

Picture Provide by GoogleKenapa orang tua kita dan kita sering kali berada di persimpangan jalan yang berbeda?

Saya belum pernah menjadi orang tua, jadi saya akan mencoba berpendapat dari sisi seorang anak dan juga sahabat buat orang tua saya.

Dulu saat saya masih labil, saya selalu merasa orang tua saya nggak mau disalahin, nggak mau mengerti apa mau saya walaupun banyak hal yang saya minta udah mereka turutin tapi ego saya sebagai anak tetap menganggap bahwa mereka tak bisa mengerti saya.

Tapi, saya belajar sesuatu, di saat saya mulai mengenal cinta dan saya sakit oleh cinta mereka ternyata orang yang selama ini telah mengatakan sesuatu yang benar terhadap saya dan akhirnya saya bertumbuh.

Iya, ego orang tua yang sebenarnya ingin selalu diturutin itu bukalah tanpa suatu dasar tapi punya dasar yaitu menginginkan yang terbaik buat anaknya namun seringnya kita yang masih mudah dengan ego yang masih meledak-ledak gak mau mengakui dan melihat kenapa ya orang tua saya begini dan kenapa begitu?

Lambat laun saya belajar menyelami perasaan orang tua saya. Saya yang aslinya pemberontak lebih banyak mendengar, sungguh walaupun mereka tak selalu benar tapi apa yang mereka katakan itu ada dasarnya, ada alasannya dari situ saya tak pernah bertentangan dengan mereka. Kadang kami tidak sependapat tapi kami juga tak pernah berdebat melainkan, saya sebagai anak belajar lebih banyak mendengar sehingga walaupun akhirnya pendapat orang tua saya itu tetap tidak masuk akal dalam masalah saya, orang tua saya bisa tidak menyadarinya karena saya memberikan bukti bukan bantahan.

Gara-gara sering ribut dengan orang tua saya jadi suka membaca buku-buku psikologi, namanya saya saat itu masih mencari jati diri, ababil gitu…buku apa saja saya baca sampai saya jadi penghuni perpustakaan. Sampai akhirnya saya diberi pengertian oleh guru personal development saya, beliau bilang bahwa kami memang tumbuh di jaman yang berbeda jadi sudah sangat pantas selalu beda pendapat dan Ayah saya pada kesempatan lain juga bilang, mungkin pemahaman kita tentang suatu masalah memang selalu berbeda karena tingkat pendidikan, pergaulan dan jaman kita berbeda tapi yang pasti apapun yang kami inginkan sebenarnya untuk kebaikan kamu, ingat banget kata-kata ini saat saya masih kelas 2 SMU.

Dan alhamdulillah sampai sekarang saya dan orang tua seperti sahabat, apalagi Bunda saya..waaahh, jangan tanya kami bisa nggak tidur kalau sudah ngerumpi kalau Papa beliau orang yang tidak bisa begitu bicara banyak meski konyol dan kata-katanya suka nusuk beliau mengungkapkan rasa sayangnya lewat belaian, kecupan di kening.

Jadi, di setiap permasalahan yang saya hadapi saya berani bilang ke orang tua, karena pendapat mereka memang jujur sangat penting di saat saya mempertimbangkan suatu keputusan, meski Bunda saya tak lulus SD dan Papa saya cuma lulusan SMP pengalaman hidup mereka kan lebih banyak dari saya, mereka sudah menjumpai masalah yang juga lebih banyak dari saya pastilah mereka lebih unggul dalam banyak hal, meski lagi keputusan tetap di tangan saya.

Saya juga merasa kehidupan saya terasa lempeng-lempeng saja, selalu saja mendapatkan kemudahan di saat saya bisa menjaga hubungan baik saya dengan orang tua saya. Semenjak saya semakin dekat dengan orang tua saya jadi tak pernah merasa memiliki masalah yang berat karena mereka telah mengambil alih dengan dukungan dan juga karena saya percaya pada mereka kalau saya tidak akan ada apa-apa tanpa mereka.

Kita memang pribadi-pribadi yg berbeda dan kita memiliki peranan masing-masing dan ini yang akan menghasilkan satu keputusan diskusi yang unik di dalam suatu keluarga antara anak dan orang tua.

Tulisan ini sebagai wujud sayang saya untuk my beloved king father and queen mother. You are my inspiration and motivation. Kalian telah menjadikan aku sekarang sehingga aku dapat hidup dengan syukur dan percaya diri dan tentu saja tak sekedar bernafas 🙂

Advertisements

25 thoughts on “Kenapa Kita dan Orang tua sering berbeda pendapat?

  1. Aku sering banget sama Mamah. Kalo aku dengerin semua, gak bakalan habis. Malah aku kayak udah mau mati (aku mending dipukul, daripada dicaci). Aku masih remaja, masih berhak dididik dengan lembut. Justru karena sikap Mamah, aku jadi anak yang sulit bergaul. Apatis, gak peduli perasaan orang lain, dan kadar happy aku gak pernah setingkat sama remaja pada umumnya. Dan masalahnya, aku gak punya siapapun untuk jadi teman curhat karena aku orang yang tertutup. Jadi, semua masalah aku aku pikirin, selesaikan dengan cara dan berdasarkan sudut pandang aku. Dan itu bikin aku capek.
    Pada dasarnya, aku gak nyalahin Mamah. Mamah adalah orang paling berharga di dunia ini. Aku hanya gak tau, bisa bangkit atau gak. Karena aku juga pengen kayak temen-temen seumuranku yang lain. Pengen banget.
    Maaf, lebih dari komen, aku malah curhat. Hihi

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s