Kenangan Tersisah

Minggu sore itu, tanggal 18 March 2012, seperti biasanya aku, adik dan sepupuku berkumpul di kamar, kami bersendah gurau sambil nonton TV dan satu lagi aku yang entah kenapa jadi ketularan adikku yang sok-sok an memfoto diri sendiri, sok narsis, sok cantik, sok imut.

Tak ada firasat apa-apa, kami tertawa cekikikan karena cerita-cerita konyol atau sekedar celetukan dari bibir kami masing-masing yang emang ngasal dan diucap tanpa pikir panjang, hingga tawa kami terhenti saat adikku menerima telpon tapi hanya sebentar kemudian aku dan sepupuku lanjut cerita sendiri-sendiri lagi sedang adikku keluar karena ada pacarnya di ruang tamu. Saat asyik bercanda dengan adikku tiba-tiba saja HP adikku berdering lagi, mukanya tampak serius, pikirku pasti yang telpon pertama tadi makanya aku tetap cekikikan gak jelas, tapi tiba-tiba adikku berteriak keras “Diam, Mbak! dengerin ini! Mbah nggak ada, mbah meninggal” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, pikiranku langsung blank, aku bingung, kacau, di saat adik dan sepupuku menangis aku malah seperti orang kebingungan, aku mencoba menelpon Bundaku tapi tak diangkatnya, mencoba mengecek penerbangan rupanya paling malam pun jam 9 sedang saat itu sudah hampir setengah 9. Saat itu aku benar-benar BLANK.

Di tengah ke-galau-an ku itu, yang aku akui adikku memang lebih pintar dan lebih tahu menyarankan aku naik bis saja, tapi ini jam berapa pikirku? jam setengah sembilan! Emang ada bis jam segini? AKhirnya adikku menyarankan untuk naik bis jurusan Surabaya agar dioper di Probolinggo untuk bis jurusan Malang, aku nurut saja.

Aku ke terminal di antar pacar adikku, di jalan aku sudah menangis sesenggukan, pikiranku sudah pulang ke rumah, perasaanku campur aduk! sampai di terminal pacar adikku minta kau menunggu, dia mencarikanku bis dan memastikan aku nanti akan naik bis yang tepat, sebelum naik bis aku masih sempat menelpon Garuda bertanya penerbangan terakhir dan Bundaku sempat menelpon dan memintaku untuk tenang, iya aku tenang untuk sesaat tapi semua kenangan tentang kakek terbaik yang pernah kumiliki itu membuatku memangis sepanjang jalan. Kakek terbaik yang menjadikanku istimewa, semua kenangan di masa kecilku muncul, di mana aku meminta gendong, minum kopi susunya, mijitin beliau, menggunting kukunya atau bahkan saat bertengkar dengannya dulu, dulu sekali saat masih kecil. Beliau selalu menjadi pahlawanku saat aku diganggu teman-teman atau tak ada yang mau berteman denganku saat kecil dulu.

Kondisi yangtak sehat semenjak pagi membuat aku mabuk darat, sebenarnya aku bisa nahan namun gara-gara penumpang belakang yang kurang sopan itu menaikkan kakinya ke samping kursiku aku jadi muntah-muntah karena jujur bau kakinya sangat nggak enak. Setelah habis-habisan mengeluarkan isi perutku, aku focus dzikir dan mengirimkan do’a buat kakekku hingga akhirnya aku tertidur, hanya terbangun saat masuk fery dan berhenti di Situbondo, setelah itu aku tak tidur karena sesuai pesan pacar adikku aku harus turun di Probolinggo untuk oper bis jurusan Malang, namun sayang ternyata aku diturunkan di Pasuruan sehingga perjalanan ke Malang harus aku tempuh dengan naik bis jelek yang mungkin usianya lebih tua dari usia kakekku (!), nggak kuat lari, pake berhenti-berhenti lagi! Aku nangis, apalagi saat ditelpon adik dan Kakakku, aku ingin membacakan surat Yaasin dulu buat kakekku sebelum beliau dikubur. Bundaku juga berkali-kali menelpon dan telpon tereakhir membuatku putus asah karena aku merasa kakekku sudah dikuburkan tanpa menunggu aku.

09:00 aku tiba di rumah, seperti yang sudah aku duga saat aku keluar dari taxi aku liat halaman rumah sudah lenggang meski masih banyak sekali orang di sana, badanku sudah lemas, di sambut oleh Ayahku yang mencium keningku aku menangis, disambut Pakdheku dan aku sudah hampir pingsang lalu datang kakak ipar dan Bundaku yang membimbing masuk kamar. Bunda memelukku erat dan menenangkanku, datang juga kakak dan Om ku yang menenangkan sambil mereka semua mengelus rambutku dan menyuruhku untuk cepat mandi saja lalu ke kuburan kakek dan berdo’a di sana karena ternyata aku hanya terlambat 30 menit, mereka ingin menunggu tapi harisudah cukup siang.

Sungguh kepergian kakekku tak memberikan firasat apa-apa hanya saja pas Sabtunya entah kenapa aku ngotot masuk kerja karena seolah-olah ada yang nyuruh aku buat masuk kantor, bahkan sempat aku nulis status begini di salah satu account jejaring social “I am not used to go to office on Saturday, it must be something wrong” ternyata saat itu di kantor aku ada beberapa kerjaan yang memang harus aku bereskan (yang seharusnya Senin bisa aku kerjakan), kakekku emang sudah tua, namun tetap kepergiannya menorehkan kesedian karena beliau pergi tanpa sakit dan aku merasa belum puas memberikan pengabdian padanya dan ada satu hal lagi yang sebenarnya tertinggal di sudut hatiku dan membuat aku terus menyimpan sedih.

Namun, lukaku terasa terobati saat semua orang bercerita kalau wajah kakekku pergi dengan senyum dan berseri, kulitnya bersih dan lagi semua proses, dari memandikan sampai menguburkan lancar sekali, semua itu menandakan bahwa selama hidupnya kakekku memanglah orang yang baik. Dan yang membuatku lebih legah lagi yang men-sholati jenazahnya pun 50-an orang, dan sampai hari ke-3 acara tahlilannya yang hadir tumpa ruah, semua ingin mendo’akan beliau karena di masa hidupnya beliau sudah banyak berbuat baik pada mereka.

Semoga kakekku mendapatkan tempat yang indah di sisi Allah, jujur sampai sekarang aku merasa kalau kakekku masih hidup, senyum usilnya (kakekku punya good sense of humour) sering terbayang di pelupuk mataku, juga suaranya saat menyangkal tuduhan-tuduhanku saat beliau mulai usil atau menjahiliku.

Kenangan terakhirku, sekitar sebualan yang lalu aku membopong tubuh kurus kakek ke kursi, saat itu aku memandangi tulang berbalut kulit yang sudah keriput dan dalam hati aku sempat terbesit “Kalau beliau bakal pergi…” menyesal rasanya tak banyak menghabiskan waktu bersamanya.

Advertisements

7 thoughts on “Kenangan Tersisah

  1. yang sabar yaa Han, semoga kakek bahagia disana.. kakeknya dhe juga meninggal tahun lalu.. dan alhamdulillah, duka yang dirasa cuma sebentar.. karena alangkah baiknya tidak berlama-lama berduka, kasihan kakek juga di alam sana.. 🙂

  2. yang sabar ya mbak han..semoga almarhum tenang disana, di terima segala kebaikannya, di terima di sisi-Nya, amin..kalau aku udah gak merasakan kasih sayang kakek sejak lama, aku bahkan gak tahu wajah kakek karena sejak saya bayi pun kakek udah almarhum. jadi mbak han masih bersyukur bisa /sempat menghabiskan waktu bersama kakek.

    ya doa terbaik ya untuk almarhum kakek nya mbak han 🙂

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s