Sahabat

Malam ini, aku tersenyum ceria menatap ke arah luar jendela sambil menikmati bulan penuh. Lama aku tak menikmati malam dengan cara seperti ini, menghitung bintang dan mencoba mencari-cari di mana diriku. Diriku? Iya…diriku di antara bintang-bintang itu.

Dalam pandanganku, sinar bulan malam ini berlapis-lapis dan lebih berwarna daripada pelangi. Sungguh tak sabar aku menunggu esok meski aku sangat menikmati malam ini, karena saat-saat seperti ini selalu membawaku ke dalam kenangan indah saat-saat bersama dengan Yuda, sahabat dekatku. Aku menyukai Yuda, ya tentu saja ini bukan cinta tapi aku menyukainya dan juga menyayanginya sehingga saat-saat bersama dia menjadi indah dan penting untukku.

Demi masa depan kami berdua harus berpisah, Yuda harus meneruskan studynya di Jogja dan aku tetap stay di Malang, satu tahun kami berpisah, komunikasi hanya terjalin lewat telpon dan SMS dan pada akhirnya besok baru bisa bersua kembali.

Persahabatan yang memberikanmu rasa nyaman akan selalu membekas di hati.

Besok pagi akan menjadi pagi paling panjang karena harus menunggu kedatangan Yuda.


Esoknya…

Seperti yang kuduga, pagi yang cerah ini menjadi waktu yang sangat panjang karena Yuda masih juga belum ada kabar, seharusnya jam 8 keretanya sudah datang, andai saja dia mengijinkan aku mau menjemputnya ke stasiun kereta tapi dia tak mengijinkan.
Seperti menanti seorang kekasih, aku bolak-balik melirik jam dinding sampai akhirnya orang yang aku tunggu itu muncul di depan pintu rumahku dengan senyum manisnya yang tetap seperti dulu, membayangkan aku memeluknya karena rindu, tapi tentu saja tak kulakukan karena Ibuku juga ikut menyambutnya. Aku menatap binar kerinduan yang sama di matanya, saat berjalan menuju sofa, sempat dia berbisik “kamu makin manis, Sa” aku tersipu saja.

Hampir satu jam kami bercengkeramah melepas rindu, bertukar cerita tentang pendidikan masing-masing, karena Yuda juga baru datang Ibuku menyuru dia mandi lalu kami sarapan bersama. Yuda dan keluargaku sudah cukup dekat.
Usai sarapan, sesuai yang kami rencanakan jauh-jauh hari kami merencanankan perjalanan ke Batu. Payung adalah tempat favorit kami.

Di puncak, Batu kami memilih tempat yang memang sudah menjadi langganan kami. Duduk di sana sambil melihat pemandangan hijau atau cuma lalu lalang mobil, bus yang terlihat memaksakan diri melewati jalanan berkelok dan naik turun, persis seorang kakek-kakek naik gunung sambil memegangi pinggangnya! Sungguh kasihan bus itu, andai dia bisa bicara pastilah sudah protes.

Dan suasana hening pun mulai tercipta, entah kenapa…rasa ini terasa lain, seperti ada desiran-desiran aneh saat tangan kami tak sengaja bersentuhan atau mata kami saling bertemu, aku belum perna merasakan ini sebelumnya. Dan hingga akhirnya, sahabatku ini menyatakan perasaannya, dia ingin aku menjadi kekasihnya. Aku suka, bahagia, tubuhku seakan melayang karena saking bahagianya tapi ada perasaan aneh yang membuat sesuatu keluar dari mulutku “Maaf, aku nggak bisa” Ah, shit! Harusnya kata-kata itu tak keluar kan? Tapi, aku tak tahu setan bodoh mana yang membuatku menolak.
Wajah sahabatku sangat kecewa, tapi dia berusaha tersenyum dan meminta ijin untuk memelukku. Tentu saja aku memeluknya erat dan aku bisikkan kata “Aku sayang kamu, Yud” Yuda tak menyahut, hanya mempererat pelukannya.
Sore itu juga, Yuda kembali ke Jogja dan intens komunikasi kami tak seperti dulu lagi, dia seperti menjauh dan itu membuat aku rindu namun lama-lama aku terbiasa juga.


4 Tahun kemudian…

Malam ini aku menatap bulan yang sama seperti saat-saat aku akan bertemu Yuda saat itu tapi dari tempat yang berbeda, bulan malam ini aku liat dari jendela kamar hotel. Sama seperti saat itu, aku tak sabar menantikan esok hari.

Rupanya rasa rindu yang kuat telah membuatku nekad mendatangi Yuda ke kota Jogja ini demi mengatakan “Yuda, aku kangen kamu” hanya itu, gak ada maksud lain karena yang aku dengar dia akan menikah dengan seorang gadis baik teman kerjanya.

Esoknya, tak secerah yang aku bayangkan, rupanya mendung menggelayut di langit Jogja. Aku tak takut hujan seperti halnya tak peduli dengan apapun yang dipikirkan Yuda tentang kedatanganku saat ini.
Ah…rasanya perjalanan ke tempat Yuda pun sangat panjang, rasanya taxi ini tak berjalan sama sekali. Sepanjang perjalanan aku membayangkan bagaimana Yuda saat ini, apa reaksi dia saat melihatku, dan membayangkan apakah benar aku mampu mengeluarkan kata-kata itu.

Perjalanan kurang lebih 30 menit namun serasa sangat panjang dan akirnya sampai di tempat yang aku tuju. Berjalan pelan aku menelusiri halaman rumah yang tak terlampau luas itu, hanya beberapa tanaman obat di sana. Sampai di depan pintu aku terdiam sekitar 5 menit sampai akhirnya memberanikan diri memencet bel dan keluarlah seseorang yang selama ini aku rindukan. Orang itu diam terpanah dan menatapku dengan tatapan tak percaya sedang aku tak mampu mengeluarkan kata-kata, hanya menitikkan air mata. Beberapa menit kami saling berdiam diri lalu dia membimbingku duduk di sofa coklat di ruang tamunya.
Aku mencoba mengontrol emosi.
“Aku dengar, kamu mau menikah Yud?” Tanyaku lirih, Yuda hanya tersenyum dan berusaha mengalihkan pandangan, entah apa yang dia pikirkan mungkin dia melihat kesedihan di mataku. Aku mencoba kuat sambil tersenyum.
“Aku bahagia, Yud kamu udah dapetin perempuan seperti yang kamu inginkan, semoga kamu bahagia. Kedatanganku kemari….aku, aku hanya ingin…..” Kalimatku terputus karena harus menahan tangis, Yuda berusaha membantu menghapus air mata di pipiku tapi tangannya segera aku tahan dan aku genggam erat.
“Kamu baik-baik saja kan, Sa?” Tanyanya, aku menjawabnya dengan anggukan, tapi lagi air mataku tak dapat aku bendung.
“Aku, aku…aku kesini hanya mau bilang kalau aku rindu sama kamu Yud..” Paparku terbata. Yuda menatapku, memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya..
“Maafkan aku, Sa” tuturnya lirih
“Nggak Yud, kamu gak salah. Aku kesini juga tidak ada maksud apa-apa hanya ingin mengatakan ini” sahutku cepat, secepat aku bangkit dan berniat pergi.
“Nisa, kamu baik-bak saja bukan?” Tanya Yuda lagi lirih sambil memegang bahuku.
“Iya, aku baik…kamu kan tahu aku penulisa aku bisa segera melupakan rasa ini melalui tulisan. Tapi yang kulupakan bukan rasa rindu ini, Yud melainkan sakitnya menyimpan rindu” paparku untuk kemudian pergi.

Senja tenggelam di ufuk barat, duduk sendiri di tepian Parang tritis sambil bermain pasir berharap rasa sakit ini bisa segera hilang seperti tulisan di atas pasir ini.

Cinta itu ternyata seperti ini, seperti menyimpan rinduku terhadapmu…

Advertisements

6 thoughts on “Sahabat

  1. “Aku, aku…aku kesini hanya mau bilang kalau aku rindu sama kamu Yud..” > Cihuuy…:-P

    Nambah galau aku mbak, hahaha

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s