Pelajaran hidup dari Shuma

Gambar hanya ilustrasi

“Apa benar hidup ini indah?”
Satu kalimat yg diucapkan dari bibir mungil Shuma membuat saya berpikir sedikit lama, saya percaya bahwa hidup itu indah apapun warnanya, tapi saya seperti tak punya kata bagaimana menjelaskannya.

“Jika hidup ini indah, kenapa tidak aja yang menyayangi saya? Kenapa semua orang membenci saya” lanjutnya lagi bertubi-tubi. Pertanyaan pertama belum saya jawab, dilontarkannya kembali pertanyaan lain. Sebenarnya saya tahu harus menjawab apa, tapi saya tak bisa merangkai kalimat indah, mudah dicernah dan difahami oleh gadis 9 tahun ini.

Sangat mudah berbicara dengan teman-teman saya yang sedang curhat, menasehati teman atau saudara yang memang seumuran dengan saya, tapi ini dengan Shuma gadis 9 tahun yang seharusnya hanya mengenal bahwasannya hidup ini indah.

“Kenapa Tuhan membuang saya ke rumah kumuh ini, Mbak? Tuhan nggak sayang sama saya” paparnya lagi, saya menarik nafas panjang dan berpikir keras lagi, apa yang harus saya katakan agar dia mengerti apa yang saya maksudkan.

Ada beberapa kata yang ingin saya keluarkan tapi, akhirnya yang muncul hanya senyuman

“Saya ingin sekolah, Mbak. Ingin seperti Mbak yang bisa jalan-jalan, makan di restaurant, punya banyak buku, baju bagus”
tutur Shuma lagi, saya hampir-hampir tak dapat membendung air mata saya. Apa yang saya dapat sekarang adalah hasil dari jerih payah dan kerja keras saya tapi, tanpa adanya bekal yang diberikan orang tua saya mana mungkin saya bisa mendapatkan apa yang saya rasakan sekarang. Ya, saya lebih beruntung dari Shuma karena saya masih diberikan kesempatan untuk belajar.

“Saya capek, setiap hari harus menjual koran dan memulung” tambahnya lagi seperti keluhan, ah…saya hampir menitikkan air mata. Saya langsung membuang pandangan ke jalan, jiwa saya terpecah dan berterbangan kemana-mana. Saya berpikir keputusan saya tadi salah menarik Shuma untuk duduk di sini menemani saya ngobrol karena hanya semakin membuat saya gak karu-karuan saja, membuat saya semakin bersalah sama hidup saya. Apa yang sudah saya lakukan selama hidup ini? Manfaat apa yang sudah saya berikan untuk sesama? Apakah hidup saya selama ini tidak sia-sia? Yang paling dekat, apa yang sudah saya lakukan untuk orang tua saya? Selama ini saya terlalu sibuk mengkorek-korek apa yang saya tidak miliki sampai hampir lupa dengan apa yang sudah saya miliki. Harusnya saya lebih bersyukur.

Tanpa saya sadari Shuma memperhatikan saya, memandangi saya.
“Shuma, Shuma makan dulu ya…sambil dengerin Mbak bicara, biar enak…” Papar saya, gadis berkulit gelap dan bermata sipit di depan saya ini mengangguk sambil tersenyum. Melihatnya sangat menikmati setiap gigitan ayam yang masuk kedalam mulut mungilnya itu membuat aliran darah saya serasa berhenti. Saya merutuk diri saya sendiri yang selama ini kurang bersyukur dengan apa yang bisa saya makan, sering dengan seenaknya tidak menghabiskan makanan padahal saya yakin orang-orang di lingkungan Shuma banyak yang kesulitan makan, seperti halnya Shuma yang pernah mengalami hal itu.

“Kok, Mbak gak makan?” Tanya Shuma sambil terus menghabiskan ayam yang ada di tangannya. Saya mengangkat bahu sembari tersenyum.
“Shuma aja, makan yang kenyang” jawab saya
“Kok, Mbak baik sekali, ya?” Tanya Shuma lagi, saya tersenyum.
“Karena hidup ini indah, nggak semua orang tidak suka dengan Shuma dan Tuhan itu sayang dengan Shuma jika tidak mana bisa Shuma diberikan kesempatan untuk menikmati hari ini” jawab saya sambil membantu melap nasi yang nyangkut di bibirnya.

“Shuma pasti mikir Mbak ini dari keluarga kaya, serba ada begitu kan? Nggak kok….Mbak juga dari keluarga yang biasa-biasa saja…”
Saya memulai bercerita
“Tapi, mbak bisa sekolah” sahut Shuma, saya membenarkan dalam hati, ya…bagaimanapun saya memang jauh lebih beruntung dari Shuma. Saya tak berani banyak bicara lagi karena saya tak cukup baik untuk mengajari Shuma yang polos.
“Hidup itu indah Shuma, bagaimanapun dan apapun keadaan kita karena Tuhan selalu punya alasan untuk setiap hal yang dipercayakan sama kita. Intinya, Shuma harus percaya bahwa keadaan Shuma saat ini adalah yang terbaik buat Shuma…”. Tutur saya, dan saya faham pastilah kalimat saya tak mudah dicernahnya…
“Jadi, menjadi pemulung itu baik buat Shuma ya Mbak?” Tanya Shuma polos, saya tersenyum sambil menepuk-nepuk bahunya.

Hey, saya tak mampu membantu Shuma apa-apa jadi apapun kalimat yang saya ucapkan tidaklah pantas saya ucapkan. Saya akan berkata “Shuma, hidup ini indah! Kamu harus yakin itu! Tuhan sayang sama Shuma, Shuma juga harus yakin itu!” Tapi bagaimana kalau dia bertanya tentang bukti-bukti? Saya tidak akan terjebak oleh kata-kata yang tidak saya mengerti, cukup saya meyakini bahwasannya hidup itu indah apapun warnanya, dan Tuhan itu sayang kita bagaimanapun keadaannya karena bukti sayang-Nya tak hanya ditunjukkan oleh segala rejeki dan anugerah melainkan bisa dalam bentuk apapun. Andai saja, perjumpaan saya dengan Shuma berlanjut mungkin saat ini saya bisa membantunya, tapi dulu? Ya, karena ketidak fahaman saya akan arti cukup membuat saya selalu merasa kurang sehingga tak mampu berbuat apa-apa untuk Shuma. Dengan alih-alih tak punya banyak uang jadi untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti itu saja rasanya sulit, padahal nikmat bisa membantu itu sungguh luar biasa dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Renungan singkat dari perkenalan saya dengan Shuma beberapa tahun silam 🙂

Advertisements

11 thoughts on “Pelajaran hidup dari Shuma

  1. Semoga sekarang Shuma sdh mendapat rumah yg dia inginkan dan merasa disayang Tuhan ya Mbak. Aku terharu membacanya.Iya mengapa kita orang2 dewasa mendamparkan anak-anak ke tempat yg tak seharusnya? Mereka kan tidak minta untuk dilahirkan..Saya saja yg setua ini, walau tak meragukan kasih sayang Allah kepada saya, sulit memahami bagaimana kadang Dia membedakan nasib orang..Apa lagi Shuma yg polos itu

  2. dari perjumpaan beberapa tahun lalu, menjadi pelajaran bagi banyak yang membacanya Han, saat itu itulah yang terbaik bagi shuma, nanti akan bertemu lagi dengan shuma lain, dan akan menjadi bagian dari keluarga pendar bintang, aamiin.

  3. Aku kok jadi bungung sendiri, anak negeri ini diwajibkan sekolah sembilan tahun dan katanya gratis, tapi masih banyak diantaranya yang tidak mendapatkan pendidikan yang memadai.

  4. jadi melow membaca kalimat tengah dan akhir, semoga anak2 seperti shuma mampu menjadi pejuang bangsa yang berkembang melalui kemampuan mereka dan kita bisa menjadi orang tua asuh bagi mereka

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s