Pecalang

Bagi teman atau sahabat yang tinggal di Bali tidak asing lagi pastinya dengan pecalang, saya sudah hampir 3 tahu di Bali jadi juga lumayan familiar dengan namanya pecalang.

Menurut info dari bapak kost saya yang lama, pecalang itu kalau di Jawa seperti hansip yang tugasnya menertipkan. Tugas yang mulia.

Biasanya pecalang memakai baju hitam plus memakai kain Bali, terlihat gagah dan keren, honestly 🙂

Tapi, jujur ada 1 yang membuat saya kurang sreg dengan bapak-bapak pecalang ini yaitu salah satu tugas mereka adalah menertipkan pengadaan kipem karena semua warga pendatang harus membuat kipem dengan harga yang beragam 30-70ribu kalau tidak salah, kebetulan saya kena yang 70ribu dan ini hanya berlaku 3 bulan (!).
Bagi yang tidak tahu Kipem, Kipem adalah Kartu tanda kependudukan sementara yang harus diperbarui setiap tiga bulan untuk pendatang dari luar Jawa sedang penduduk Bali sendiri per 6 bulan. Saya sih kepikiran mau buat KTP, ternyata biayanya cukup mahal yaitu selain harus mengurus surat pindah biayanya juga satu juta lebih (!) dna ini-pun karena sudah ada yang kita kenal di banjarnya. 1 juta? buat bayar kost saya perbulan, he he he

Yang membuat saya kurang sreg bukan membayarnya, buat saya fine-fine aja karena semenjak tragedi bom Bali pengadaan kipem ini memang diwajibkan, mungkin ini salah satu cara untuk mengontrol keamanan agar tak ada penyusup yang akan mengganggu keamanan (make sense tidak?). Jadi yang membuat saya kurang sreg adalah caranya saat mau melakukan pemeriksaan, mereka melakukan dengan cara menggerebek kamar-kamar kost, menggedor-gedor pintu di pagi hari (ada kalanya saat kita masih tidur). Hal seperti ini sangat membuat tidak nyaman, karena menggedor identik dengan “salah” jadi kami digedor kaya kami yang di dalam lagi berbuat mesum saja.

Selama hampir 3 tahun di Bali, baru sekali ini saya mengalami penggedoran yang membuat jantung hampir copot karena saya baru bisa mejamin mata sehabis Subuh, jadi belum sejam saya terlelap. Saya yakin, nggak cuma saya yang kaget, banyak banget!b dalam kekagetan itu saya yakin akan banyak reaksi spontan yang dilakukan para penghuni kost. Yang dulu-dulu karena kost saya Bapak kost-nya stay at home jadinya mereka mungkin rada sungkan, yang kali ini kami lebih mirip rumah kontrakan dengan 2 kamar tidur, ada ruang tamu kecil, dapur dan dua kamar mandi.

Mungkin kalau pecalang pakai cara yang lebih baik akan lebih mudah dan pesan tersampaikan. Saya nggak tahu kalau ada pendapat lain yang membenarkan penggedoran seperti ini. Nggak kebayang saja kalau misalkan ibu saya sedang berkunjung, beliau pasti langsung sakit jantung! karena jantung saya yang sehat saja masih belum hilang deg-degannya sampai saat menulis ini saking kagetnya, sangat disayangkan >'<

Advertisements

39 thoughts on “Pecalang

  1. Saya setuju Mb, kalau bisa mereka melakukan tugas dengan tertib dan sopan, kecuali kalau memang mereka mencurigai seseorang, seharusnya mereka sudah mengenali kita, karena sudah beberapa kali memperpanjang Kipem.

  2. Memang iya.Gk sopan bgt,aplg kt sbg pkrja pndatang seolah kt drlakukan spt binatang.Dibentak 2 digedor2,pdhal kt djawa sppn pendatang kt hormati&hargai

  3. Ya seperti itulah adanya diBali jadi setiap pendatang atau istilah mereka “NA” JAWE” (anak jawa) walapun saya bukan berasal dari tanah jawa…. memang kurang disukai, jadi “PECALANG” jika melakukan RAZIA seperti pasukan “ANTI TERROR” Menggrebek “SARANG TERRORIS”. ya masih mending baru sekali saya setiap masa berlaku KIPEM /KIPS habis neng… 😦

  4. KIPEM di bali sekarang ini cenderung sudah mirip PENGEMIS BERKEDOK PEMERASAN. Selain KIPEM ada lagi sumbangan2 aneh dgn mengatasnamakan/berdalih utk pembangunan desa adat. Spt di nusa dua di tagih Rp.60.000 perKK pertahun. Belum lagi kl mau mendekati Nyepi, minta sumbangan lagi utk bikin ogoh2. Padahal utk pendatang sama sekali ga ada gunanya kegiatan2 agama spt itu, yg ada jalan2 malah ditutup kl lg upacara, bikin macet, Yang pasti kita sudah liat bhw junjungan mereka tdk bisa mandiri cari nafkah/makan apalagi mensejahterakan umatnya krn umatnya lah yg 2x sehari kasi ‘makan junjungannya. Pengen bikin pesta besar2an tp ga mampu, pendatang yg di peras krn ‘penghuni’ pohon besar ga bisa nyumbang apa-apa. hehehehehehe…….

    • Tu dh masih mending, saya di tagih 150 ribu krna pendatang, pas banget saya gak pnya duit dan blum gajian, saya sampe syok dgr nya byar sgtu, krna slama saya tinggal 2 tahun d Bali saya biasa nya byar 30 ribu.. tp di kos saya skrg 150.. saya cek di situs penduduk tidak ada pemugutan sgtu besarnya.ya tuhan.

  5. Bener banget tuch …..
    Di tempat saya tinggal Drupadi renon malah bayar KIPEM 142.000 per orang per 3 bulan di Teuku Umar saya kena 120.000.
    Yang jadi pertanyaan nich, Apa kalau udah punya E KTP tetep harus bayar KIPEM yach?
    Bukannya E KTP berlaku nasional ?
    Temen2 ada info tentang pertanyaan saya ini gak ?

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s