Yang Penting Niatnya…..

Merujuk postingan saya sebelumnya “Wedges Orange pada paragraph terakhir di mana saya menangis mengetahui Bapak sopir di kantor kami mengambil sepatu yang saya buang buat anaknya, saya tuliskan ini tanpa ada maksu apapun selain sharing dan semoga tidak dianggap riya’ terlebih sombong.

Setelah peristiwa itu saya merenung, otak saya terus berputar dan berpikir. Saya sedih tapi tak bisa membantu, ada semacam rasa marah pada diri sendiri. Ingat perkataan Bunda yang mengatakan tak usah memaksakan diri jika tak mampu tapi hati kecil saya berkata lain, selama ini saya memang tak pernah sungkan membantu jika ada yang meminta bantuan, dengan kata lain saya bersedekah atau memberi jika saya lihat ada yang butuh. Akan tetapi peristiwa ini membuat saya mencari-cari di mana ada lembaga non profit yang bisa menfasilitasi donasi yang tak seberapa itu dan akhirnya saya bertemu kumpulan-kumpulan blogger baik hati yang membentuk yayasan lalu saya mendaftar menjadi donatur tetap walau tak banyak karena gaji saya saat itu jg tak seberapa.

Perjalanam saya bersama blogger-blogger baik hati itu memang tak panjang sampai akhirnya sekitar Maret 2012 saya bertemu dengan Yayasan Tunas Bangsa sebuah panti asuhan yang memiliki kurang lebih 35 orang anak-anak usia Sekolah Dasar (yang usia SMP dan SMA tidak begitu saya perhatikan) dan bahkan ada balita yang menarik perhatian saya. Semenjak itu insyaallah setiap bulan saya kesana, nilai sumbangan tak banyak akan tetapi saya selalu usahakan paling jelek tak kurang dari 10% dari gaji saya.

Sebenarnya semenjak di Malang saya sudah rutin ke Panti Asuhan, cuma dulu saya mengajar gratis di sana seminggu 3 kali.

Pada suatu hari saya ke Tunas Bangsa bersama adik dan suami, saat sedang bermain dengan salah satu adik panti muncul seorang wanita tak berjilbab yang belakangan kita tahu anak dari Abah atau pengurus panti, dari sikapnya saya sebenarnya sedikit ilfil dan ada perasaan “kok begini, sih?” Abah saja ngajarin untuk berhijab tapi anaknya? Saya hanya bergumam saat itu saja, tapi adik saya berpendapat lain dan merasa enggan untuk kesana lagi karena merasa ada kesenjangan antara anak pengurus dengan adek-adek, dia juga menyuruh  saya mencari panti asuhan lain.

Pendapat saya lain lagi, justru karena ada kesenjangan ini kasihan kan mereka? Lagian mau berbuat sedikit kebaikan saja kok jadi banyak mikir. Pentingnya sebisa mungkin jangan memberi uang dan niatnya, bener tidak?.

Saya berharap suatu saat bisa membangun rumah panti asuhan sendiri kelak….

Advertisements

16 thoughts on “Yang Penting Niatnya…..

  1. Berbagi memang perlu banget. Banyak sekali adik-adik kita di luar sana yang membutuhkan uluran tangan kita.

    Semoga Mbak dimudahkan oleh Tuhan dalam membantu sesama, aminn 🙂

  2. Pingback: When I was A Teacher | Pendar Bintang

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s