When I was A Teacher

Untuk orang seperti saya yang tidak memiliki jiwa telaten dalam diri sangatlah sulit jika harus menjadi guru. Dulu, dulu sekali Bunda pernah bilang kalau saya harus menjadi guru. Kalau ingat itu saya tertawa, mana mungkin saya menjadi guru? Namun, pada suatu ketika selama hampir satu tahun saya pernah mengisi hari-hari saya dengan mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak usia SD – SMP dan juga mengajar anak-anak usia Taman Kanak-kanan mengenal tulisan.

Usaha saya itu boleh dikatakan tidak berhasil, karena di saat anak-anak sudah mulai sayang sama saya, ternyata saya menyatakan berhenti untuk jadi pengajar mereka, banyak orang tua yang kecewa but life is choice saya selalu menginginkan hal lain dalam hidup saya, stuck isn’t me.

Akan tetapi, pada suatu ketika saya memiliki keinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu untuk adik-adik di panti asuhan yang lokasinya tak begitu jauh dari saya tinggal dan bekerja. Saat itu, percayalah untuk menabung seratus ribu saja rasanya sulit maka saya memberikan ilmu saya kepada mereka.

Seperti yang saya ceritakan di artikel sebelumnya, semenjak itu saya memberikan pelajaran Bahasa Inggris pada khususnya dan beberapa di antaranya Matematika dan ilmu pengetahuan lainnya. Saya menikmati setiap detik saya bersama mereka, jujur mereka tak begitu menikmati apa yang saya ajarkan akan tetapi menikmati kehadiran saya. Oh, iya tentu saja saat itu saya melakukannya tidak sendirian, saya mengajak satu teman kerja saya.

Hanya dalam minggu pertama mereka seperti sungkan dan sulit menerima kehadiran saya dan teman, pada minggu selanjutnya sambutan mereka sangat hangat. Bahkan, saat pelajaran berlangsung ada di antara mereka yang tiduran di pangkuan saya. Bersama mereka, kita harus adil dalam memberikan perhatian karena mereka dengan terang-terangan berebut perhatian kita.

Saran saya, kalau ada yang merasa kesepian, tidak ada yang memperhatikan atau merasa tak punya teman coba sering-seringlah datang ke Panti Asuhan, di sana mereka harus mau berbagi Ibu, Ayah dan Kakak dengan saudara se-panti asuhan berbeda dengan kita yang paling banyak Saudara kita 4 kalau pun lebih dari itu saya yakin kakak-kakak di atas kita sudah pada besar di mana mereka akan terfocus memperhatikan kita. Di Panti Asuhan, mendapatkan tambahan satu kakak yang memperhatikan mereka itu sangat berarti.

Advertisements

7 thoughts on “When I was A Teacher

  1. Lama juga enggak mampir di rumah mungil ini.. eh mbak Hani jadi bu guru nih…

    salut mbak, trus berbagi dengan mereka yang bener-bener butuh teman. Semoga berkah ya

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s