Apa yang kau pikirkan?

Saya melihat seorang Bapak tua, di punggungnya ada sebuah lemari pintu dua dia melangkah terhuyung menyusuri jalanan yang teramat panas. Dia berjalan terus menelusuri jalan berharap ada yang memanggil dan membeli lemari yang di bawahnya. Mukanya lusuh dan kusam.

Di tempat lain, saya melihat seorang lelaki tua yang berjalan dari kompleks perumahan ke perumahan yang lain sambil memukul-mukulkan ember barang dagangannya, berharap ada yang memanggil dan membeli embernya tapi sayang tak seorang pun yang membelinya karena di rumah pun sudah ada tumpukan ember tak terpakai.

Di pasar, saya melihat ibu-ibu tua yang menahan lelah karena sekeranjang belanjaan yang ada di atas kepalanya, dia berjalan terhuyung menulusuri jalan tanjakan menuju lokasi parkir. Ternyata dia hanya buruh angkat barang di pasar itu, dia tersenyum penuh syukur setelah menerima lembaran 5 ribu dari ibu-ibu si pemilik belanjaan.

Sahabat apa yang sahabat pikirkan saat melihat 3 ilustrasi di atas? Ilustrasi di atas bukan fiktif tapi realita! Dulu, saat kecil saya pernah menangis dan memaksa Bunda saya untuk menyuruh mampir seorang Bapak tua yang jualan lemari keliling. Saya bilang ke Bunda saya, kalau saya kasihan. Dan saya meminta Bunda saya untuk memberinya makan serta minum kopi. Tidak ada pikiran lain selain kasihan. Dulu.

Sekarang, jika saya melihat orang tua bekerja kasar dan berkeliaran di jalan seperti itu hal pertama yang saya tanyakan pada diri saya sendiri adalah “Kemana anak mereka? Kok mereka tega membiarkan orang tuanya bekerja seperti itu?” Sebelum memikirkan yang lain.

Cerita lain….

Saya membeli makan di sebuah warung lalapan di pasar senggol dengan adik saya, tiba-tiba saja saya melihat seorang Bapak membawa kresek berisi obat nyamuk bakar dan rokok. Entah, mungkin karena saya sedang sensitive atau saya memang cengeng saya langsung menitikkan air mata. Adik saya bingung, lalu dia bertanya “Mbak, kenapa?” air mata yang keluar pun makin banyak. Sambil berbisik  saya bilang “aku ingat papa” adik saya tertawa “Oala Mbak….gitu aja lho.. cengeng, yawes bayarin toh Bapak itu…” ucapnya lirih dan tahu apa yang ada di dalam pikiran saya.

Saya selalu berpikir dan berdo’a sama Allah agar tak membiarkan orang tua saya seperti orang tua tersebut di atas yang begitu saja sama anaknya dibiarkan bekerja sekeras itu di usianya yang sudah cukup senja.

Sahabat, apa yang sahabat pikirkan pertama kali saat melihat 3 ilustrasi di atas?

Advertisements

26 thoughts on “Apa yang kau pikirkan?

  1. Yang pasti kalau bisa dibantu (dengan membeli dan meminta jasanya) ya dibantu han. sambil berharap semoga bapak dan ibu tua itu dapat terus sehat dimasa tuanya..

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s