Hari Pertama

Dalam satu hari ada 24 jam dan semua hari itu sama, bahkan malam minggu yang diklain malam yang panjang pun total dalam sehari 24 jam. 12 jam di AM dan 12 jam di PM akan tetapi kenapa di hari pertama saya kerja berasa sangat panjang?

Ibu mana sih yang mau dipisah dari anaknya? Begitu pun saya, kalau boleh memilih saya mending di rumah saja jadi full mom buat Baby Zafa yang mulai pinter ngoceh dan senyum semenjak usia sebulan itu. Akan tetapi, saya memilih jalan ini bukan berarti tak ada pilihan lain. Saya memang merasa harus bekerja karena saya merasa mempunyai tanggung jawab juga terhadap orang tua di kampung meskipun mereka tak pernah meminta akan tetapi saya ingin menunjukkan bakti saya kepada mereka, kalau bukan saat ini kapan? Lagi pula Ibu dan Bapak saya juga tidak bisa lagi bekerja seperti dulu, tenaganya sudah tidak sama semenjak habis sakit. Saya berpikir, toh anak saya ada sama neneknya dan saya percaya pada neneknya.

Jadi, saya memang sedikit tersinggung kalau ada yang nge-judge kalau saya ini matrealistis dan tega ninggalin anak yang baru berusia 2 bulan(saya mengambil cuti terlalu cepat jadi tidak genap 3 bulan) buat cari duit. Ada juga yang menawarkan kerja di rumah saja biar bisa sambil jaga anak yang ujung-ujungnya adalah MLM. Bukan maksud meremehkan MLM tapi orang kerja kan harus sesuai dengan passionnya agar bisa menikmati dan melakukan yang terbaik, itu menurut saya.

Jadi, di hari pertama saya bekerja saya sedikit tidak tenang karena bayi saya yang rewel terus, entah berapa kali neneknya menelpon karena Zafa menangis. Jangan tanya bagaimana perasaan saya saat mendengar tangisan dia, rasanya hancur dan ikutan menangis. Saya juga berupaya menidurkan dia dulu sebelum berangkat kerja.
Akhirya saya ijin pulang satu jam lebih cepat karena saya sudah tidak sabar melihatnya. Sampai di rumah, waja Zafa yang kadang senduh itu menatap lekat saya lalu menangis, saya tenangkan sebentar dia diam lalu saya baringkan di tempat tidur, saya ajak bercanda dan Alhamdulillah dia mulia ceria kembali mulai mau ber aa, ii, uu, ee, oo serta tertawa.

Antara percaya dan tidak percaya tahayul, teman yang sudah memiliki pengalaman di kantor mengusulkan saya membawa baju anak di dalam tas agar anak di rumah tidak rewel.

Dalam setiap jedah waktu di kantor saya terbayang waja Zafa serta wangi tubunya dan dalam setiap gerakan entah mengapa wajanya selalu terbayang. Untuk saat ini bekerja adalah pilihan terbaik saya sambil saya mengupayakan untuk bisa memiliki usaha sendiridan silahkan menyalahkan juga judge kalau saya bukan ibu yang baik karena meninggalkan anaknya untuk bekerja.

Advertisements

14 thoughts on “Hari Pertama

  1. Semoga bisa tabah dan sabar ya Mbak. Dilema itu selalu menjadi bagian dari kehidupan kita sebagai wanita bekerja. Saya mengalami masalah itu sejak melahirkan anak pertama saya sampai sekarang ia sudah berumur 14 tahun.Sering sekali merasa bersalah dan taetap merasa bersalah,misalnya pas kebetulan nggak bisa ambil cuti jadi nggak bisa hadir ke acara ulang tahunnya di Sekolah, saat dia tampil di panggung sekolah dsb, sementara ibu-ibu lain bisa. .Tapi di satu sisi saya juga tidak bisa berhenti bekerja, demi keluarga juga ya…Akhirnya ya..saya jalani saja hidup ini apa adanya…

    • Kita berarti bernasib sama, ya?
      Kalau tidak mendengarkan selentingan orang berbicara ini dan itu mungkin saya lebih tenang dan gak sensi begini, tapi begitulah.
      Jaman sekarang, ya? apalagi di Bali, kalau kita gak kerja bagaimana? Memang jalani hidup apa adanya dan gak usah dengerin apa kata orang 🙂

      Terima kasih udah berbagi cerita…

  2. ceritanya sama dengan isteriku tuh bu 🙂
    Baru dua bulan cuti, langsung ditinggal kerja mpe sore.. bahkan kadang mpe malem…
    untunglah kerjaku cuman nyampe jam 2 🙂

    semangat buat ibu ibu Indonesia semua 🙂

    • Iya….mengalami dilemma.
      Apalagi kalau ngurus anak sendiri, duh rasanya berat banget.
      Yang bikin sakit hati itu, sampai di rumah anak tidur jadi gak ada waktu main, untungnya bayi saya pas saya plg masih melek jadi main-main dulu…

  3. Haniiiii…
    Semangat terus yah Haaan:)
    Pastilah berat harus pisah dari anak, tetapi mudah2an dedek Zafa akan menjadi semakin kuat nantinya yah Haaan 🙂

    Nanti juga kalo sudah sedikit besar dan diberikan pengertian, Insya Allah dedek Zafa akan mengerti keputusan Mama-nya kok 🙂

  4. Wah Mba, mungkin cerita ini akan menjadi ceritaku nanti. Kalau aku sudah menikah dan memiliki anak. Cerita yang sama bahwa masih ada tanggung jawab atas orgtua dan adik, saya pribadi kalau untuk orgtua nggak mau bergantung sama suami, jadi sebisa mungkin harus tetap bekerja, semoga ada jalannya.

    Dan buat Mba, tetap semangat yah. Semoga Dede Zafa nggak rewel kl ditinggal kerja.. 🙂

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s