Ayah, Bunda, beri aku waktu untuk berbakti

Saat mulai menulis ini saya membayangkan wajah Papa dan Bunda tercinta, dan saya pun mengajak sahabat sekalian saat membaca ini melakukan hal yang sama dengan saya, membayangkan wajah Bapak dan Ibu kita apapun sebutan kita terhadap mereka.

Bersyukurlah kita yang masih memiliki Ayah dan Ibu. Mereka yang sudah tidak memilikinya, bingung bagaimana mau berbakti selain hanya mengirimkan untaian do’a yang kadang sambil berurai air mata.

Dalam kesendirian, mungkin pernah terlintas di dalam benak mereka bahwa waktu begitu cepat berlalu. Sepertinya masih kemarin, kita masih berlari-lari memeluk kaki Ibu kita, merengek minta digendong, merengek minta diijinkan bermain di jam tidur siang ataupun menyelesaikan PR. Waktu berlalu begitu cepat, karena ternyata kita, anak-anaknya sudah tumbuh menjadi dewasa dan bahkan menjadi orang tua seperti halnya mereka. Kini mereka sulit untuk memeluk dan mencium kita, sulit mengajak kita bercanda pun sekedar bercengkeramah. Ada rasa nelangsah di sana karena merasa anak-anaknya semakin jauh di samping kebanggaan atas pertumbuhan anak-anaknya.

Mungkin, yang ada memenuhi hati mereka sekarang adalah cucu-cucunya, akan tetapi tidak ada yang bisa menggantikan posisi kita sebagai anak.

Continue reading