Ayah, Bunda, beri aku waktu untuk berbakti

Saat mulai menulis ini saya membayangkan wajah Papa dan Bunda tercinta, dan saya pun mengajak sahabat sekalian saat membaca ini melakukan hal yang sama dengan saya, membayangkan wajah Bapak dan Ibu kita apapun sebutan kita terhadap mereka.

Bersyukurlah kita yang masih memiliki Ayah dan Ibu. Mereka yang sudah tidak memilikinya, bingung bagaimana mau berbakti selain hanya mengirimkan untaian do’a yang kadang sambil berurai air mata.

Dalam kesendirian, mungkin pernah terlintas di dalam benak mereka bahwa waktu begitu cepat berlalu. Sepertinya masih kemarin, kita masih berlari-lari memeluk kaki Ibu kita, merengek minta digendong, merengek minta diijinkan bermain di jam tidur siang ataupun menyelesaikan PR. Waktu berlalu begitu cepat, karena ternyata kita, anak-anaknya sudah tumbuh menjadi dewasa dan bahkan menjadi orang tua seperti halnya mereka. Kini mereka sulit untuk memeluk dan mencium kita, sulit mengajak kita bercanda pun sekedar bercengkeramah. Ada rasa nelangsah di sana karena merasa anak-anaknya semakin jauh di samping kebanggaan atas pertumbuhan anak-anaknya.

Mungkin, yang ada memenuhi hati mereka sekarang adalah cucu-cucunya, akan tetapi tidak ada yang bisa menggantikan posisi kita sebagai anak.

Beruntunglah kalau kita bisa selalu dekat dengan orang tua kita, saat ingin memasakkannya makanan enak tinggal menyajikan, mengantarkan, saat ingin mengajaknya jalan-jalan tinggal bilang “ayo, kita jalan” dan saat mereka sakit, kita bisa dengan mudah mengatakan “aku yang antar” atau “Ayo, harus buruan ke dokter“. Bagaimana dengan kita yang jauh dengan orang tua?

Rendahkan intonasi suara kita…..

Tak jarang, anak-anak menyampaikan sesuatu dengan intonasi yang tinggi kepada orang tuanya meskipun mereka tak ada maksud demikian. Itu sangat menyakitkan, karena kini mereka hanyalah manusia yang sudah menua, rentah dan merasa tidak dibutuhkan.

Ringankan beban mereka….

Jangan recoki mereka dengan segala macam tetek bengek permasalahan duniawi kita yang tak kunjung habis oleh karena ketidak bijaksanaan kita dalam membuat keputusan hidup. Cukup sharing hal-hal yang baik dan membahagiakan mereka agar mereka tak lagi kepikiran, karena kita tetaplah anak-anak mereka, yang di dalam pandangan mereka masih terus membutuhkan perlindungannya. STOP jangan membuatnya menguras pikiran untuk menyelesaikan permasalahan hidup kita.

Jadikan diri kita sekarang tempatnya mengadukan kegelisahan, sediakan telinga dan ajaklah bercanda. Peluklah mereka dengan kasih selagi kita masih mampu. Jangan sampai ada penyesalan…..

Bayangkan, wajah mereka, Ayah dan Ibu kita, jika membayangkan saja tidak bisa menyentuh hati kita bagaimana kalau kita coba memposisikan diri kita sebagai mereka.

Ayah, Ibu…berikan waktu pada kami anak-anakmu untuk berbakti dengan lebih menyayangimu tanpa pamrih, menjagamu tanpa keluh kesah, jangan simpan sendiri kekhawatiranmu akan masa depan dan kehidupan kami, jangan sembunyikan rasa sakitmu dengan membohongi kami  dan mengatakan bahwa kalian baik-baik saja hanya karena takut kami khawatir.

Ayah, Ibu…jangan sampai kami menjadi durhaka karena kelembutan dan kasih sayangmu yang terlalmpau besar sehingga takut menggangu dan mengusik kehidupan kami, anak-anakmu. 

Advertisements

2 thoughts on “Ayah, Bunda, beri aku waktu untuk berbakti

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s