Pekerjaan v.s Kosekuensi

Biarin lha ya, sekarang nulisnya pakai versus-versusan meski ga ada maksud mengadu mereka, apalagi adu domba. Domba sih bagus diambil woll-nya dan dibuat baju hangat ngapain juga diadu.

Pekerjaan v.s Kosekuensi. Jadi, memang benar semua pekerjaan itu ada kosekuensinya. Bahkan pengangguran pun ada kosekuensinya, karena kamu nganggur ya kosekuensinya ga punya duit, he he he. Kecuali nganggurnya memiliki investasi di mana-mana (ini sih gak nganggur, tapi tetep kerja) atau kalian memiliki warisan banyak, tapi kosekuensinya lama-lama habis juga kalau kita gak kerja untuk melakukan pengelolaan dengan baik.

ALERT : Anda akan banyak bertemu kata KOSEKUENSI dalam postingan ini 😀

Pekerjaan & Kosekuensi

Saat kita memilih sebuah pekerjaan atau tepatnya profesi kita memang harus faham dengan kosekuensi-nya karena jika tidak maka kita mengerjakannya dengan ogah-ogahan dan banyak keluh kesah. Oleh karena itu, banyak para motivator memotivasi kita memilih pekerjaan yang kita sukai otherwise kita harus mencintai apa yang kita kerjakan. Segampang itu, ya? Tapi dalam aplikasinya memang tidak segampang itu.

Banyak faktor yang orang tidak tahu dan tidak mau mencari tahu sehingga terkadang kecintaan kita terhadap pekerjaan tersebut membuat orang menuntut lebih dari apa yang seharusnya kita kerjakan. Dan tentu saja, kalau kita memilih pekerjaan ini kita harus faham ini menjadi salah satu kosekuensi dari pekerjaan yang sudah kita pilih.

Saya mau ambil contoh pekerjaan sales, pekerjaan saya sendiri. Kosekuensi dimarahi, caci maki customer jika ada masalah itu sudah pasti ada dan saya faham betul, tapi tentu saja ada hal-hal yang harus saya sampaikan ke publik bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa mereka komplain misalkan kesalahan itu bukan murni dari saya. Sebagai contoh, ada client marah dikarenakan pengiriman delay dan tidak bisa mengejar waktu opening hotel, padahal delay itu juga karena kesalahan mereka yang telat kasih konfirmasi warna atau ukuran misalnya. Sebagai customer mereka boleh marah tapi sebagai sales saya harus menjelaskan kalau telat bukan dari faktor saya walaupun mereka sudah menjelaskan dengan gamblang minta pengiriman sesuai jadwal yang mereka minta.

Kenapa sih customer marah? Mungkin mereka marah karena merasa sudah membayar dan kita ini sales yang harus melayani mereka dengan sebaaik mungkin. Kadang mereka tidak tahu kalau kita mengerjakan orderan mereka sampai lembur, kurang tidur dan sebagainya karena kita sebagai sales memang tidak mau menyampaikannya. Mana mereka tahu seberapa besar juga pengorbanan kita untuk orderan dia agar bagus.

Kadang ada rasa lelah dari lembur mengerjakan orderan mereka, dan dari lelah kadang kita bicara sedikit tegas  sama client ternyata si client salah sangka dan menyebut kita “judes” ada juga yang bilang “sudah tidak butuh lagi orderan” it’s not like that, kalau mereka tahu sebenarnya saya yakin mereka tidak akan marah-marah. Yang kadang menyakitkan hati ada selentingan mengatakan “eluh kan dibayar dari orderan ini!” Beberapa sales bisa lho bertanya balik “apakah bayaran saya sepadan dengan apa yang harus saya dengar?” atau “sepadankah dengan perlakuan kasar, Anda?” dan ini ada hubungannya dengan THIRD PARTY yang pertanyaannya tidak hanya ditujukan pada client tapi juga organisasi perusahaan tempat dia bernaung. Kadang hanya karena mereka mengetahui itu menjadi tugas kita dan kita dibayar untuk itu mereka seenaknya memperlakukan kita, menuduh kita.

Kami ingin memberikan service sampai client puas. Di samping factor-factor tersebut pasti ada factor lain dari “third party” (kita menyebutnya demikian), kalau di bidang saya third party meliputi transportasi, regulasi export-import dan masih banyak lagi. Dan  yang tidak kalah penting jika kita karyawan ada yang mananya “system“. Di perusahaan ini menjadi factor third party dan bisa jadi salah satu factor para karyawannya tidak bisa melayani client mereka dengan baik dan profesional.

Meski itu sudah menjadi kosekuensi dan resiko sebagai sales dimarah-marahin client, tapi jangan lupa sales juga manusia. Pun demikian profesi lain.

Kosekuensi dan Sisi Kemanusiaan

Dengan kosekuensi pekerjaan yang kita pilih apakah artinya orang harus mengabaikan sisi kemanusiaan mereka? melupakan bahwa orang yang memilih profesi tersebut adalah “MANUSIA” yang layak pula dimanusiakan.

Masih mengambil contoh profesi saya sebagai sales. Sebagai seorang sales meskipun saya faham akan kosekuensinya, saya pasti menuntut untuk tetap dimanusiakan. Siapa yang saya tuntut pertama kali? Perusahaan, di mana system yang saya ikuti harus berlaku fair terhadap saya dan client saya. Jadi menghadapi client bukan semata tentang sales itu sendiri, tapi ada yang namanya system. Kok ribet? Lha, kan kita berhubungan dengan perusahaan atau organisasi skala besar bukan dengan sebuah organisasi dengan 2 atau 3 orang anggota. Yang masuk dalam system ini banyak hal, contohnya: Penerimaan customer, Peraturan memberi jawaban jika barang tidak ada, menanggapi komplain, apa yang harus dilakukan dalam komplain, tentang hari libur, jam kerja, gaji, tunjangan dan lain sebagainya.

Organisasi butuh system untuk kelangsungan hidup organisasinya plus menghadirkan products atau jasa yang bagus ke hadapan para pemirsa, eh maksudnya konsumen. Dan ini pun berlaku untuk profesi lainnya yang ada dalam lingkup organisasi perusahaan besar. Dan kalau kita faham akan hal ini maka kita tidak akan dengan muda memberikan tuduhan kepada orang lain saat bertemu orang tidak sesuai dengan ekspetasi kita. Karena terkadang system di dalam organisasi para rekan-rekan profesi ini memang kurang manusiawi, ini yang membuat mereka terkadang merasa capek. Apakah capek manusiawi? Tapi, memang secapek apapun kita tidak boleh melupakan tugas sebenarnya dan harus profesional.

Menjadi profesional itu tidak muda teman-teman, karena sebagai manusia kita ini memang sedikit kesulitan jika harus mengesampingkan segala emosi, idealis, egoisme kita. Bisa saja kita memilih beralih profesi, tapi apakah beralih profesi itu menjadi penyelesaian. Terkadang ada factor personal yang sangat dalam yang tidak kita ketahui sehingga orang itu harus memilih profesi tersebut.

Pekerjaan, Kosekuensi & Resiko tetap jangan melupakan kemanusiaan baik sebagai konsumen ataupun pekerja profesi-nya.

Advertisements

2 thoughts on “Pekerjaan v.s Kosekuensi

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s