Karena hidup tidak bisa tawar menawar dengan Tuhan

Pernah mengutuk hidup sendiri? “Kenapa aku memiliki hidup seperti ini, penuh derita?” saya pernah melakukannya. 

Menatap langit cerah, penuh bintang, di setiap sepertiga malam seusai sholat malam sambil berurai air mata mencoba merutuk diri dan melemparkan banyan pertanyaan “complaining”. Bodoh sekali saya, habis beribadah seperti itu seharusnya hati itu tenang setidaknya lepas dari rasa galau. Tapi entahlah ibadah macam apa yang saya lakukan saat itu. 

Tapi, saya sadar saat itu saya jadi rajin beribadah juga karena kesedihan tersebut. Kesedihan yang orang tidak bisa tangkap bahkan orang terdekat saya, orang tua. Atau mereka tahu cuma tidak bisa berbuat lebih lagi, lagi pula pantang bagi saya untuk menuntut ini dan itu pada orang tua. Sahabat berbagi rasa saya memang hanya Tuhan. 

Masih ingat dahulu, semasa SD kelas 4 atau 5 kalau ga salah di sekolah akan ada pesantren kilat, semua menyambut dengan gembira yang artinya di luar jam sekolah kami bisa kumpul bareng teman-teman. Tak terkecuali saya yang memang tidak bisa keluar rumah seenaknya, main pun ada jam-nya. Kata Bunda sih “biar kau ga jadi anak liar” kasar sekali kalimatnya, tapi begitu memang gaya bahasanya karena beliau tidak tamat SD. Meski demikian beliau adalah wanita cerdas dan memiliki hati seluas samudera. Wanita yang tulus, apa adanya dam tidak munafik.

Ya, saat itu harusnya saya bahagia sekali ada acara pesantren kilat tapi menjadi sedih karena saya tidak punya baju muslimah yang bagus seperti teman-teman. Baju saya ya itu-itu saja, bahkan banyak yanga hanya baju sisa dari saudara kami yang di Jakarta meskipun kondisinya masih bagus-bagus bahkan lebih bagus dari baju-baju anak di kampung. Tapi, namanya anak kecil..saya pun mencoba meminta ke Bunda dengan bahasa yang lugu dan dengan jujur Bunda bilang “dari mana ada uang? Apalagi acaranya satu minggu lagi” saya tidak berani meminta lagi, masuk kamar dan menangis terisak. Saya pun meminta sama Tuhan sampai tertidur karena kecapekan menangis.

Besoknya, Bunda menunjukkan sebuah bungkusan yaitu bahan baju dengan warnah magenta yang cantik. Katanya itu untuk bikin baju muslimah saya, nanti sore Papa yang anterin ke penjahit langganan. Saya pun sangat bahagia. Dari mana Bunda mendapatkan uang? Bunda tak pernah cerita, tapi hal itu membuka pikiran saya untuk bisa menghasilkan uang.

Sungguh gambaran kehidupan yang membuat saya jauh dari impian setinggi langit. Impian saya itu dulu cuma satu yaitu mengangkat derajat dan martabat orang tua, melepaskan mereka dari jerat kesusahan karena menjadi orang susah kerap dihina dan dikata-katain. Gak jarang kok saya pulang-pulang menangis, bukan karena dibully. Siapa yang berani nge-bully saya, bahkan anak-anak dengan badan besar pun akan saya lawan! Tapi menangis karena mendengar omongan keluarga besar yang ngata-ngatain Bunda. Sungguh jauh dari bahagia.

Tapi, tumbuh dalam kondisi seperti itu membuat saya banyak belajar. Belajar menyemangati diri sendiri, belajar ihklas, belajar bersyukur, belajar dan belajar sampai saya menemukan bahwa bahagia ternyata bukan tentang apa yang saya tuntut atau minta ke Tuhan terkabul atau tidak, tapi saat saya bisa menyadari bahwa kehidupan yang diberikan Tuhan kepada saya itu merupakan berkah luar biasa. BERSYUKUR DIBERIKAN HIDUP sehingga bisa menyicipi banyak rasa.

Karena sudah dibekali hidup, janganlah kita tawar menawar dengan Tuhan. Mencoba mengisi dengan sebaik-baiknya dan menjalani hidup tersebut dengan syukur. Bahkan di saat musibah datang ataupun saya didzolimi orang saya sekarang terbiasa untuk bercermin dan ihklas karena barang kali musibah tersebut adalah kunci untuk membuka pintu keberhasilan yang sedang ingin saya capai yaitu menjadi manusia sukses mulia. Dengan begini saya pun tidak lagi melihat masalah sebagai masalah sehingga orang melihat saya tidak pernah ada masalah, alhamdulillah. 

Inilah hidup kita, tidak bisa ditawar-tawar. Mau bahagia atau tidak itu pilihan.

Advertisements

One thought on “Karena hidup tidak bisa tawar menawar dengan Tuhan

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s