Jika pembeli adalah raja

Benarkah pembeli adalah raja? Sebenarnya siapa pencetus pertama pendapat ini? Saya mencoba mencari tahu siapa pencetus pertamanya akan tetapi tidak ketemu. Jika benar pembeli adalah raja maka kita berdoa saja tidak bertemu raja yang dzalim.

Karena dari beberapa sumber informasi yang saya baca, raja itu memiliki beberapa sifat positive yang diantaranya optimis, berprasangka baik, mengayomi. Jadi, kita tidak perlu takut jika “PEMBELI (beneran) adalah RAJA”.

Lantas, bagaimana dengan Raja yang semena-mena? berarti dia menyalahgunakan kekuasaannya. Karena raja bukanlah penguasa πŸ™‚

Sebagai seseorang yang biasa melayani pembeli, saya berusaha melayani pelanggan saya dengan sepenuh hati dan kehati-hatian. Apalagi berusahaan yang kami jalankan berbasis “Customer Service” yang artinya kami melayani pelanggan kami dengan sepenuh hati. Tidak setengah-setengah. Dan tidak setiap orang bisa melakukan ini, tanpa saya bermaksud menyombongkan diri. Karena mereka-mereka yang memiliki passion sebagai marketing dan atau sales-lah yang yang dapat melakukan ini dengan tanpa “ngedumel”. Mereka paham betul keinginan pelanggannya dan kepuasan pelanggan menjadi achievement yang menjadi tujuannya, gak cuma membuat produknya laku. Dan juga mereka memikirkan hubungan jangka panjang tidak hanya hubungan sekali – putus.

Lantas, karena bisnis yang kami jalankan tak hanya berjualan dan berhubungan dengan produk, kami harus melakukan produksi di mana bahan bakunya harus kita beli atau ada pula barang trading yang kami beli. Supplier kami pun bukan hanya lokal di sini, kadang harus kami beli di luar negeri karena di Indonesia masih ada beberapa material atau produk yang tidak atau belum bisa memproduksi dikarenakan banyak faktor (daripada saya kena pasal tidak mencintai product dalam nengeri, saya merasa perlu menjelaskan ini).

Di saat melakukan purchase order ke supplier bahan baku ini posisi kami sebagai pembeli. Bagaimana kami menghadapi mereka? Tentu saja, kami tidak akan memperlakukan supplier kami seenaknya. Karena apa? Karena kami butuh mereka dan kami benar-benar menghormati yang namanya “hubungan”. Kami ingin hubungan baik dan jangka panjang dengan pelanggan kami atau pun supplier kami.

Ada kala nya saya butuh barang urgent, akan tetapi posisi RAJA di sini tidak pula membuat kami memaksa suplier untuk melayani kami di jam-jam di luar jam kerja mereka. Apalagi jika mereka hanya sales bukan owner, mereka bekerja dan dibayar di jam kerja saja setahu saya. Jadi saya paham betul, kalau pun saya terpaksa menghubungi dia saya akan bilang “Besok saya minta tolong ya….permintaan saya prioritas. Terima kasih sebelumnya….” saya yakin dia tidak akan tersinggung pun saya sendiri sebagai sales tidak akan tersinggung jika pelanggan kami meminta bantuannya dengan cara baik meskipun di luar jam kerja.

Dalam sebuah hubungan, termasuk hubungan bisnis “its not always about us, but about other human” kenapa saya bilang “HUMAN” bukan others which is refer to PEOPLE karena sales itu adalah manusia yang harus kita manusiakan. Meskipun, mungkin diganggu di setiap kesempatan oleh pelanggan menjadi resiko profesi sales atau penjual.

Mudahkan urusan orang, insyaallah ALLAH akan memudahkan urusan kita.

Advertisements

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s