Melewati Keterbatasan

crossimng the boundariesKemarin siang rencananya mau nge-check rumah yang baru kami beli dan selesai pasang pagar. Maunya, bersih-bersih eh si Zafa badannya sempat anget mencapai 38.5derajat. Zafa tetap ceria dan manggil saya “dokter mami”, tapi dia tak suruh istirahat. Akhirnya setelah Dzuhur baru kami bisa keluar,  setengah jalan baru keinget kalau kunci rumah di backpack saya, sedang saya hanya bawa tas kecil. Akhirnya Zafa yang terlanjur exciting ga mau pulang kamu pun muter haluan ke arah Denpasar, beli Soto Ayam Surabaya yang ada di emperan toko Rp. 35,000 dua porsi mantab banget, sayang kurang panas di udara yang lumayan sejuk, hehehe. Setelahnya lanjut nyari kado buat bayi sepupu yang baru lahiran di sekitaran jalan Sulawesi tempat di mana toko-toko emas berjajaran, karena kami berencana membelikan cincin buat bayinya.

Dan sore-nya saya chat dengan adek saya yang di Malang via What’s Up. Saya bebas main HP karena si Zafa pergi ikut Mak Uwo-nya (Mak Uwo sebutan buat Budhe di dalam keluarga Minang) pergi jalan-jalan. Anakku ini memang tidak ada capeknya kalau urusan jalan-jalan. Kata Bapaknya salah ngidam dulu, wakakaka.

Dalam chat adek saya bercerita tentang gagasan dia dan suaminya berwirausaha, selama ini mereka hanya bisnis online dan adek saya terima pesanan kue. Ya, kebaikan adik ipar saya mau resign dari tempat kerjanya di Bali dan ke kampung halaman saya menemani adik menjaga orang tua kami. Alhamdulillah. Dari awal saya mendukung gagasan dia, bahkan sempat ingin kasih modal sayang sekali kepakai duluan uangnya, maafkan.

Adek saya cerita bagaimana dia kesulitan mendapatkan dukungan, karena kebanyakan orang di sekitar dia di sana masih skeptis dengan ide mereka dan menurut mereka kerja ikut orang lebih aman. Tidak salah juga sih, di jaman sekarang ini memang memiliki perngahsilan tetap lebih aman. Akan tetapi, bukannya rejeki Allah itu sebagian besar datang dari berniaga ya? Rasul saja berbisnis, kok. Bismillah saja…Yang menentukan bisa tidak, berhasil tidak itu Allah bukan manusia.

Dari Obrolan panjang saya dengan adek akhirnya pagi ini pun saya bisa sharing dengan Group Marketer Dezavo “Tips Melewati Keterbatasan” Yang terkadang sebenarnya kita sendiri yang set up. Maksudnya adalah saat kita bilang “aku tidak bisa melakukannya” atau masih berupa pertanyaan yang meragukan diri sendiri “apakah aku bisa?” Kita tidak akan tahu sampai kita mencobanya, bukan? Atau kadang banyak suara sumbang yang urun membuat batasan itu seperti tembok kuat tak dapat dirobohkan.

Sebagai manusia biasa yang jauh dari sempurna, saya sharing ini juga sebagai pengingat diri sendiri.

Ada 4 tips melewati keterbatasan atau Crossing The Boundaries

Pertama : Dapatkan rasa nyaman dari ketidak nyamanan. Yaitu mencoba menerobos apa yang selama ini kita takut lakukan atau ragukan terhadap diri kita.

kita tidak akan pernah tahu, kita berhasil atau tidak sampai kita mencobanya

Lawan rasa khawatir “berhasil tidak, ya?” Dengan melakukannya.

Bagaimana? Deg-degan duluan, takut duluan, mengatasi rasa takut ini susah. Tarik nafas panjang, berdoa dan mintalah kekuatan kepada yang Maha Kuat. “Bismillah, Ya Allah, aku tahu KAU bersamaku sekarang berikan aku keberanian untuk melakukan…” lakukan doa apapun yang menenangkan hati kita.

Saat kita sudah melakukannya, bagus atau tidak hasilnya kita akan merasa legaah. Ada perasaan nyaman.

Kedua : Set Up Goals Tinggi namun Realistic jika dibanding dengan kemampuan kerja kita. Meskipun terkadang kita ga tahu Allah itu bisa saja memberikan hasil yang luar biasa atas hasil kita.

Tapi, dengan daya upaya kita saat ini buat goal yang realistik tapi tetap goal yang tinggi bukan yang biasa-biasa saja. Lalu yakinin kalau kita bisa achieve goal tersebut.
Di sini keyakinan akan kemampuan kita berperqn penting mendorong kita melakukan upaya lebih besar tanpa kita sadar.

Katakan terus aku bisa, aku bisa sampai tidak ada keraguan lagi dari dalam diri kita.

Ketiga : Dapatkan partner, kolega yang supportive.

Partner, kolega yang supportive mampu membanti tidak hanya tenaga, pikiran akan tetapi secara psikologis memberikan dorongan agar kita lebih percaya sama diri kita sendiri.

Alhamdulillah ya..kalau saya di sini bertemu partner yang selalu bisa berkata “ya, kita pasti bisa” dan partner hidup saya juga mendukung meski tanpa kata saat saya membuat keputusan ini dan itu.

Kalau kita belum cukup menurut kita) mendapatkan kolega dan partner yang supportive, lakukan hal tersebut. Kita yang harus menjadi partner dan kolega supportive karena hukum alam seperti kita melempar bola ke tembok maka akan balik ke kita juga.

Keempat : Menjadi orang yang orang lain ingin membantu.

Kita aktif bertanya, dilanjut dengan action dan antusias tinggi. Ini adalah right attitude yang membuat orang ingin membantu tapi bukan rasa ibah. Melainkan berpikir you deserve it.

6 thoughts on “Melewati Keterbatasan

  1. Kalau aku sekarang mikirnya pengen berusaha tapi gak mau melepas apa yang ada sekarang. Aku takut sesuatu yang belum jelas soalnya. Karena keuangan walaupun kasar udah aku hitung sampe si K udah siap dan mandiri sendiri. Harus cukup dan aku cukup-cukupkan. Kalau nanti berubah penghasilan aku nanti hitung lagi, hehehe

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s