DEALING WITH BOSS BRENGSEK

You Deserved BetterSebenarnya niatan mau nulis tentang lanjutan liburan ke Malang smeinggu lalu, tapi lagi ada pengalaman plus uneg-uneg yang ingin saya tulis biar legaan. Karena saya sedang merasa kasihan banget dengan sahabat saya ini.

Ada yang pernah bertanya : “Mbak, apa yang harus saya lakukan kalua boss saya ini brengsek?” Saya tersenyum. Lha, gimana ga tersenyum wong saya ada di posisi di mana memiliki bad boss. Bad is bad. Ini bukan perkara management yang ga bagus tapi emang karakter orangnya. Kalau sudah ngomongin karakter orang otomatis management yang dia manage menjadi tidak bagus juga.

Jadi, dulu saya pernah bekerja di sebuah perusahaan cukup lama untuk sebuah pengalaman dan pelajaran hidup plus pelajaran berbisnis. Semua orang bilang kalau boss saya ini karakternya ga baik. Tapi, saya memiliki karakter ga percayaan dan memiliki positive thinking bahwasannya bisa saja orang itu tak seburuk yang kalian kira karena baik dan buruknya seseorang terkadang tergantung kita. Jadi, saya bekerja dan doing my best. I got the opportunity I deserved, I guessed. Being promoted is not a big surprised.

Akan tetapi bersamaan dengan berjalannya waktu saya mulai merasakan banyak kejanggalan. Yes, he was not bad to me but others. Saya berusaha mengungkapkan apa yang ada dipikiran saya, di depan saya dia seperti mendengar akan tetapi di belakang saya lain lagi. Sampai suatu ketika ada yang mengatakan ke saya “Mbak, hati-hati, bapakmu itu di depanmu iya, iya tapi dibelakangmu berkata lain lho”. Ah….saya masih terus lanjut. Atas nama profesionalisme dan ya….pasti factor uang juga ada, saya gak mau pungkiri.

Kejadian demi kejadian terus terjadi. Sampai akhirnya ada satu proyek yang barangnya kurang bagus, saya gak mau kirim ke client tapi si boss malah marah dan bilang ke saya “Kalau kamu ga mau ini dikirim dan mau disevrice lagi yasudah, tapi kamu harus mau nunggu satu bulan!” saya langsung diam dan bertanya pada diri sendiri “Why should I stay here for this bullshit! This not event my company anyway!” akhirnya saya resign saja.

Sesuai prosedur saya nunggu 3 bulan setuju sampai ada pengganti, eh dia minta 6bulan karena katanya susah cari orang di posisi saya untuk Marketing dan Media. Ya sudah, memandang apa yang sudah pernah saya dapat di perusahaan tersebut saya setuju. Tapi, ternyata dia mulai bikin ulah, karakter asli kelihatan. Dipandang sudah ga menguntungkan dia mulai mencari masalah. Ga mau bayar bonus saya. Akhirnya saya out saja dengan menciptakan masalah yang dibikin-bikin. Saya ga mau ribut, sebenarnya kalau mau jalur hukum saya 100% bisa menang cuma saya malas habiskan waktu mondar-mandir ke disnaker dan pengadilan, mending buat kerja saja.

Alhamdulillah, sebagai gantinya saya mendapatkan partner bisnis yang baik dan memiliki bisnis yang selama ini saya angankan yaitu berprinsip banyak giving and sharing. Sociopreneur. Karena bisnis ga selalu tentang uang akan tetapi bagaimana kita bisa memberikan sesuatu untuk sekitar kita. Bertajuk bisnis start up kami mulai dan kini Alhamdulillah bisnis kami sudah dikenal semua orang.

Permasalahan yang saya alami ini pun baru menimpah ke sahabat saya. Dan umumnya permasalahan ini menimpah kami yang berada pada devisi marketing. Mungkin tidak di semua perusahaan, tapi di Bali ini umum terjadi. Mereka berburuk sangkah katanya kami mencuri client mereka padahal tanpa mencuri database karena client biasa berhubungan dengan kami otomatis kemana kami pergi mereka ikut. Karena tingkat loyalitas client kami umumnya bukan pada brand atau perusahaan tapi pada kami para marketingnya. Kenapa bisa jadi demikian? Karena banyak perusahaan yang lupa spare ide dan pemikiran mereka bagaimana memberikan fasilitas dan service lebih baik untuk para client mereka.

Jadi, kalau ada pertanyaan “Bagaimana harus bersikap jika bertemu dengan boss yang brengsek?” ya tinggalin saja-lah. Cari kerja lain. Insyaallah pekerjaan itu ada di mana-mana yang bikin ga ada itu kita terlalu picky dan terlalu tinggi memberikan standard buat diri kita padahal meskipun sama-sama marketing misalnya beda bidang ya kita harus belajar lagi. Dan beda perusahaan akan beda lagi policy dan detail lainnya yang kita tidak fahami dan harus pelajari.  You deserve better! itu menurut saya.

3 thoughts on “DEALING WITH BOSS BRENGSEK

  1. Setuju sih, kerja sama atasan yang brengsek itu menyebalkan. Tapi sebelum resign, pastiin skill kerja kita udah lebih baik dari sebelumnya.. Kadang yah… Kalau aku liat dari beberapa temen, dia resign tapi skillnya gtu2 aja, yang ada susah dapat kerja lagi..

    • Yang kaya gitu sudah juga. Saya sering lho dulu interview buat team marketing saya, dia skill gitu-gitu saja minta gaji yang setara sama yang udah skillful dan full experience. Sebaiknya mau pindah kerja pun jangan kurang dari 6bulan. 1 tahun minimal, jalani gali ilmunya, kalau udah dapat ilmunya kan nambah nilai jual kita di tempat kerja baru.
      Kalau di Bali, ijazah bukan satu-satunya factor seseorang bisa dpt posisi bagus atau pekerjaan bagus tapi lbh ke skill-nya.

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s