Toya de Vasya Kintamani, Bali

5a9cf5b7-d0da-4080-9c79-5e2e531352ce

Deesember memang selalu musim hujan, ya? Di Bali yang biasanya panas pun suhu udara mulai menurun. Eh, btw…tahu gak? Saya itu masih hampir ga bisa percaya kalau Kuwait suhu udara bis amencapai 40 derajat celcius! Di Bali saja kalau sudah mencapai 33derajat semua pada menjerit kepanasan. Duh, gimana di Neraka nanti ya? Hehehe.

Dengan suhu udara yang di sekitaran 28derajat dan disertai angin di Bali udah cukup sejuk. Apalagi area Jimbaran tempat saya tinggal.

Menjelang tahun baru rencananya saya dan suami mau escaping from the town, menyepi ke Kintamani biar jauh dari keramaian eh ternyata banyak yang bikang kalau tahun baru sih sama saja, Kintamani juga ramai. Maka gagal-lah rencana camping di Kintamani-nya. Akan tetapi, kehadiran Omah Zafa dari Darwin membuat saya akhirnya nekad kesana juga meskipun niatnya hanya rendaman bukan camping lagi.

Omahnya Zafa kami kasih pilihan mau Bedugul atau Kintamani rendaman air hangat? Dia memilih Kintamani. Dan tujuan kami adalah The Hot Spring De Vasya yang lagi hits dan banyak diomongin orang seantero Bali. Tentu saja expectasi kami tinggi. Bayangan kami hot spring yang alami itu di setting seperti taman yang indah.

Tapi, begitu kami memasuki area De Vasya saat mencari parkir perasaan saya mulai ga enak. Mereka membedakan pintu masuk Domestic dan Foreigner kaya di bandara saja. Yang pintu masuk Foreigner bagus dan deket parkiran depan, sedang Domestic kita harus jalan jauh. Bukan masalha jauhnya, lokasi counter tiket, parkir dan De Vasya sendiri belum 100% selesai dibangun. Berantakan! Dan bayangan taman yang ada di pikiran kami itu tidak ada, ini mirip area pool biasa, mirip water park cuma airnya hangat saja.

Tiket masuk untuk Foreigner Rp. 200,000 dan Domestic Rp. 75,000 kami ambil paketan dengan makan siang jadi membayar Rp. 180,000/pax seharusnya tapi karena tiket beli di Traveloka kami mendapatkan Rp.140,800/pax. Exclude sewa handuk Rp. 10.000/pcs dan LOker Rp. 20,000/loker.

Karena datang udah jam makan siang ya kita langsung ke restaurant buat tukar tiket makan siang. Ambiance sangat bagus sayang sekali lalat di mana-mana dan sepertinya tidak menjadi perhatian khusus pengelola sehingga teramat sangat mengganggu. Saya upload foto lalat ini di Google Review so that everyone can see.  Pas kita duduk si lalat sedikit menyingkir akan tetapi unluckily mereka datang lagi saat makanan datang. Bahkan air putih dan jus kami sempat kemasukan lalat. Untuk air putih kami minta ganti tapi jus-nya tentu tidak.

Untungnya para staff ramah dan sangat memebantu saat saya minta kilin mereka kasih saya lilin bahkan belakangan nambah lilin lagi tapi yagitu lilinnya dimasukin ke gelas plastik dan satunya gelas kertas bahkand i meja kami ada yang sempat kebakar, bukan salah para staff-nya sih. Nurut saya ya pengelola kurang aware masalah beginian. Tiket ga murah lho masak gini-gini saja. Kamar mandi pun ga tegah mau pakai.

2b924dd5-44be-432a-9d8f-38b685b478c3

Zafa dan Omah menikmati dinginnya Kintamani. Fotonya agak ngeblur karena diambil dari Kiriman Whats’ Up. Cuacapun lagi mendung.

Omahnya Zafa sempat bilang “why don’t we buy ticket for foreigner, sayang? siapa tahu lebih bersih?” Akhirnya kami mencoba jalan, mencoba kamar mandi buat tamu foreigner dan juga mencoba masuk area foreigner ternyata kamar mandinya hampir sama tapi mendingan dikit. Ga ada tissue, tutup kloset ga ada, lantai kotor. Dan area tunggunya sama saja banyak lalat meski di dalam kaca. Ah…untuk ga beli tiket foreigner, xixixi. Si Lalat ga rasis juga dia ga peduli mauluh foreigner mau domestic dikerubutin juga.

Yang bagus memang hospitality para staff-nya saja karena kami juga urungkan niat berendam karena hujan bahkan saat hujan berhenti udah malas duluan tapi Zafa sempat enjoy rendaman beberapa menit. Makanannya juga rasanya biasa banget, untung saja ikan Mujairnya dagingnya manis ga kaya ikan Mujair kebanyakan kita beli di pasar mungkin karena di dapat dari tambak Danau Batur. Ya, sudahlah…esok kita kesini lagi kalau ada improvement dari De Vasya.

Anyway, meskipun tempat tidak sesuai expectasi yang terpenting adalah kami menimkati kebersamaan tersebut. Tidak penting kita kemana dan bagaimana sepanjang kita menikmatinya.

Happy Holiday!

Advertisements

2 thoughts on “Toya de Vasya Kintamani, Bali

  1. sek sek
    kintamani ini kalo gak salah masih di sekitaran danau batur bukan sik?
    pernah ke bali tapi sekitar 15 tahun yang lalu
    hiks
    sudah lama bangett

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s