DeZavo, berawal dari start up

Tinggal di Bali yang merupakan top destinasi wisata di dunia memiliki keuntungan sendiri bagi saya dan sahabat saya. Banyak sekali dibangun hotel; mulai dari kelas kost-kostan sampai dengan Luxury Hotel yang tak sekedar Five Stars even Diamond! Tidak hanya itu, hotel-hotel yang sudah lama pun sudah waktunya dilakukan regenerasi, pembenahan. Melihat hal ini, hospitality supplies industri pun menjadi pilihan kami.

Background

Awalnya ide ini dicetuskan oleh sahabat saya yang juga merupakan blogger, kami memang belum kenal cukup lama akan tetapi memiliki kesamaan ide, misi dan impian membuat kami click dalam berdiskusi dan kami bangunlah perusahaan Start Up kami.

Saat itu 17 Agustus 2016 di Beachwalk, Kuta selepas kami menghadiri acara Tujuh Belasan di Best Western Kuta Beach. Siang ide muncul, malamnya langsung eksekusi. Saat itu, sahabat saya mengusulkan nama “ZaVo” kependekan dari Zafa dan Ivo, nama anak-anak kami. Namun, suami saya menyarankan agar ditambah “De” jadi DeZavo agar lebih mudah diingat. Namun, kami tambahkan Indonesia di belakangnya karena kami ingin juga nanti perusahaan kami dikenal di dunia hoapitality dunia, maka DeZavo Indonesia mulai kami gaungkan.

Ide dari DeZavo

Ide awalnya memang usaha kami adalah e-commerce, kami memberdayakan para pengerajin kecil di Bali yang saat itu sedang struggling antara hidup dan mati dikarenakan sepinya pasar. Mereka hanya mengandalkan walk in sedangkan wisatawan sedang sepih. Di samping kami ingin memberikan kemudahan kepada para purchasing hotel dalam mencari barang. Kalau biasanya mereka harus berkeliling mencari supplier atau vendor kini dengan membuka www.dezavo.com mereka sudah bisa mendapatkan barang yang mereka dapat beserta harga. Keuntungan untuk para owner, management hotel pun lebih pada memberikan security atau terhindarnya dari purchasing nakal yang meminta komisi dari para vendor sehingga merugikan perusahaan mereka.

alur ide dezavoalur konvensional

Perkembangan

Satu tahun berjalan, sepertinya e-commerce bases tidak berjalan karena hampir semua purchasing tidak terbiasa dengan website atau berbelanja melalui online. Mereka tetap membutuhkan kami datang dan tatap muka, presentasi serta membawah sample.

Satu tahun berjalan juga membuat kami banyak belajar, ternyata ada satu ganjalan kenapa para pengerajin kecil ini tidak pernah grow up yaitu mereka sulit menerima perubahan. Mereka tidak mau kami ajak memanfaatkan teknologi yang ada agar hasil kerajinan mereka bisa kami lempar ke pasar lebih luas, menjemput bola. Dan juga, satu lagi di saat ramai mereka tidak bisa menjaga kinerja. Kerja asal-asalan dan jual mahal, tentu saja hal itu menjadi batu ganjalan buat kami. Akan tetapi semua menjadi bagian dari seleksi alam, di mana hanya yang mau maju yang kami ajak bekerja sama.

Di samping bekerja sama dengan para pengerajin kecil, sebagian barang kami memproduksinya sendiri dan juga beberapa barang kami ambil dari pabrik produsen besar. Kami harus melakukannya karena product range kami sangat banyak, jika tidak melakukannya kami tidak akan bisa besar.

Masuk tahun ke dua kami juga sudah mulai mendapatkan proyek over seas pertama kami yaitu ke Seycheless. Kami selalu exciting dengan setiap kemajuan yang kami dapati. Hotel-hotel di Bali pun sudah mulai mengenal kami.

halaman depan website
Masuk tahun ketiga, kami mulai dicari dan kami pun  yang awalnya mengerjakan apa-apa sendirian, multi tasking, mulai dari marketing, pembukuan sampai ngurusin produksi kami lakukan sendiri, kini sudah hire beberapa staff; marketing support officer yang profesional dan memang well experienced di hospitality, khususnya Bali, drafter dan staff administrasi. Tentu saja kami bangga dan hal ini membuat kami harus terus belajar dan mengasah skill-skill penunjang.

Modal

Kalau orang berpikir modal usaha selalu uang itu salah. Modal terbesar kami saat itu adalah:

1. Skill
2. Networking
3. Trust
4. Experience

Saat itu modal kami tak sampai lima juta rupiah. Modal mencetak kartu nama, membeli domain dan hosting (website suami yang bikin) dan hal lain yang kami hitung tak sampai lima juta.

Masing-masing dari kami memang memiliki pengalaman hampir sama di dunia marketing di hospitality industri. Sahabat saya sebelumnya memiliki perusahaan produsen besar furniture sedang saya 2 tahun menjadi Personal Assistant Director of Sales di perusahaan multinational dan 5 tahun labih di posisi Head of Sales Marketing and Media. Dengan posisi tersebut otomatis kami memiliki networking yang lumayan. Tentunya networking tersebut kami bangun dengan kasih dan ketulusan. Karena kami sadar, di era AI seperti sekarang client, khususnya B2B market itu loyal pada sales atau marketing bukan pada brand atau perusahaan.

Beberapa pekerjaan mungkin memang bisa dilakukan oleh robot, mesin, akan tetapi marketing dan sales tetap butuh manusia dengan right attitude, penuh kasih, tulus dan jujur.

Marketing

Bukan hanya itu, modal kami yang lain adalah para marketing yang bekerja secara freelance. Kami saat itu memiliki kurang lebih 30 marketer freelance, dengan 1/3 yang aktif. Mereka yang kami hire sebagian besar tidak memiliki pengalaman di marketing namun kami setiap hari memberikan semacam training melalui Group What’s Up. Materi yang kami bagikam tidak selalu tentang bagaimana meningkatkan sales dan closing akan tetapi juga personal development. Kami ingin sahabat marketer kami juga memberikan positive vibe terhadap lingkungan sekitar mereka. Karena 90%marketer kami perempuan, kami berharap mereka menjadi perempuan  yang berdaya tak hanya bisa bergaya, hehehe.

kuliahwa

Contoh Training yang kami berikan ke team marketer yang kami berikan setiap hari.

Tak hanya mereka yang kami harapkan skillnya terus meningkat, kami para founderpun belajar banyak hal. Saya yang awalnya tak bisa mengimplementasikan ide ke dalam gambar design  kini perlahan mulai bisa. Karena skill ini menunjang sekali dalam closing.

Intinya, kami selalu ingin melakukan one step ahead di banding hospitality supplies company lainnya dengan marketing tool kami. Kami membuat semacam flyer yang berbeda setiap hari, membuat Vlog, Video Flyer yang nantinya kami bagi ke para marketer kami untuk mereka bagikan ke para calon potensial mereka.

Selain itu kami pun memanfaatkan social media, dalam hal ini Linkedin.

Kami bisa bilang bahwasannya sebagian bisnis kami berjalan karena disupport oleh kemajuan teknologi yang ada. Karena salah satu proyek besar kami di Seycheless kami dapat dari Marketer kami yang berlokasi di Canada. Cara kami coaching sampai closing hanya via email dan What’s Up.

DeZavo juga kami buat sebagai perusahaan sociopreneur dengan 10% profitnya kami pakai untuk kegiatan kemanusiaan. Untuk saat ini sumbangan terbesar kami ke Panti Asuhan di Bali, akan tetapi ada kalanya kami salurkan ke korba bencana, seperti saat itu bencana di Lombok dan Palu.

Harapan

Dalam satu tahun ke depan kami berharap bisa menjadi general hospitality supplier besar yang mendunia. Kami ingin menjadi Icon hospitality supplies company di dunia yang menjual semua kebutuhan  hotel, restaurant, villa dan semua kebutuhan hospitality lainnya yang diproduksi oleh para produsen Indonesia ke seluruh dunia. Kami ingin menjadi partner para produsen di seluruh Indonesia. Yang pada akhirnya, akan memberikan sumbangsi terhadap kemajuan perekonomian negara.

Bahkan, kami pun memiliki impian memiliki hotel yang nantinya akan menjadi showroom kami, saat client ingin melihat sample, mereka bisa langsung melihatnya.

Di dalam kemanusiaan kami ingin memiliki Yayasan yang nantinya tak hanya memberikan donasi akan tetapi juga memberikan pelatihan, pendidikan dan beasiswa pendidikan di sekolah-sekolah.

 

4 thoughts on “DeZavo, berawal dari start up

  1. Tinggal di Bali, bertemu dg sahabat blogger yg se-ide, membangun start up dan terus berkibar sampai sekarang….
    Salut Mbak, benar-benar salut.
    Semoga kedepan kian berkembang dan maju pesat bisnisnya.

    Ih…jadi pengen ke Bali deh.

    Salam,

  2. Pingback: Core Value DeZavo | Pendar Bintang

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s