Keberanian

Dalam hal keberanian, saya hanya ingin me-listing beberapa hal yang menuntut kenberanian saya untuk mengambil keputusan. Karena keberanian seseungguhnya adalah saat saya berani mengambil keputusan dan mampu menerima segala frekuensinya.

Merantau

Saat usia 18tahun, saya baru lulus SMK, saya memutuskan hidup merantau. Saya bekerja, menabung untuk melanjutkan belajar. Meskipun rencana belajar itu tidak semulus yang saya kira. Saya sudah mendapatkan uang seperti yang saya cita-citakan, dan harusnya bisa kuliah tanpa ngerepotin ortu seperti yang saya inginkan (padahal saat itu bisnis Papa sedang besar) tapi saya malah hanya mengambil D1 dan lagi-lagi saya terjebak dengan namanya kegiatan “mendapatkan uang” akhirnya saya putuskan mencari uang itu lebih nikmat and that’s how I enjoy my life.

Have Enough Courage Beacause Life is Beautiful

Merantau membuat saya kaya akan pengalaman dan tentu saja mandiri. Sampai-sampai Ibu saya pernah sekali bilang ingin sekali membelikan saya baju. Dan, pada puncaknya saat saya mau menikah dengan acara kecil-kecilan beliau menolak keras.

Menikah

Menikah adalah keputusan terbesar yang harus saya lakukan. Sebenarnya saya enggan menikah. Karena saya tidak mau direpoti dengan tetek bengek lain, masalah dengan mertua, ipar, suami. Menikah menurut saya menambah masalah.

Pertemuan dengan suami sekarang pun tanpa saya dugah karena saat saya gagal dengan rencana pernikahan pertama saya pikir bisa menjadikannya alasan saya tidak mau menikah. Akan tetapi, saat itu ada satu orang yang saya lupa, mengatakan “menikahlah karena ibadah. Dalam lembaga pernikahan itu kamu akan mendapatkan banyak jalan untuk mendapatkan ridlo Allah” untuk orang yang tingkat keimanannya tipis seperti saya, hal itu cukup membuat saya berani melangkah. Walapun sempat terpikir “Dicoba saja, kalau dua tahun ga cocok ya cerai” ini pikiran syetan, kan?

Dengan harapan ada teman untuk berbagi dan mencari arti dari hidup itu sendiri saya pun mantabkan diri buat menikah meskipun jujur saat itu tanpa pasangan hidup saya baik-baik saja bahkan I feel complete. Hehehe.

Memiliki Anak

Memiliki anak? ah….ini tidak pernah saya pikirkan. Akan tetapi suamu mengungkapkan keinginannya dan Ibunya bahwasannya, ibunya menginginkan kehadiran seoarang cucu. Sudah belasan tahun menunggu. Akhirnya saya pasrah dengan segala kekhawatiran di benak. Saya malas ngurusin anak, mengganti popoknya, mencucinya dan semua tetek bengek rawat merawat bayi. Akhirnya, kami mencapai kesepakatan kalau suami akna melakukan semua pekerjaan yang saya tidak inginkan.

Kehamilan pertama saya, gagal. Saya mengalami Blighted Ovum atau janin tidak berkembang dikarenakan kelainan kromosom, hanya kantong rahim saja yang membesar. Dari sini saya baru merasakan sakitnya kehilangan, meskipun hanya masih melihat bulatan kecil, bentuk gumpalan darah, hati saya hancur harus kehilangan dia. Saya menamakannya Bintang, saya meyakini jika dia lahir dia seorang bayi lelaki. Dari kehilangan ini akhirnya setelah satu tahun suami dan mertua menunggu saya pun hamil lagi kedua kalinya. Intens kami ke dokter kandungan, melakukan USG dan kami kumpulkan foto USG setiap bulannya. Tanggal 17 Desember 2014 tepat pas Galungan anak saya lahir. Dokter yang menolong persalinan pun masih memakai baju adat.

Setelah melihat bayi lucu mungil tersebut, hati saya mulai melunak. Meskipun ada ketakutan apakah saya bisa merawat dan membesarkannya. Ada rasa sedih karena saya merasa jelek, dan perasaan galau lainnya yang belakangan saya ketahui sebagai Baby Blues. Pantaslah ASI saya kering tak peduli seberapa besar saya berusaha, karena kunci ASI lancar adalah ibu bahagia.

Kasih saya terus bertumbuh untuk baby. Dan saya pun akhirnya banyak belajar demi menjadi seorang ibu yang baik untuknya.

Resign

Kenapa resign menjadi salah satu hal terberani yang saya ambil? Karena orang tua saya sudah tidak productive seperti dulu lagi. Saya menjadi sumber support utama keuangan orang tua saya. Kakak dan adik saya bekerja, akan tetapi saat itu pekerjaan Kakak saya masih belum jelas, adek saya pun entah uangnya kemana dia merasa memang kewajiban saya dan saya yang mampu membantu keuangan orang tua. Perlu dicatat kalau orang tua tidak pernah meminta akan tetapi saya sendiri yang berkemauan memberi. Jadi sampai sekarang saya pun memberikan jatah bulanannya.

Resign menjadi hal yang menakutkan karena dengan resign saya takut tidak bisa lagi membantu kebutuhan orang tua. Saya takut hidup susah lagi. Sudah sering saya hidup susah. makan nasi 5000 sehari saya sudah pernah, sehari makan satu potong ayam saja juga pernah akrena nasinya keras ga bisa di makan. Ini terjadi awal-awal saya datang ke Bali. Makanya, sekarang jangan ajak saya hidup menderita, hehehe.

Akan tetapi, saat itu anak mulai menginjak usia 2 tahun. Saya lihat dia belum bisa bicara di usianya yang sudah hampir satu tahun setengah. Padahal dia energik, ramah dan komunikatif. Akhirnya saya putuskan resign setelah lebaran. Saat itu satu keyakinan saya bahwa “REJEKI DATANGNYA TIDAK DARI PERUSAHAAN TEMPAT SAYA KERJA, TAPI DARI ALLAH”. Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih bisa rutin mengirimkan support untuk orang tua bahkan saya bisa bilang rejeki saya lebih besar setelah memutuskan resign. Plus apa yang saya citakan banyak yang kesampaian. Sungguh TUHAN MAHA AGUNG.

 

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s