Pantai Merah, Hidden Heaven in Banyuwangi!

Seminggu lalu, keluarga di Malang mengabari kalau mereka mau ke Banyuwangi. Mau nyekar ke Makam si Mbah ceritanya karena Bunda dan Adek tidak datang saat si Mbah Meninggal, di saat itu bertepatan dengan adek sedang melahirkan anak pertamanya. Jadilah, saya dan suami membuat perencanaan perjalanan dadakan. Suami tidak bisa cuti.

Akhirnya, kami memutuskan Jum’at malam selepas sholat Maghrib baru jalan menuju Banyuwangi. Perjalanan malam hari memang lebih menyenangkan walaupun kerugiannya tidak bisa menikmati pemandangan sekitar. Kenapa demikian? Karena perjalanan kami melalui darat dan memakai mobil pribadi.

Persiapannya; Zafa saya kasih baju dan celana panjang dan vest dengan bahan tidak panas agar dia bis anyaman saat tertidur di mobil. Extra bantal tidur untuk Zafa sandaran, karena kalau perjalanan dengan mobil begini yang kami perhatikan kenyamanan Zafa. Dari bayi dia nggak demen dengan Carseat, jadi carseat masih baru.

Perjalanan dari Jimbaran, rumah kami agak panjang biasanya ke Gilimanuk hanya bisa ditempuh 3 jam, kemarin itu kami menempuh perjalanan 4,5jam karena macet. Maklum weekend. Bali always macet di weekend. Oh iya, plus saat itu hujan lebat, ada kecelakaan truck di jalan makanya perjalanan lambat.

Alhamdulillah, penyeberangan lancar. Dari Ketapang ke rumah si Mbah kami tempuh kurang lebih 1 jam. Jam setengah dua kami sampai rumah si Mbah, Bulek yang bertanggung jawab atas rumah si Mbah dan si jagain si Mbah Kakung menunggu kami. Sedikit drama untuk saya, mungkin karena saya capek, pas mobil kami parkir agak masuk eh Paklek bilang harus di parkir di depan karena di situ tempat lalu lalang alasannya. Akhirnya setelah salam, saya dan suami langsung ambil Wudlu dan sholat Isya’ lalu lanjut tidur. Tapi, saya ga bisa tidur sampai terdengar Adzan Subuh. Ya, sudah bangun dan sholat Subuh, hahaha.

Kondisi Geografis Pulau Merah mirip dengan Crystal Beach, di Nusa Penida Bali.

Sekitar jam 8 pagi setelah sarapan kami pergi nyekar rame-rame. Dan sesuai rencana sebelum berangkat nyekar, selepas nyekar kami pergi ke Pantai Pulau Merah atau Pantai Merah.

Gumuk yang ada di seberang itu adalah Pulau Merah, tanahnya Merah. Oleh karena itu pantainya disebut Pantai Merah. Kalau pasirnya sih putih dan bersih.

Dari Desa Bangorejo, tempat rumah si Mbah ke Pantai Merah kurang lebih ditempuh 30 menit. Jalan yang kami lalui jalan besar, akan tetapi beberapa jalan kondisi kurang bagus. Sempat keluar komentar “Awas saja kalau nanti Pantainya ternyata ga lebih bagus dari Kuta” dair mulut saya. Karena sepanjang jalan ada petunjuk menuju Pantai Pulau Merah ini, maka kami sampai di sana dengan sangat takjub. Takjub, karena memang benar-benaar indah. Pantai Kuta sih ga ada apa-apanya. Pantai Merah ini bersih, indah dan rapih.

Kami benar-benar menikmati keindahan alam Pantai Merah sambil berpiknik. Karena Bulek yang ada di mobil Kakak membawa tikar piknik dan banyak makanan. Zafa yang awalnya takut kotor, pas di Pantai Merah ini dia ga takut kotor. Dia dan dua sepupunya, Wizha dan Kenzie main pasir bahkan beberapa kali kena terjang ombak sampai basah kuyup dan kotor kena pasir.

Tak cuma bermain pasir, kami pun mengabadikan beberapa moment kebersamaan kami di sana. Bahagia tentunya, karena menjadi moment tak terlupakan bagi kami.

Complete Family Picture, minus para manantu. Gara-gara Saty menantu tak ikut, dua menantu lain ga boleh ikutan foto kasihan yang gak ikut, hehehe

Meskipun ada yang sedikit mengganggu, yaitu photo booth yang ada di bibir pantai  dan diperuntukkan untuk pengunjung itu. Kami sebenarnya tidak ingin berfoto di situ tapi sungguh menutupi background pantai merah yang indah. Photo booth pun tak gratis, lho. Setiap orang membayar Rp. 3000 jika ingin foto di situ. Katanya sepuasnya tapi bohonglah, saat kami foto ke tukang foto langsung jadi pun ternyata di luar saya bayar Rp. 120,000 untuk 4 foto ukuran A4 ternyata adek saya masih harus bayar lagi Rp. 3,000/orang.

Kami di sana sampai memasuki waktu Dzuhur. Karena lapar dan juga harus sholat kami memutuskan pulang. Dalam hati sih saya bertekad akan datang lagi untuk explore tempat wisata di Banyuwangi, apalagi Banyuwangi menjadi Top 10 destinasi wisata di Indonesia.

Belum tahu kapan mau ke Banyuwangi lagi karena kami yang haus jalan-jalan ini masih ingin explore tempat tinggal kami dahulu, yaitu Bali. Pantai Merah ini recommended banget dikunjungi. Sebenarnya dekat Pantai Merah ini juga dekat dengan pantai lain yang indah. Ada Pancer ada juga Sarong. Yuk, kapan-kapan kita explore Banyuwangi.

Advertisements

3 thoughts on “Pantai Merah, Hidden Heaven in Banyuwangi!

  1. Pasti senang kalau berkunjung ke tempat wisata ternyata tempatnya bersih, indah dan rapih seperti Pantai Merah itu.
    Saya belum pernah ke Banyuwangi nih Mbak. Moga satu waktu bisa kesana.

    Salam.

So what's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s