Verona

Beberapa jam Indra mencoba menyelesaikan lukisannya, namun tak nampak ada guratan-guratan menuju titik tertinggi di mana karya itu disebut selesai dan siap dinikmati. Pikirannya sedang jatuh pada gadis berjilbab yang sedang tertidur di kursi malas yang sengaja ia taruh di situ agar setiap selesai melukis dia bisa menghilangkan rasa penat di sana.

Gadis itu telah berubah, entah apa yang telah merubahnya. Kecantikannya semakin terpancar saat angin membuai wajahnya dan saat jilbabnya menutup sebagian wajahnya karena tertiup angin, hanya mata indah itu yang mampu dilihatnya membuat tangan Indra bergerak dan menghasilkan sebuah lukisan abstract “mata indah” yang sedang terkatup sangat indah seperti kelopak bunga, dan sangat damai.
Continue reading

Verona

“Kau percaya takdir?” tanya Verona pada sahabat yang selama ini membantunya untuk memperbaiki hidupnya kemarin sebelum ke rumah ber cat putih yang jauh dari kesan mewah seperti halnya rumahnya di pulau Dewata yang ditinggalkannya. Citra tersenyum sambil mengangguk pasti.
Continue reading

Verona

Tanpa suara Verona duduk di atas kursi malas yang berada hanya 3 meter di belakang sang pujaan hati yang sedang melukis, memperhatikan tangan-tangan kekar yang dulu pernah dicumbuhnya itu dari kejauhan sambil terus mencoba menerkah apa makna lukisan yang belum sempurnah itu, walau dia tetap tak mampu karena dia tak memahami seni. Pernah dia memaksa belajar seni agar bisa mendekati pria yang dipujanya itu namun dia semakin hopeless dan semakin gila karena tak mampu memahami lukisan juga kecintaannya terhadap lelaki yang sebenarnya sudah tak mudah lagi itu semakin bertambah. Ya, lelaki yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahnya.
Continue reading

Verona

VeronaAngin September tahun ini masih seperti September 2 tahun lalu, masih dingin dan sangat kuat menggoyangkan ranting-ranting kokoh pohon mangga tua yang masih kokoh berdiri di depan rumah kecil dengan dinding kayu bercat putih, dengan aneka bunga di sekelilingnya. Iya berdinding kayu tetapi sangat indah di dalam kesederhanaan, sangat indah di dalam harmonisasi warna-warna bunga di sekelilingnya, tak banyak kaca dan jendela, hanya satu di setiap kamarnya yang hanya ada 2 kamar di situ, lantai kayu yang sudah mulai usang, dan aroma cat yang akan tercium saat mulai memasuki rumah itu, semakin ke dalam aroma cat itu semakin tercium karena di halaman belakang sana ada seorang tampan yang senang sekali memainkan cat beraneka warna di atas kanvas.

Langkah-langkah kecil riang tanpa beban yeng menyusuri rerumputan di halaman itu kini berubah menjadi langkah anggun penuh peretimbangan, berjalan pelan, langkah anggun yang tak pernah terayun sebelumnya. Verona, pemilik kaki itu. Gadis cantik bermata sayu, dengan cekungan yang indah dan sedikit dalam, khas mata gadis latin, rona merah pipinya masih terlihat segar meski sebagian tertutup jilbab. Jilbab ungu yang dipadukan dress panjangnya dengan warna senada melambai-lambai tertiup angin, bibir tipisnya menyunggingkan senyum yang sangat manis, kini langkah kecewa saat meninggalkan tempat ini menjadi langkah yakin akan sebuah kebahagiaan yang selama ini dicarinya tentang sebuah cinta.
Continue reading

Perempuan Pembunuh

Dian mengayunkan pisau itu ke uluh hati Pramono berulang-ulang sampai Pramono tak sanggup lagi menahan udara yg ada di rongga dadanya agar bertahan di dalam ronggah paruhnya agar dia tetap hidup dan menyimpan oksigen untuk bernafas, namun Dian yang kesetanan tak memberinya ampun, hanya kemarahan yang nampak dari mata teduh dan biasanya penuh belas kasih itu. Pramono juga tak menyangkah perempuan selembut Dian mampu melakukan ini padanya…

“Dian saya minta tolong nanti antarkan makan siang buat Bu Lyan, ya?” Ungkap Pramono pada karyawan terbaik sekaligus sudah menjadi sahabat baginya.

Biasanya, walau dengan berat hati Dian akan menyanggupi permintaan Pramono. Tapi, entah kenapa pagi ini Dian merasakan sesak dalam hatinya sudah tak tertahankan, tak merasakah Pramono selama ini perhatiannya selama ini melebihi seorang bawahan ataupun sahabat? Sebodoh itu kah Promono menangkap sinyal-sinyal cemburu Dian setiap kali pembicaraan mengarah ke Lyan rekanan bisnis mereka. Ah….pagi ini benar-benar lain…ada kobaran amarah yang ingin keluar dari dadanya….

“Dian….” Ulang Promono karena dia hanya mendapatkan kebisuan Dian.

“Maaf, gak bisa” jawab Dian…

“Kok begitu? Katamu mau bantu aku dekatin Bu Lyan” ungkap Pramono ringan, Dian menahan sesak di dadanya….

“Iya, saya terpaksa…” Jawab Dian terputus..

“Dian….” Pramono setengah bergumam, menatap Dian tak mengerti.

“Bodoh, kalau sekali lagi kamu menyuruhku untuk mengantarkan makan siang untuk perempuan itu aku akan membunuhmu” jawab Dian dengan nada tinggi.

“Tapi, Dian….aku nggak ngerti…kamu, kamu kenapa??” Pramono tak mengerti….

“Aku mencintaimu, bodoh!” Tegas Dian.

“Nggak bisa begitu Dian….” Dan akhirnya mereka terlibat aduh mulut hebat sampai akhirnya Dian menghunuskan pisau ke uluh hati Promono karena penolakan Promono yang tak dapat diterimanya.

“Dian…” Promono menepuk bahu Dian pelan karena dia hanya mendapati kebisuan.

Dian mengangkat wajahnya, lalu tersungging senyum di sana.

“Baiklah Pram, tapi ini terakhir ya…” Jawabnya menahan sesak di dadanya.

“Kok begitu? Katanya…”

“Maaf, Pram…aku nggak bisa. Mulai hari ini aku resign” Dian memotong kalimat Pram lalu beranjak menahan air mata yang sudah menggenang dan tak mampu ditahannya dari tadi…

Sejatinya perempuan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa untuk menyembunyikan luka hatinya, dia mampu membunuh jika mau namun kelembutan hati yang dianggap kelemahan itu yang menjadi kekuatan untuk menutupi luka hatinya…

Perempuan yang dianggap lemah itu mampu membunuh…

 
#Saya bikin fiksi mini lagi!

Belahan Jiwa


Selembar kertas putih, bertuliskan tinta biru melambai-lambai ditangannya karena tertiup angin.

“Jadi ini bukan chemistry saat aku tahu kamu bisa membaca pikiranku.

Kupikir dulu, saat kamu mengatakan apa yang masih terlintas atau yang ada dalam otakku adalah…wow, we have chemistry, we got the same feeling.

Yaaa, aku kecewa tapi…rasa ini benar-benar sudah terlanjur tumbuh.

Aku jatuh cinta saat itu dan sampai saat ini. Kalau kau bisa membaca pikiranku, apakah kau juga bisa mengerti isi hatiku?

Dariku Gadis yang merindukanmu”

Bayang-bayang gadis barambut panjang yang beberapa bulan terakhir ini mengisi hari-harinya kian jelas. Rambut panjangnya yang melambai tertiup angin tapi hanya tampak dari belakang seakan tak sudi menatapnya kembali. Ah, menyesalpun tak ada gunanya karena dia telah memilih gadis lain untuk menjadi pendamping hidupnya dan membiarkan sang belahan jiwanya pergi….

“Kemana belahan jiwaku itu pergi? Kenapa saat itu aku tak mempercayai perasaanku, malah aku pikir itu hanyalah emosiku belaka, emosi seorang lelaki terhadap perempuan baik yang selalu menyemangati dan membuat hidupnya lebih berarti”

Dia melangkah gontai dan masih memegang erat kertas putih bertitahkan tinta biru itu.

Ah…akhirnya bisa nulis fiksi lagi setelah sekian lama imajinasi kelelahan, hehehhehehe

Tentang seorang Idola

Aku terkesan dengan ketegasannya dalam bertindak, aku terpesona dengan senyum anggun dan manisnya yang tetap menyimpan ketegasan, aku sirik dengan keliahaiannya bernegosiasi, sirik dalam artian; aku selalu memperhatikan apa yang dikatakan agar aku bisa tiru dan mau belajar darinya. Singkatynya, aku mengaguminya.

Aku mengagumi sosok itu sekian lama, hingga segala cerita buruk tentang dia yang masuk ke telingaku hanya seperti angin “wush” dan hilang begitu saja. Di samping aku memang tak pernah peduli dengan pendapat orang yang memberikan suatu penilaian, bukan hanya padanya tapi pada semua orang.

Waktu terus berjalan, aku merasakan sosok yang kukagumi itu ternyata sering berlaku sedikit curang. Tapi, ah sudahlah aku mengabaikan karena tak ada manusia yang sempurnah bahkan seorang idola seperti dia. Tentu saja idolaku.

Satu kecurangan, dua kecurangan, tiga kecurangan sampai pada hal-hal yang akhirnya terasa menyakitkan buatku. Dia mulai suka mencari-cari kesalahanku? Kenapa? Merasa tersaingikah? Bukankah aku masih mengaguminya? Mengidolakannya? Only, the matter of time jika kadang aku mendapatkan keberuntungan lebih baik.

Aku masih mengaguminya walau tak lagi mengidolakannya, karena kebaikan-kebaikan dia. She is one of the superior I met, one of teacher I should learn from.

#Hanya cerita fiksi tentang sosok idola. Kita pasti pernah mengidolakan seseorang dan kemudian kecewa dengan sosok idola kita, bukan? Bersyukur kalau tidka pernah kecewa 🙂 Ini hanya salah satu cuplikan cerita tentang itu….

Menunggumu..

Langit cerah menggantung indah, layaknya langit malam kemarin di saat aku sedang menantimu.

Alunan lagu cinta yang engkau dendangkan masih terngiang menyambut pagiku, kau memintaku untuk menjaga selalu hatiku sampai engkau kembali.

Gugusan awan putih membentuk gumpalan awan kerinduan yang akan menurunkan hujan di sana, di saat kau menatap langit dan kau akan rasakan butiran hujan itu adalah kerinduanku yang akan menyejukkan hatimu.

17 kuntum mawar merah masih menemaniku, semerbak harumnya masih kurasakan seperti tulusnya kasihmu.

Ujung Penantian

Langit jingga terpampang ribuan kilo meter di kejauhan sana, aku hanya mampu menikmatinya dari kursi ini, sendiri.

Aku menatapnya lekat, hingga akhirnya warna jingga itu menjadi warna pekat dan yang ada tinggalah gelap.

Malam kian merangkak, dan aku masih duduk di sini menikmati kesendirianku, menunggu pagi berharap dia berlari agar penantian ini segera berakhir.

17 kuntum mawar merah di atas meja ini masih segar karena engkau mengirimnya setiap minggu sekali melalui florist yang sudah engkau kenal, tahukah engkau saat orang dari florist membawa seikat mawar itu datang aku berharap orang itu adalah kamu…

Merah merona dengan semerbak wangi alami mengantarkan rasamu bertemu rasaku, hingga akhirnya hati kita menyatu…

Besuk adalah hari pernikahan kita, tapi kenapa waktu ini seakan tak mau tahu kalau aku di sini ingin segera kita bersatu?

Kasihku, saat bunga-bunga itu berdatangan padaku saat itu yakin bahwa engkau adalah pangeran yang dikirim untuk mengisi hari-hariku. Bersyukurlah kita pada-Nya yang telah mempertemukan kita bukan pada suatu kebetulan, melainkan rencana indah-Nya untuk kita.

Inilah ujung penantian kita, sayang…