Sepotong Luka Cinta



“Bruk” ah, ini ketidak hati-hatianku berjalan sambil melamun di jalanan seramai ini. Tak seharusnya. Seseorang dengan tinggi kira-kira 1.90m melihat ke arahku yg masih saja diam memaku padahal sudah menubruknya.

Aku mmencoba tersenyum, tapi sungguh sulit karena tak singkron dengan hati ini. Tapi, aku tahu ini tak benar.

“Couldn’t you see here?” Tanyanya, aku masih dengan senyum kaku mencoba mengeluarkan suara.
“Sorry, I wasn’t here…” Jawabku lirih dan sekenanya. Cowok tinggi berambut pirang itu terlihat tak suka…
“You….” Dia mencoba bicara mengacungkan buku di tangannya yang aku yakin dia sedang belajar bahasa indonesia.
“Maaf…” Ucapku lagi
“you kidding me, silly!” Umpat cowok tinggi pirang itu.
Continue reading

Puisi Cinta siapa (2)

Semenjak menemukan secarik kertas dengan puisi itu suamiku lebih banyak diam, aku dibuatnya salah tingkah. Bahkan saat di meja makan, dia tetap diam, tak seperti biasa yang selalu banyak cerita dan perasaanku pun jadi kacau balau.

Pagi ini dia semakin aneh, bagaimana tidak, masak dia menyiapkan air panas buat dirinya sendiri, biasanya aku semua yang melakukannya sebagai bentuk pengabdianku pada suamiku. Ah, aku semakin tak berani bertanya dan perasaanku semakin kacau.

Bercerita pada Mama aku tak mungkin, sebelum aku mencoba menyelesaikannya aku nggak akan meminta bantuan pada Mama atau siapapun.
Continue reading

Puisi cinta siapa?


Aku duduk bersimpuh di depan kardus besar berbau apek di mana aku menyimpan buku-buku lama dan berbagai kertas-kertas usang. Mengeluarkan setiap isinya satu persatu, membukanya, membacanya takut kalau masih penting sebelum aku membuangnya.

Tiba pada giliran pada sebuah buku notes kecil, ada sebuah amplop jatuh dari notes kecil yang berisi tentang jadwal dan catatan-catatan singkat tentang ungkapan amarah-amarah, ah….ini buku tentang luapan amarahku, tapi terlalu bagus jika disebut diary, karena ini hanya sebuah notes kecil.

Dan lagi, aku memungut amplop yang terjatuh dari notes yang terjatuh tadi. Amplop hijau yang belum pernah dibuka, pelan dan hati-hati aku membuka dan sedikit terkejut mendapati isinya secarik kertas putih polos berisi puisi. Continue reading

Saat saya bilang “cukup”

Saat itu saya berjalan menelusuri sebuah lorong gelap yang panjang, lorong itu sangat sepi dan menakutkan tapi anehnya saya tak punya perasaan apa-apa selain ingin melewatinya dan ingin tahu apa yang ada diujung sana karena saya dengar di sana ada sebuah taman indah dengan bunga-bunga yang wanginya semerbak dan yang membuat saya sangat antusias adalah di tengah-tengah taman itu ada air mancur yang indah dengan lampu warna-warni saat malam hari.
Continue reading

Tentang ketidak abadian

taken from Google dot com

“Rembulan masih indah malam ini, tapi aku sadar keindahannya tak hanya buat aku”

“Nad, bisa minta tolong bilangin ama Mamaku kalau aku malam ini pulang telat” papar Citra sepupuku sembari sedikit berlari meninggalkan aku di bangku kantin mengejar teman-temannya, aku mengangguk pelan seraya tersenyum. Tiba-tiba Citra kembali lagi.
“Hampir lupa, Nad…beliin donat buat Mama, ya?” bisiknya pelan
“Emang tante nitip minta dibeliin, ya?” tanyaku. Citra menggeleng kuat.
“Tidak, tapi kalau hari Jum’at begini Mama suka menghabiskan waktu membaca buku sambil nyemil, kan Sabtu Mama nggak kerja dan cemilan kesukaan Mama itu donat. tapi inget, ya donat yang coklat kacang” papar Citra panjang, aku diam saja mendengarkannya, hati ini rasanya ngiluh mendengar cerita itu.
“Donatnya beli di bakery ujung jalan deket perempatan itu ya!” tambah Citra lagi. aku mengangguk.
“Ok!” jawabku seperlunya
“Thanks ya Nad, kamu baik dech..” seloroh Citra sebelum pergi…
Continue reading

Langit masih biru

Dicuri dari Dumage dot com

“Langit masih biru sayang” gumam Bagas pelan…
“Dan akan selalu biru kecuali Tuhan berkehendak lain” sahut Tiara cepat, lalu beranjak dan melangkah meninggalkan Bagas dengan segera.
“Tiara! Kenapa kamu bersih keras meninggalkanku, kau akan tahu suatu saat bahwa akulah satu-satunya pria yang mencintaimu! Karena tak seorangpun yang bisa mencintaimu sebesar aku mencintaimu” teriak Bagas yang tak dapat terdengar dengan jelas oleh Tiara karena langkahnya yang semakin jauh…
“Kamu tak pernah tahu, Gas..aku sangat menyayangimu. Aku selalu berharap lelaki pendampingku itu adalah kamu, namun kamu terlalu lemah untuk membuat keputusan segera menikahiku” gumam hati Tiara…air matanya membasahi matanya indahnya….
Continue reading

Dasrun menjadi terkenal!

Di episode ke-4 lalu di blognya Mbak Titik diceritakan dasrun mengikuti kontes menulis cerita fiksi berhikma atau KUCB di BlogCamp demi mendapatkan uang untuk biaya berobat anaknya, Rama.

Apakah akhirnya Dasrun bisa memenangkan kontes itu? Apakah malah Iyha yang bekerja untuk membantu perekonomian keluarga mereka? Baca kisah selanjutnya yah…. Continue reading

Pelajaran dari sebuah luka


Aditya bingung, tercengang tapi juga pasrah tak bisa berbuat apa-apa lagi membiarkan begitu saja ibu tua itu membersihkan luka ditangannya…

Sambil menahan perih dia bertanya:

” Ibu, kenapa Ibu mau menolong saya? Sedangkan orang lain menghujat dan menyumpahi saya ”

Si Ibu hanya tersenyum, sangat bersahaja sambil terus membersihkan luka Aditya yang ternyata lumayan parah. Aditya semakin penasaran dengan Ibu itu, sambil meringis menahan sakit Aditya bertanya lagi:
Continue reading

Bagus buat Anggun


Kamar Anggun, 19 January 2011


Anggun menghela nafas panjang, menatap monitor kecil ponselnya. Deretan nomer yang pemiliknya telah mengusik mengacak-acak hatinya, ada percakapan di dalam ruang hatinya.

“Aku harus bertanya, aku harus menanyakan kabarnya, karena aku khawatir”

tapi saat beberapa huruf sudah di ketiknya, sisi hatinya yang lain langsung berteriak!

“Tidak! Jangan meng-SMS nya…untuk apa? dia tak membutuhkanmu kini, dia sudah kembali lagi pada kekasihnya itu”

Anggun pun segera menghabus deretan kata yang sudah di ketiknya itu, dia menghela nafas panjang.

“Anggun, tidakkah kau mengkhawatirkannya? bukankah kau tulus menyayanginya?” hatinya berkata lagi, dia semakin gelisah…

“Kamu itu bodoh atau apa sih? Kamu telah mengorbankan banyak waktu untuknya, tapi apa yang dia berikan padamu? dia hanya mencarimu saat dia butuh” Hatinya yang lain memprovokasi, Anggun melempar ponselnya ke kasur, lalu berteriak..
Continue reading

Kesempurnaan


“Kesempurnaan bukanlah keadaan melainkan cara berpikir”

Quote singkat ini aku ambil dari buku yang aku dapat dari PakDhe di Blogcamp. Saat membaca buku ini, aku sedang terobsesi sekali pada kesempurnaan.

Ah, mungkin aku sedang lupa saat itu bahwa semua itu berasal dari pikiran kita. Meski itu suatu tragedy jika kita melihatnya sebagai suatu pembelajaran berharga yang membuat kita lebih bijak, betapa sempurnahnya keadaan itu.

Kesempurnaan itu adalah kita saat ini, saat berada di sini dengan orang-orang yang menyayangi kita, dengan pekerjaan kita saat ini, dengan apa yang kita lakukan saat ini. Saat ini, kita di sini.

Sungguh ALLAH memang tak pernah datang lebih awal dan terlambat dengan pertolongan dan rahmadnya, DIA selalu tepat waktu.

Hanya ini, untukku yang kemarin lalai dan terobsesi pada kesempurnaan.